Sebuah forum diskusi digelar di Nuanu Creative City pada awal Maret 2026 untuk menyatukan visi para tokoh gastronomi terkemuka dalam menjaga keunggulan kompetitif Bali di kancah internasional.
Bali tidak lagi sekadar destinasi; ia adalah episentrum gastronomi global yang terus berevolusi. Di tengah keriuhan kulinernya yang kian diakui dunia, sebuah babak baru sedang ditulis—bukan di dapur, melainkan melalui dialog mendalam di Nuanu Future Talks: Gastronomy Leaders.
Digelar di kawasan Nuanu Creative City, forum ini menjadi magnet bagi para "titan" industri. Daftar panelis yang hadir mencakup tokoh-tokoh berpengaruh lainnya, di antaranya: Chris Smith (7AM, Red Gun Powder, Woods), Wayan Kresna Yasa (Home by Chef Wayan dan Kaum at Potato Head), Elvira Wijsen (BTIC), Nic Vanderbeeken (Apéritif), Vinny Lauria (Osteria Della Terra), Dean Keddel (BRCA, Ginger Moon, Jackson Lily’s), Andrés Becerra (Santanera, Lennys Bali), Jordie Strybos (Milk & Madu, Banksia Hospitality), Emerson Manibo (Baro), Tim Stapleford (Ghost), Francesco Paco Angeloni (Amici, Samesa), Ayu Sudana (Bali Beans Coffee & Roastery), Sophie Digby (PT East West Palms; Co-Founder BTIC), Daniel Natali (Seniman Coffee), Terje Nilson (Seven Stones Indonesia, BTIC), serta penulis boga terkemuka dari Australia: Alexandra Carlton, Max Brearley, dan Max Veenhuyzen.

Above Para pembicara di Nuanu Future Talks: Gastronomy Leaders

Above Nuanu Future Talks: Gastronomy Leaders membahas peran Bali sebagai episentrum gastronomi Asia
Mereka tidak sekadar berbagi resep, melainkan merumuskan fondasi bagi masa depan industri food & beverage di Pulau Dewata. Dalam tajuk utamanya, Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City, menekankan sebuah filosofi yang elegan: "conversation must precede construction."
"Yang terpenting hari ini adalah mempertemukan orang-orang yang tepat di ruangan yang sama," ungkap Kroll. Baginya, mendengarkan para pemimpin yang membangun kancah kuliner Indonesia adalah strategi terbaik sebelum membawa Bali ke panggung dunia yang lebih luas.
Sentimen serupa digaungkan oleh chef Wayan Kresna Yasa. Sebagai putra daerah yang telah melanglang buana, ia mengingatkan bahwa inovasi tanpa akar adalah kesia-siaan. "Masa depan gastronomi Bali bergantung pada kemampuan kita untuk berinovasi tanpa kehilangan jati diri," tuturnya penuh kehangatan.
Baca juga: Tatler Best Indonesia 2025: Malam apresiasi untuk pelaku hospitality terbaik

Above Nuanu Future Talks: Gastronomy Leaders membahas peran Bali sebagai episentrum gastronomi Asia
Memperkenalkan Sutala: distrik kuliner masa depan di Bali
Puncak dari pertemuan ini adalah penyingkapan Sutala, distrik kuliner terbaru yang akan menghuni lahan seluas 44 hektare di dalam Nuanu. Nama "Sutala" diambil dari filosofi lapisan alam dalam budaya Bali, melambangkan landasan yang kokoh dan kesinambungan.
Lebih dari sekadar infrastruktur, Sutala dikonsepkan sebagai ekosistem yang hidup. Kelak, akan ada lebih dari 60 penyewa (tenant) yang dikurasi secara ketat, menghindari konsep generik. Distrik ini dirancang untuk menghadirkan restoran yang dipimpin oleh narasi personal para koki serta pengalaman bersantap yang imersif, sekaligus menjadi ruang komunal bagi para pencinta rasa untuk berkumpul dan merayakan kreativitas.
Baca juga: Menginap di Oshom Bali, hotel butik untuk beristirahat dan berkarya di Nuanu Creative City

Above Image rendering Sutala, distrik kuliner masa depan di Bali
Keberhasilan forum ini tak lepas dari dukungan para mitra strategis seperti Putra Surya Internusa, Chalista Mandiri Energy, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PT Gagas Energi Indonesia, PT Hatten Bali Tbk, dan Riedel The Wine Glass Company. Dukungan ini mencerminkan pemikiran jangka panjang; bahwa untuk tumbuh secara berkelanjutan, industri kuliner membutuhkan tata kelola yang kuat dan infrastruktur modern tanpa meninggalkan kearifan lokal.
Di titik balik perkembangannya, Bali kini memiliki arah yang lebih jelas. Melalui kolaborasi di Nuanu, masa depan gastronomi kita bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan sebuah warisan yang sedang dipersiapkan dengan penuh presisi dan rasa hormat terhadap tradisi.





