Cover Tumbuh di tengah adat tradisi dan modernitas, Ida Ayu Astari Prada menemukan kekuatannya sebagai penghubung dua dunia (Foto: Muhammad Fadli)

Di balik visi dan strategi komunikasi Nuanu, Ida Ayu Astari Prada merangkai kembali hubungan antara tradisi dan inovasi dengan sentuhan keberanian generasi baru Bali

Pagi itu di Library Room, Hotel Dharmawangsa Jakarta, sinar matahari menembus lembut dari jendela kaca. Secangkir teh jahe baru saja tersaji. Ida Ayu Astari Prada atau yang akrab disapa Prada muncul dengan energi percaya diri dan senyum hangat. Obrolan langsung bergulir lancar. Dari setiap kalimat yang mengalir, Prada tampak terbiasa menjembatani dua dunia sekaligus: berakar pada tradisi dan keluarga yang menjadi jangkarnya sekaligus mengarungi dunia yang terus bergerak cepat. 

Baca juga: Nuanu Creative City: Menenun masa depan kreativitas di jantung Bali

Tatler Asia
Above Ida Ayu Astari Prada, suara generasi baru Bali yang menjembatani warisan leluhur dan inovasi berkelanjutan
Tatler Asia
Above Menjadi jembatan dua dunia adalah kekuatan Prada

Dua Dunia, Satu Akar

Tumbuh di keluarga Bali yang sarat tradisi dengan latar belakang pariwisata, Prada menyaksikan langsung bagaimana modernitas dan tradisi bisa hidup berdampingan, meski kadang terasa bertentangan, kadang beriringan. Ia menempuh pendidikan internasional, bergaul dengan teman dari berbagai negara, tapi pulang ke rumah adat Bali yang dikelilingi pura dan ritual harian.

“Teman-teman di sekolah, tak ada yang paham tradisi yang kujalani. Di rumah pun, tak ada yang mengerti duniaku di luar,” katanya sambil tersenyum mengenang masa kecil. “Dulu rasanya sangat struggling. Why does no one understand? Where do I fit in? Sekarang aku tahu, menjadi jembatan adalah kekuatanku.”

Tatler Asia
Above Ida Ayu Astari Prada
Tatler Asia
Above Tradisi yang menjadi sumber energi bagi generasi baru seperti Prada.

Kata “jembatan” berulang kali muncul dalam percakapan dengannya. Bagi Prada, itu bukan sekadar metafora, melainkan panggilan hidup. Ia tumbuh di antara tradisi yang sarat makna dan dunia modern yang seringkali menuntut efisiensi. Kini, ia menjadikan keduanya fondasi bagi peran profesionalnya sebagai Brand and Communication Director di Nuanu yang terletak di Tabanan dan berambisi membangun ekosistem kreatif serta berkelanjutan.

Kembali ke Bali, Menemukan Arah

Di masa pandemi, Prada yang saat itu tengah berkuliah di Melbourne, harus pulang ke rumah. Sang ibu, Ida Ayu Oka Bulan Trisna,tengah melawan kanker. Kala itu Prada mengakrabi rumah sakit untuk menemani ibunya sambil menyelesaikan kuliah daring. Akhirnya setelah sembilan bulan berjuang melawan kanker, sang ibu meninggal dunia. 

Ia mengaku tahun 2021 hingga 2022 adalah tahun terberat baginya.  “Mama adalah sahabat sekaligus inspirasi saya, termasuk inspirasi urusan fashion,” kenangnya lembut. “Dia perempuan cerdas dengan selera klasik, hampir semua yang saya miliki adalah peninggalannya.”

Saat ini sosok ayahnya, Ida Bagus Agung Partha Adnyana, juga berperan menjadi sosok ibu sekaligus bagi Prada. “Ayah saya juga menjadi mentor terbaik dalam hidup. Saya banyak diajarkan untuk menjadi jembatan antara tradisi dan masa kini dalam konteks pariwisata,” terang Prada.

Tatler Asia
Above Ida Ayu Astari Prada bersama sang ayah, Ida Bagus Agung Partha Adnyana sosok yang dikagumi sekaligus mentor hidup baginya

Baginya, keluarga selalu menjadi pusat dari segala hal. Ia tumbuh di lingkungan besar yang saling terhubung: kakek, nenek, paman, dan sepupu tinggal berdekatan, berbagi ruang dan ritme kehidupan. “Kami keluarga yang selalu bergerak maju, tapi tidak pernah lupa tradisi,” ujarnya. 

Tatler Asia
Above Potret tiga generasi

Nilai kemandirian ia dapatkan dari mendiang ibu dan juga neneknya, Ida Ratu Pedanda Istri Agung Patni Ngenjung. Kemandirian adalah hadiah terbesar, maka perempuan harus mendapat pendidikan yang baik.

Tatler Asia
Above Ida Ayu Astari Prada bersama sang nenek, Ida Ratu Pedanda Istri Agung Patni Ngenjung
Tatler Asia
Above Warisan sejati yang hidup dari nilai dan kebersamaan setiap hari.

Meski tahun 2022 jadi tahun yang berat, namun tahun itu juga menjadi titik balik besar: Prada menemukan Nuanu. Sebuah proyek yang saat pertama kali ia dengar terasa “terlalu besar, terlalu ambisius.” Tapi justru di situlah ia menemukan ruang untuk menyatukan nilai-nilai yang ia yakini: keluarga, budaya, dan kemajuan.

Di awal bergabung, Prada banyak mengurus komunitas, lagi-lagi menjadi jembatan antara masayarakat lokal dan tim internasional. Perempuan berusia 26 tahun ini mengaku memiliki kekhawatiran tersendiri karena dirinya terbilang muda memimpin brand dan komunikasi Nuanu secara keseluruhan. Namun ia percaya bahwa kepemimpinan yang baik melewati proses. “Dari situ aku belajar bahwa komunikasi terbaik adalah yang dilandasi rasa hormat dan rasa hormat didapat dari keteladanan,” ujarnya. Kegelisahannya tentu tak beralasan dan membuktikan bahwa usia tak membatasi dirinya berkembang.

Nuanu: Community for Communities

“Kami terinspirasi dari banjar—di mana tidak ada satu orang pun yang berjalan sendirian.” Proyek seluas 44 hektare itu berkomitmen hanya mengembangkan 30 persen lahan, sisanya didedikasikan untuk ruang hijaui. Filosofi Bali, Tri Hita Karana hubungan harmonis antara manusia, alam, dan yang Ilahi menjadi fondasi di setiap keputusan.

Prada menjelaskan bagaimana konsep ini diterjemahkan dalam struktur sosial dan bisnis. Melalui Nuanu Social Fund, lima persen dari pendapatan Nuanu disalurkan untuk program sosial dan lingkungan untuk komunitas setempat. “Kami ingin membuktikan bahwa doing good is a good business model,” katanya tegas.

Mengelola puluhan proyek di bawah satu brand tentu bukan tugas ringan. “Kami punya lebih dari 30 proyek—dari seni, pendidikan, hingga konservasi alam,” jelasnya. “Semua berbeda, semua punya karakter. Tantangannya adalah menjaga agar semuanya tetap selaras.”

Ia bercerita bagaimana butuh delapan bulan untuk menyusun brand book setebal 136 halaman yang menyatukan visi besar Nuanu. Tapi di balik kerja sistematis itu, ia tidak menolak ruang bagi spontanitas dan eksperimen. “Kreativitas selalu sedikit kacau,” katanya sambil tertawa. “Tapi kalau kita punya kompas yang jelas—nilai yang kita pegang—kekacauan itu justru melahirkan hal indah.”

Kompas itu, baginya, adalah Bali itu sendiri. “Saya selalu berpikir tentang Bali setiap kali menyusun strategi. Apakah ini membawa manfaat bagi tanah ini? Apakah ini memberi kontribusi yang baik? Itu moral compass saya.”

Tatler Asia
Above Di antara karya instalasi di Nuanu

Warisan yang Hidup

Di Sanur, tempat ia tumbuh dan kini masih menetap, rumah keluarga Prada adalah dunia kecil yang berdenyut oleh tradisi dan kebersamaan. Sebuah rumah adat Bali keluarga Brahmana yang menjadi rumah bagi tiga generasi: kakek, nenek, paman, sepupu, dan keluarganya sendiri. “Ada pura, ada merajan, tempat sembahyang keluarga,” ujarnya. “Di belakang, ada ruang khusus di mana para perempuan sepuh membuat canang sari setiap pagi. It’s such a lively complex.

Tatler Asia
Above Prada bersama neneknya di rumah keluarga di Sanur, ruang tiga generasi hidup berdampingan

Ritual itu bukan hanya bentuk persembahan, tapi juga ruang kebersamaan dan terapi alami bagi para ibu dan nenek. “Itu cara kami menjaga budaya sekaligus kesehatan mental mereka,” katanya diiringi senyum. “Mereka tetap aktif, bersosialisasi, dan setiap hari merasa punya peran.”

Dari lingkungan seperti itulah Prada belajar bahwa warisan sejati bukanlah sesuatu yang statis. “Kami belajar dari leluhur, tapi bekerja untuk masa depan,” katanya.

Tatler Asia
Above Sesajen yang disiapkan dengan tangan penuh kasih, simbol harmoni antara manusia, alam, dan yang Ilahi

Sebelum menutup percakapan, Prada mengutip pesan dari neneknya yang terus ia pegang: meraihlah setinggi langit, tapi selalu ingat di mana kakimu berpijak.

Kalimat itu seolah merangkum seluruh perjalanan hidupnya, seorang perempuan Bali yang membangun jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara manusia dan alam, antara idealisme dan tindakan nyata.

Credits

Fotografi: Muhammad Fadli