Cover Lebih dari sekadar ikon hiburan, Ayu Dewi adalah suara yang mengangkat isu perempuan dengan kehangatan (Foto: Hariono Halim)

Di balik tawa yang menghibur jutaan orang, Ayu Dewi merangkai humor, empati, dan integritas menjadi kekuatan yang menginspirasi di panggung dan kehidupan

Di balik tawa yang begitu ikonik dan pesona yang tak pernah redup, Ayu Dewi menyimpan filosofi hidup yang lebih dalam dari yang tampak di layar kaca. Dalam perbincangan eksklusif bersama Tatler Indonesia, perempuan yang dikenal sebagai pembawa acara, ibu, dan entrepreneur ini mengajak kita menyelami bagaimana ia meramu humor menjadi kekuatan penyembuh, kekuatan memimpin, dan kekuatan mencipta.

Sebagai seorang ibu dari anak perempuan, Ayu memaknai warisan bukan sekadar materi atau ketenaran. Ia ingin menanamkan nilai bahwa perempuan bisa menjadi apapun tanpa harus kehilangan hati dan identitasnya. “Dari hak bekerja sampai ruang aman di industri hiburan, perempuan masih harus bersuara keras untuk didengar,” ungkapnya

Baca juga selengkapnya: Advokasi Jerhemy Owen untuk kesadaran lingkungan: Menginspirasi generasi muda untuk bertindak

Dari hak bekerja sampai ruang aman di industri hiburan, perempuan masih harus bersuara keras untuk didengar

- Ayu Dewi -

Keterlibatannya dalam berbagai isu perempuan berakar dari pengalaman pribadi dan kepedulian yang autentik. Di industri hiburan yang penuh tekanan, ia terus menyuarakan pentingnya ruang aman dan kesetaraan hak. Menurutnya, kesetaraan kesempatan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai, dan ia ingin tetap menjadi bagian dari suara yang memperjuangkannya.

Di tengah ekspektasi publik dan sorotan yang konstan, Ayu justru memilih untuk memimpin dengan keterbukaan dan kerentanan. Baginya, membagikan cerita tentang kegagalan dan perjuangan justru menjadi jembatan untuk terhubung dengan orang lain. Ia ingin masyarakat tahu bahwa tidak harus selalu kuat untuk bisa dihargai.

Menjalankan peran sebagai ibu, pembawa acara, sekaligus pebisnis, Ayu tak percaya pada konsep ‘keseimbangan sempurna’. Baginya, kuncinya ada pada kehadiran yang utuh dalam setiap peran. Ia hadir sepenuhnya dimanapun ia berada—menjadi ibu, host, atau entrepreneur, sesuai konteksnya.

Sebagai figur publik di era digital, Ayu menyadari pentingnya menjaga keaslian dalam dunia yang dikendalikan algoritma. Ia tidak mengejar semua tren, melainkan memilih yang sejalan dengan nilai hidupnya. Menurutnya, kejujuran akan tetap menemukan audiensnya, bahkan ketika algoritma berubah.

Meski terbuka pada teknologi, ia tetap memegang kendali atas proses kreatifnya. Ia menggunakan AI sebagai alat bantu, terutama untuk brainstorming, tapi sentuhan akhir selalu berasal dari pengalaman dan intuisi manusia. Rasa, ekspresi, dan kehangatan tidak bisa diprogram.

Di tengah kesibukan tampil di depan publik, Ayu punya ritual khusus untuk merasa prima—bukan hanya cantik luar, tapi juga utuh dari dalam. Salah satu perawatan andalannya adalah Body Rejuvenation di ZAP, yang menggunakan teknologi ZPL canggih untuk mencerahkan dan menghaluskan kulit seluruh tubuh dengan hasil yang langsung terlihat, minim rasa tidak nyaman, dan tanpa downtime.

Bagi Ayu, kecantikan di fase hidupnya kini berarti nyaman dengan diri sendiri. Kulit sehat, senyum tulus, dan hati yang tenang adalah bentuk kecantikan paling mahal.

Ayu Dewi bukan hanya membawa tawa bagi jutaan orang. Ia membawa kedalaman, empati, dan integritas—sebuah perpaduan langka di tengah dunia yang kian terpolarisasi. Dan dalam dunia di mana segalanya bisa direkayasa, keaslian seperti inilah yang tetap menjadi kemewahan sejati.

Credits

Fotografi: Hariono Halim
Pengarah gaya: Vanie Astecat
Arahan mode: Hans Hambali
Penulis: Judithya Pitana
Riasan: Maharani Nilla
Rambut: Arnold Dominggus
Asisten pengarah gaya: Balo Arenthus Lie, Afiat Nurhasan
Pakaian: Hian Tjen
Perhiasan: Bvlgari