Cover Jerhemy Owen memulai perjalanan karirnya sebagai content creator pada 2020. (Foto: Andre Wiredja untuk Tatler Indonesia)

Jerhemy Owen menggunakan sosial media untuk memberikan pengaruh positif agar lebih peduli terhadap lingkungan.

Berlatar belakang edukasi yang mumpuni, Jerhemy Owen secara aktif mengangkat isu-isu lingkungan di Indonesia lewat sederet konten-kontennya yang dibungkus secara kasual. Lulus dari Avans University of Applied Science, Breda, Belanda, jurusan Teknologi Lingkungan dan Energi Terbarukan ini mengambil aksi untuk berkontribusi lebih sebagai content creator dengan mengedukasi pengikutnya serta masyarakat umum tentang sejarah dan budaya yang dirajut apik dengan isu lingkungan. 

Ia kerap mencuri perhatian. Pembawaannya yang santai serta pemilihan bahasa Indonesia yang mudah dimengerti menjadi ciri khas yang ditampilkannya secara konsisten. Dampaknya, meski informasi yang disampaikan cukup berat, kontennya masih dapat dinikmati karena menyenangkan, tidak berjarak, serta diselipkan narasi penuh makna.

Baca juga: From track to tech: Meet Mench Dizon, the marathoner pushing a digital future for Filipinos

Tatler Asia
Above Jerhemy Owen. (Foto: Andre Wiredja for Tatler Indonesia)

Di tahun 2020, Owen, panggilan akrabnya, memberanikan diri untuk mengunggah konten video tentang jalan-jalan bersama keluarga. Sederhana sekali, hanya ingin mengabadikan memori. Tanpa disangka, konten ini disukai banyak orang, menggaet banyak penonton. Kejadian itu mendorongnya semakin aktif mengunggah konten tentang kesehariannya. Tidak ada spesifikasi, materi hanya sebatas perihal kegiatan sehari-hari yang bertepatan dengan persiapan melanjutkan studi di Belanda. 

Dalam perjalanan mencari branding yang tepat, kontennya perlahan beralih ke arah edukasi, yaitu mengenai kultur pelajar di Belanda selama ia tinggal di sana, dua tahun lamanya. Kondisi ini sukses menggaet pengikut sebanyak 1,3 juta. Namun, walaupun sudah meraih pencapaian luar biasa di perjalanan kariernya sebagai content creator, Owen merasa belum terpenuhi.

Perjalanan tiap orang yang berbeda

Berkiprah pada industri yang berpegang pada kekuatan algoritma media sosial, Owen sempat mengalami tantangan yang memotivasinya untuk membuat akun baru. Momen ini dijadikan peluang melahirkan branding yang sejalan dengan pengetahuan dari kuliah yang diembannya. Selayaknya menuai buah pemikiran, di pertengahan 2022, tema lingkungan disematkan pada akar setiap kontennya. Tak hanya itu, ia rajin membahas sejarah Indonesia dan Belanda, serta budaya. 

Dari sini, ternyata cakupannya semakin luas, banyak orang yang menyukai konten edukasi yang digarap Owen. Hal ini juga didukung oleh adanya urgensi peduli bumi dan lingkungan di kalangan generasi muda. Sayangnya, dari survei yang iseng ia adakan, hanya 15-20% yang sungguh-sungguh melakukan sesuatu. Oleh karena itu, di tahun ini, Owen berencana untuk mewujudkan gerakan tanam pohon. Tidak biasa, proyek ini diharapkan bisa terintegrasi bersama penonton videonya. Belum lagi, ia memiliki mimpi sejak bertahun-tahun lalu, yaitu memasang panel solar di desa-desa yang membutuhkan, pun ingin ia realisasikan segera. 

arrow left arrow left
arrow right arrow right
Photo 1 of 2 Erika Richardo dan Jerhemy Owen. (Foto: Andre Wiredja for Tatler Indonesia)
Photo 2 of 2 Erika Richardo dan Jerhemy Owen. (Foto: Andre Wiredja for Tatler Indonesia)

Ia pribadi sangat menghargai tiap proses edukasi masyarakat terkait lingkungan karena baginya proses antara satu orang dengan yang lainnya pasti berbeda. “Pasti nggak nyaman kalau langsung berubah, tapi langkah kecil aja dulu. Menjadi orang yang 100% sustainable itu susah sekali,” lanjutnya. Bagi Owen the least we can do adalah sesederhana menjadi pribadi yang lebih sustainable dibanding hari kemarin. 

Didasari oleh pemahaman itu, ia mencoba mengedukasi orang banyak bahwa kuncinya ada di menemukan titik keseimbangan, dan setiap orang memiliki perjalanannya sendiri. Secara global, memang sudah ditetapkan berbagai regulasi yang mendukung, bahkan tertulis target angka seperti yang tertera pada Paris Agreement. Bagi Owen, target tersebut akan terasa lebih mudah dicapai bila kita fokus pada pencapaian subtil; selaras nan seimbang dengan kondisi sekitar. 

Ada 3 pilar sustainability. People, profit, planet. Ini harus seimbang. Sudah banyak contoh kasus negara yang mementingkan ekonomi dan akhirnya mengalami kerugian lingkungan yang lebih besar. Backfire, kan, jadinya

- Jerhemy Owen -

Impresi rasional dan subtil sembari menyuntikkan isu lingkungan tak bisa dipungkiri menjadi ‘tangga’ yang mengangkat namanya di berbagai platform sosial media. Bahkan, di bulan November silam, Owen terpilih sebagai salah satu panelis pada COP 2029—konferensi internasional khusus lingkungan dan perubahan iklim di Baku, Azerbaijan. Lewat sederet pengalamannya berelasi dengan beragam manusia dari berbagai negara, ia sadar bahwa kita tidak semestinya hidup di dalam ‘bubble’. Sepatutnya kita harus menghargai perspektif tiap orang. Tidak diharuskan mengikuti, namun membuka pikiran serta bersikap menerima realitas di mana dunia ini dipengaruhi banyak aspek dalam melahirkan sebuah pemikiran. Diibaratkan sustainability bagaikan iman. Menurutnya, perjalanan tiap pribadi dalam hidup berkelanjutan tidak bisa dibandingkan karena hanya diri sendiri lah yang mengerti. 

Credits

Fotografi: Andre Wiredja
Pengarah gaya: Hans Hambali
Riasan: Vani Sagita
Rambut: Mellenia
Pakaian: Sejauh Mata Memandang, Sejauh Mata Memandang x Adrian Gan, Sejauh Mata Memandang x Eko Nugroho, Tanah le Saé

Topics