Cover Mel Ng dan Kelly Spoon Chan, dua pendiri Rumah, brand kue lapis modern di Hong Kong yang mengangkat budaya Indonesia lewat cita rasa, desain, dan storytelling

Di tangan Rumah, kue lapis bertransformasi jadi obyek desain yang tak hanya memanjakan mata, tapi juga menyuarakan semangat baru: bahwa warisan kuliner Indonesia layak tampil modern

Kelly Spoon Chan dan Mel Ng adalah duo di balik Rumah. Berangkat dari sebuah keresahan personal, terutama bagi Kelly, seorang perempuan Indonesia yang harus pindah dari Indonesia ke Hong Kong di saat dirinya berusia tiga tahun. Rumah kemudian menjadi bentuk ekspresi, perlawanan, dan juga pelukan terhadap budaya yang selama ini terasa terasing. Melalui kue lapis 18 lapisnya yang ikonik dan pendekatan desain yang modern, Rumah tak hanya menjual rasa tapi juga identitas dan cerita.

Rumah ingin membuktikan bahwa jajanan tradisional Indonesia bisa pula diterima dan berkibar di luar "rumah". 

Baca juga: Buku masak COMO Simple: Merayakan rasa, warisan, dan keintiman kuliner

Tatler Asia
Above Aneka kue lapis original buatan Rumah
Tatler Asia
Above Kue talam (seri muka) yang tampil cantik dan modern

Bagaimana ide Rumah pertama kali tercetus?

Kelly: Semuanya berawal dari perayaan Imlek tahun 2023 lalu. Sebagai orang Indonesia yang besar di Hong Kong, saya tumbuh dengan kesadaran bahwa budaya kami sering kali tidak dikenali atau bahkan disalahpahami dibanding negara-negara Asia Tenggara lainya. Rumah lahir dari dorongan untuk mengubah persepsi itu—untuk memperkenalkan budaya Indonesia secara lebih segar dan inklusif lewat medium yang universal: makanan.

Kalian berasal dari latar belakang yang berbeda—Kelly di dunia digital, Mel di industri F&B. Bagaimana itu memperkaya Rumah?

Mel: Kami selalu bilang, Kelly adalah “jiwa” dari Rumah, saya “badan”-nya. Kelly merancang narasi, estetika, dan produk, sementara saya memastikan semua itu bisa diwujudkan secara operasional, dari kemasan sampai logistik. Kolaborasi kami sangat organik dan saling melengkapi.

Rumah bukan sekadar merek makanan, tapi sebuah gerakan untuk mengangkat budaya Indonesia lewat sudut pandang seorang anak lintas budaya. Setiap keputusan, mulai dari desain, kemasan, hingga kolaborasi selalu mengandung sentuhan Indonesia baik secara implisit maupun disengaja.

Tatler Asia
Above Berdua berkolaborasi membangun Rumah yang berumah di Hong Kong

Kenapa memilih kue lapis sebagai produk pertama dan kemudian jadi signature item?

Kelly: Justru karena kue lapis dulunya bukan favorit saya. Teksturnya terlalu berminyak, rasanya terlalu manis. Tapi justru itu jadi tantangan kreatif: bisa tidak kue ini diubah jadi sesuatu yang lebih ringan, elegan, dan modern tanpa menghilangkan jiwanya? Hasilnya adalah kue lapis 18 lapis versi Rumah dengan tekstur seperti mochi dan tampilan gradasi visual yang sangat kami banggakan.

Kami butuh waktu sekitar tiga bulan untuk riset dan pengembangan sampai akhirnya menemukan formulasi yang pas. Tujuannya adalah tetap menghormati resep asli, tapi membuatnya lebih menarik bagi generasi muda masa kini. Gradasi warnanya yang cantik mencerminkan nilai-nilai Rumah: detail, keseimbangan, dan tampilan yang modern. 

Tatler Asia
Above kue lapis yang awalnya bukan menjadi jajanan favorit Kelly, kini menjadi produk unggulan Rumah

Apa tantangan terbesar dalam memodernisasi jajanan tradisional?

Kelly: Menjaga jiwa makanan itu tetap utuh. Kami tak mengubah bahan dasarnya, tapi memilih versi yang lebih baik. Misalnya santan berkualitas tinggi atau tepung yang lebih halus. Kami ingin makanan ini tetap terasa familiar, tapi dengan pengalaman yang telah disempurnakan.

Bagaimana respons masyarakat Hong Kong terhadap Rumah?

Mel: Sangat positif, bahkan di luar ekspektasi kami. Budaya Indonesia belum terlalu dikenal di Hong Kong, tidak seperti budaya Malaysia atau Korea, misalnya. Jadi kami sempat ragu apakah orang-orang akan tertarik dengan konsep ini, apalagi karena kami menyajikan kue tradisional dalam format yang lebih modern dan premium. Tapi ternyata, saat kita membawa sesuatu dengan ketulusan dan kualitas, orang bisa merasakannya. 

Kini setiap kali Rumah membuka pre order selalu sold out.

Tatler Asia
Above Kue Lapis Blind Box untuk ComplexCon 2025
Tatler Asia
Above Kue lapis untuk memperingati Breast Cancer Awareness

Setelah berkolaborasi membuat Kue Lapis Blind Box untuk ComplexCon 2025, apa langkah selanjutnya untuk Rumah?

Kelly: Kami ingin memperkuat akar kami di Indonesia. Kami juga ingin mendorong Rumah melampaui sekadar makanan. Baik lewat desain, konten, kolaborasi budaya, atau pengembangan produk seperti sambal, bumbu dapur, hingga barang lifestyle. Tujuan kami adalah menunjukkan bagaimana budaya Indonesia bisa dinikmati lewat cara yang modern. Sejak awal, Rumah bukan sekadar brand kue, tapi juga wadah untuk bercerita, berkreasi, dan membangun koneksi budaya.

Credits

Gambar: Courtesy of Rumah