Cover Nadia Habibie dan Maudy Ayunda membacakan puisi berjudul “Dalam Peluk Ilahi, Kita Manunggal” (Foto: Wisma Habibie & Ainun)

Di Wisma Habibie & Ainun, kisah cinta yang melintasi ruang dan waktu kembali dihidupkan dalam perayaan penuh makna bertajuk "Cinta Sejati: 63 Tahun Habibie & Ainun"

Jika membicarakan pasangan di Indonesia yang selalu menjadi panutan dan diidam-idamkan sebagai couple goals, pasangan B.J. Habibie dan Hasri Ainun Besari pasti berada di posisi teratas. Sepak terjang  B.J Habibie di dunia politik tentu mentereng. Namanya terpatri dalam sejarah kepemimpinan negeri ini sebagai presiden RI ke-3 dan wakil presiden RI ke-7. Namun warisannya tak berhenti di situ—ia mengukir jejak yang sangat berarti bagi dunia dirgantara Indonesia dan dunia. Uniknya, membicarakan Habibie tak akan lepas dari sang istri, Ainun. Hubungan keduanya selalu menjadi inspirasi banyak orang, jadi simbol cinta sejati dan kesetiaan. Kisah cinta mendiang Habibie dan Ainun selalu punya porsi lebih untuk dibicarakan dan dikenang.

Bahkan setelah mengikuti pengalaman yang hangat saat merayakan perayaan 63 tahun pernikahan Habibie & Ainun di Wisma Habibie & Ainun pada 9 Mei 2025 lalu (tiga hari lebih cepat dari hari pernikahan mereka yang dirayakan tiap 12 Mei), paling tidak bagi tamu yang datang malam itu termasuk Tatler, jadi semakin memahami mengapa cinta mereka terus menyala dan perlu dirayakan.

Baca juga: Paviliun Indonesia di Expo 2025 Osaka: Warisan budaya bertemu teknologi masa depan

Antara Puisi dan Nyanyi

Tatler Asia
Above Maudy Ayunda membacakan puisi balasan untuk Habibie (Foto: Wisma Habibie & Ainun)
Tatler Asia
Above Dari kiri: Archie Wirija, Nadia Habibie, Maudy Ayunda, dan Putri Habibie (Foto: Wisma Habibie & Ainun)

Malam itu, kami dibawa ke dalam sebuah perjalanan, mulai dari nada, kata hingga rasa. Saat duduk di perpustakaan milik keluarga, kami disambut oleh suara khas Habibie yang memecah keheningan, membacakan puisi rindunya pada sang istri tercinta. Kemudian Nadia Habibie, sang cucu sekaligus Duta Wisma Habibie & Ainun, dan selanjutnya aktris Maudy Ayunda membacakan puisi berjudul “Dalam Peluk Ilahi, Kita Manunggal” sebagai puisi balasan untuk puisi Habibie. Puisi tersebut dibuat oleh Nadia dan Putri Habibie. Saat pembacaan puisi, Nadia menjumput sebentuk syal berwarna putih gading yang rupanya merupakan syal Ainun yang selalu dibawa oleh Habibie hingga akhir hayatnya.


Setelah untaian kata, hadir pula suguhan lagu-lagu kenangan favorit Habibie dan Ainun yang dibawakan secara langsung oleh chamber ensemble. Tak ketinggalan Putri Habibie menyanyikan lagu kesukaan B.J. Habibie, “Sepasang Mata Bola”. Sedangkan Archie Wirija menyanyikan lagu “Unforgettable”, lagu kenangan antara Nadia dan sang kakek.

Mengenang Makanan Favorit Habibie & Ainun

Tatler Asia
Above Ilham Habibie, anak pertama B.J. Habibie dan Ainun mengenang perjalanan cinta ayah ibunya semasa hidup di sela makan malam (Foto: Wisma Habibie & Ainun)
Tatler Asia
Above Strudel Apel Pelukan Jerman mengingatkan masa-masa keluarga Habibie saat tinggal di Aachen (Foto: Wisma Habibie & Ainun)

Perjalanan berlanjut dengan sajian kuliner kolaborasi bersama Plataran Indonesia. Makanan bukan sekadar santapan, tapi menjadi perjamuan nostalgia, memori, dan kehangatan. Dibungkus dengan kisah menarik di balik tiap menu yang disajikan, membuat pengalaman makan malam itu jadi berkesan. Mulai dari Sayur Lodeh Kenangan Ainun dan ditutup dengan Strudel Apel Pelukan Jerman. 

Nadia Habibie, selaku Duta Wisma Habibie & Ainun, menyampaikan bahwa perayaan ini adalah cara keluarga untuk menjaga nyala warisan cinta dan nilai-nilai hidup Habibie dan Ainun. “Kisah mereka bukan hanya tentang cinta, tapi juga perjalanan bersama dalam cita-cita yang luhur,” ujarnya.

Tatler Asia
Above Pengalaman gastronomi penuh nostalgia (Foto: Wisma Habibie & Ainun)

Kisah mereka tak berhenti di layar lebar, ada tiga film yang sudah diproduksi untuk mengenang kisah B.J. Habibie dan Ainun, dibintangi Reza Rahadian dan Maudy Ayunda, yakni Habibie & Ainun, Rudy Habibie, dan Habibie & Ainun 3. Tak juga berhenti sebagai monumen, seperti yang ada di tengah kota Parepare yang punya Monumen Cinta Sejati Habibie - Ainun. Terlebih, kisah cinta mereka jadi pengingat bahwa cinta sejati harus diperjuangkan dan membutuhkan komitmen.