Cover Michelle Santoso memiliki kecintaan pada kuliner dan aktivisme sosial (Foto: Saeffie Adjie Badas)

Michelle Santoso menggunakan platform memasaknya sebagai alat untuk membangkitkan kesadaran akan kesehatan dan advokasi kemanusiaan

Sepanjang hidupnya, Michelle Santoso berada di persimpangan budaya karena dibesarkan di dua negara yang berbeda. Ia lahir di Hong Kong, kemudian melewatkan masa remajanya di Tiongkok (tepatnya kota Shanghai) dan Indonesia (Jakarta). Michelle kemudian kembali ke Shanghai untuk belajar fashion dan desain. Akan halnya kuliner, bidang ini sebenarnya telah ia minati sejak remaja, namun tidak pernah berkesempatan menempuh pendidikan formalnya.

Walaupun demikian, ia tidak pernah meninggalkan dunia memasak, yang dijalaninya sebagai hobi serius. Jalan menuju industri kuliner ia masuki setelah melahirkan anaknya, dengan membangun bisnis katering masakan vegetarian yang berjalan selama hampir tujuh tahun. Namun usaha ini berhenti saat pandemi Covid berakhir, dan di saat hampir bersamaan ia pun membuat Rocket Deli yang spesialisasinya adalah sandwich. "Masa pandemi memaksa saya untuk memikirkan semuanya dari awal lagi. Di masa yang serba tidak pasti itu, saya terus mencoba hal baru. Dan kegelisahan tersebut membawa saya mengulik sandwich," cerita Michelle tentang awal terbentuknya Rocket Deli. 

Baca juga: Asia's Most Influential: Adrian Cheng, CEO Of New World Development And Founder of The K11 Group

Tatler Asia
Above Michelle Santoso. (Foto: Saeffie Adjie Badas)

Sebagai orang yang senang mendalami hal-hal baru, eksplorasi Michelle tidak berhenti sampai di sana. Di tengah menjalankan Rocket Deli dan The Roots (restoran salad bar), ia pun terus menyelami masakan-masakan dengan asal usul budaya yang kuat, termasuk budayanya sendiri, dan menemukan ketertarikan akan masakan Palestina dan Timur Tengah. "Tumbuh dewasa di antara dua budaya membuat saya sangat menghargai kisah-kisah yang lahir lewat rasa. Makanan adalah gerbang untuk memahami latar belakang budaya, sejarah, dan masyarakat. Lalu dengan apa yang sedang terjadi dengan Palestina, saya kemudian menyadari bahwa saya bisa menggunakan platform saya untuk mengangkat masakan Palestina sebagai cara untuk menunjukkan daya juang dan keindahan masyarakatnya. Memasak telah menjadi cara saya untuk membuat kisah mereka tetap hidup," ujarnya.

Unggahan video masakan Palestina di kanal Youtube dan Instagram milik Michelle menarik perhatian yang luas, tidak hanya dari penonton Indonesia, tapi juga seluruh dunia. Unggahan tersebut disukai oleh Bella Hadid, supermodel yang gigih membela bangsanya, hingga portal berita Arab News (www.arabnews.com) yang membuat artikel tentang advokasi yang dilakukan oleh Michelle itu.

Motivasi untuk menggabungkan seni kuliner dan dukungan kemanusiaan ini muncul karena saya ingin menyampaikan sesuatu tentang apa yang terjadi di Jalur Gaza, dan satu-satunya alat yang saya miliki adalah keahlian masak dan cara saya menyampaikannya,

- Michelle Santoso -

 

Michelle merupakan satu dari sedikit chef perempuan di industri yang didominasi oleh kaum pria ini. Ia pun menyadari bahwa kesempatan untuk perempuan berkarier di industri kuliner belum berada dalam porsi yang seimbang. "Saya rasa kesempatan tersebut bisa datang dari dapur yang dipimpin oleh perempuan, yang bisa memberikan wadah bagi perempuan lain untuk berkembang, berjuang, dan akhirnya juga memimpin. Jika kita menginginkan perubahan, kita butuh ruang yang lebih luas untuk pemberdayaan dan dukungan bagi perempuan, agar dianggap serius sebagai chef, pemilik usaha, dan pengambil keputusan.”

Credits

Fotografi: Saeffie Adjie Badas
Wawancara: Judithya Pitana
Penulis: Febe R. Siahaan
Pengarah gaya: Hans Hambali
Lokasi: Artesian Bar at The Langham Jakarta
Asisten fotografer: Abdul Haris T. Fatmon

Topics