Sri Owen dengan buku-buku masak karyanya. Dokumentasi pribadi milik Janice Gabriel.
Cover Sri Owen dengan buku-buku masak karyanya. Dokumentasi pribadi milik Janice Gabriel.
Sri Owen dengan buku-buku masak karyanya. Dokumentasi pribadi milik Janice Gabriel.

Sri Owen, pionir penulis boga Indonesia, tutup usia pada Oktober 2025. Berikut kisah orang-orang yang mengenal beliau secara akrab.

Bila ada penulis boga Indonesia yang berkontribusi besar terhadap kemajuan gastronomi Tanah Air, ia adalah Sri Owen. Selama hidupnya, wanita kelahiran Padang Panjang, Sumatra Barat, ini telah menuliskan 15 buku masak, banyak di antaranya tentang kuliner Indonesia. Ia pindah ke Magelang dan setelah lulus, bekerja sebagai pengajar di Universitas Gadjah Mada. Ia kemudian bertemu dengan Roger Owen, menikah, dan pindah ke Inggris pada tahun 1964.

Di Inggris, dia merintis karier sebagai penyiar radio untuk layanan Bahasa Indonesia BBC. Karier menulisnya dimulai secara tidak sengaja. Karena sering menjamu rekan-rekannya dengan hidangan Indonesia yang kala itu belum banyak dikenal, salah satu rekan suaminya yang bekerja sebagai agen literatur menawarinya untuk membuat buku masakan Indonesia dalam bahasa Inggris. Buku pertamanya, The Home Book of Indonesian Cooking, diterbitkan pada tahun 1976. Sisanya adalah sejarah dan dedikasi tanpa henti untuk kuliner Indonesia.

Ibu Sri Owen menerima berbagai penghargaan, termasuk The Ubud Writers and Readers Festival Lifetime Achievement Award pada 2015, The Guild of Food Writers Lifetime Achievement Award pada 2017, serta Ambassadors’ 75 Awards, sebuah penghargaan dari Duta Besar Inggris untuk Indonesia yang diberikan pada Januari 2025 sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam memperdalam hubungan antara Inggris dan Indonesia melalui diplomasi kuliner. Ia berpulang pada 4 Oktober 2025 pada usia 90 tahun. 

Berikut adalah beberapa cerita dari sahabat-sahabat dekat Sri Owen. 

Cerita dari Petty Elliott, penulis boga Indonesia

Tatler Asia
Bunga segar adalah salah satu kecintaan lain Sri Owen. Dokumentasi pribadi milik Petty Elliott.
Above Bunga segar adalah salah satu kecintaan lain Sri Owen. Dokumentasi pribadi milik Petty Elliott.
Tatler Asia
Petty Elliott dan Sri Owen di salah satu acara tentang Indonesia. Dokumentasi pribadi milik Petty Elliott.
Above Petty Elliott dan Sri Owen di salah satu acara tentang Indonesia. Dokumentasi pribadi milik Petty Elliott.
Bunga segar adalah salah satu kecintaan lain Sri Owen. Dokumentasi pribadi milik Petty Elliott.
Petty Elliott dan Sri Owen di salah satu acara tentang Indonesia. Dokumentasi pribadi milik Petty Elliott.

Sebagai sesama penulis kuliner yang lahir di Indonesia, kami memiliki banyak kesamaan:  belajar memasak dari nenek kami, menikah dengan orang Inggris, menjadi penulis makanan meskipun itu bukan karir pertama kami, memiliki latar belakang jurnalis, dan memiliki dua anak laki-laki. 

Meskipun ia lahir pada tahum 1935 (34 lebih awal dari saya dan di era yang berbeda), hubungan kami sangat dekat. Beliau lahir di Padang Panjang, Sumatra Barat, tanah asal rendang, sementara saya lahir di Manado, Sulawesi Utara—dua daerah dengan budaya, bahasa, sejarah dan kuliner yang sangat berbeda. Namun kami sama-sama besar di Pulau Jawa.

Sangat luar biasa bahwa sejak  akhir tahun 1970-an, Sri sudah mulai mengadakan demonstrasi memasak dan bahkan  melakukannya di dapurnya sendiri. Ia juga sering menjadi pengajar di berbagai tempat di Inggris, Irlandia, hingga Australia serta Amerika Serikat. 

Saya mengenalnya hanya selama sepuluh tahun terakhir, namun hubungan kami terasa dekat seperti keluarga sendiri. Saya mewawancarainya pada tahun 2015 untuk kolom saya di salah satu majalah, tempat saya menjadi kontributor ketika masih tinggal di Jakarta. Saat saya pindah ke Inggris pada tahun 2018, Ibu Sri menyambut saya dengan hangat dan penuh kemurahan hati, memperkenalkan saya kepada para sahabat dan komunitas seperti The Guild of Food Writers dan The Oxford Food Symposium.

Sri sangat mencintai Indonesia—bukan hanya makanannya, tetapi juga tekstil, seni, dan kegembiraan menjelajahi Nusantara, walaupun ia sudah menjadi warga negara Inggris. Ini pelajaran yang saya pelajari dari Ibu Sri: cinta seseorang terhadap tanah kelahirannya tidak ditentukan oleh kewarganegaraan atau paspor, melainkan oleh keterikatan mendalam pada jiwa para leluhurnya - pada kisah, nilai, dan tradisi yang terus hidup di dalam dirinya. Cinta itu berakar pada ingatan dan jiwa, bukan pada letak geografis. Cinta seperti inilah yang mendorong seseorang untuk berbagi warisan dan budayanya kepada dunia, bukan semata karena kebanggaan, tetapi karena rasa syukur dan keinginan agar orang lain juga dapat merasakan keindahan, kebijaksanaan, dan kehangatan yang membentuk jati dirinya. 

Lebih dari sekadar menulis dan mengajar, ia adalah sosok yang murah hati dengan waktu dan semangatnya dalam berbagi pengetahuan. Saya akan merindukan percakapan panjang kami tentang rempah, sambal, sejarah Indonesia, tempe, dan kegembiraan menemukan sebuah hidangan yang menyimpan kisah dengan berkunjung ke rumah jompo dimana ia tinggal selama beberapa tahun terakhir hidupnya.

Warisan Sri akan terus hidup—melalui buku-bukunya, melalui komunitas yang disentuhnya, dan melalui setiap hidangan dengan rasa Indonesia yang menghubungkan kita dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Cerita dari Betty Yao, Charter Member, Trustee and Founding Chair PAWA (Pan Asian Women’s Association)

Tatler Asia
Betty Yao dan Sri Owen yang sedang menandatangai buku The Rice Book. Dokumentasi pribadi milik Betty Yao.
Above Betty Yao dan Sri Owen yang sedang menandatangani buku The Rice Book. Dokumentasi pribadi milik Betty Yao.
Betty Yao dan Sri Owen yang sedang menandatangai buku The Rice Book. Dokumentasi pribadi milik Betty Yao.

Sri Owen adalah sosok perempuan yang luar biasa dan seorang sahabat sejati. Bagi saya, sosok Sri selalu menyenangkan, ia tuan rumah yang hebat dalam setiap jamuan, dengan hidangan dan minuman yang melimpah. Ia senang dikelilingi bunga dan sangat menghargai keindahan batik.

Sri juga dikenal sangat dermawan dalam mempertemukan orang-orang. Ia memiliki jaringan pertemanan yang luas dari berbagai latar belakang, dan ia selalu piawai mempertemukan orang yang tepat sehingga ide-ide baru pun bermekaran.

Ketika kami memulai PAWA, sebuah organisasi amal yang mendukung pendidikan remaja perempuan di seluruh Asia, Sri dan mendiang suaminya, Roger, termasuk yang pertama bergabung. Selama bertahun-tahun, Sri memperkenalkan begitu banyak sahabatnya untuk turut serta dalam PAWA. Kami akan selalu mengenang Sri, dan kepergiannya akan sangat dirindukan. Ia bukan hanya teladan luar biasa bagi perempuan Indonesia, tetapi juga seorang “Perempuan Dunia”.

Cerita dari Amalia Sudijono, pendiri ProTempeh

Tatler Asia
Olivier Laudus and Amalia Sudijono bersama Sri Owen dan salah satu buku karya beliau, Indonesian Food. Dokumentasi pribadi milik Amalia Sudijono.
Above Olivier Laudus and Amalia Sudijono bersama Sri Owen dan salah satu buku karya beliau, Indonesian Food. Dokumentasi pribadi milik Amalia Sudijono.
Olivier Laudus and Amalia Sudijono bersama Sri Owen dan salah satu buku karya beliau, Indonesian Food. Dokumentasi pribadi milik Amalia Sudijono.

Sri Owen bukan hanya investor bagi kami, tetapi juga sahabat terkasih yang selalu kami cintai dan kagumi. Kami pertama kali bertemu dengannya melalui ProTempeh UK, saat kami menghadiahkannya tempe. Seketika terjalin kedekatan ketika beliau bercerita bahwa tempe tersebut mengingatkannya pada tempe buatan sang suami, Roger, yang biasa dibuat di rumah. Sejak itu, banyak makan siang dan percakapan yang kami lalui bersama, semuanya terikat oleh kecintaan kami pada tempe dan kuliner Indonesia.

Kami selalu menghargai kebersamaan dengannya serta kisah-kisah indah yang ia bagikan tentang perjalanan luar biasanya sebagai penulis kuliner. Mendengarkan pengalamannya—yang sarat dengan semangat, pengetahuan, dan tujuan—selalu memberikan inspirasi.

Ia merupakan pendukung sejati kuliner Indonesia di Inggris. Ia tak pernah berhenti berkreasi dengan tempe, termasuk karya terbarunya berupa pâté tempe vegan yang lezat. Ia memiliki pengetahuan yang mendalam dan dedikasi besar untuk membagikan budayanya melalui makanan. Bahkan di usia senjanya, ia tetap bersemangat menulis dan memasak dengan energi serta antusiasme, mengingatkan kami bahwa gairah tidak mengenal usia. Kebaikan, kebijaksanaan, dan kemurahan hatinya akan terus membimbing dan menginspirasi kami.

Cerita dari Janice Gabriel, produser eksekutif Eat the Globe TV

Tatler Asia
Sri Owen bersama Janice Gabriel. Dokumentasi pribadi milik Janice Gabriel.
Above Sri Owen bersama Janice Gabriel. Dokumentasi pribadi milik Janice Gabriel.
Sri Owen bersama Janice Gabriel. Dokumentasi pribadi milik Janice Gabriel.

Saya pertama kali bertemu Sri Owen 35 tahun lalu. Ketika itu, saya mendekatinya untuk sebuah program TV dan sempat merekamnya secara singkat di dapur pribadinya yang dirancang khusus di Wimbledon, London. Sri adalah sosok yang rendah hati dan sempat ragu untuk tampil di depan kamera. Ia merasa buku-bukunya lebih mampu menyampaikan secara mendalam detail serta riset teliti yang ingin ia bagikan tentang pentingnya kuliner dan budaya makanan Indonesia—terlebih karena saat itu hampir tidak ada referensi tentang masakan Indonesia dalam buku masak berbahasa Inggris.

Pertemuan tersebut berkembang menjadi persahabatan yang terjalin selama puluhan tahun. Sri kemudian beberapa kali tampil di televisi Inggris, termasuk bersama koki Raymond Blanc dalam acara Kitchen Secrets di BBC, di mana ia membagikan resep bebek bumbu Bali. Ia juga tampil dalam Market Kitchen, sebuah acara kuliner yang saya produksi untuk UKTV dan dipandu oleh penulis makanan Tom Parker Bowles (putra Ratu Camilla), yang telah lama menjadi penggemar resep-resep Sri. Dalam acara tersebut, Tom memasak rendang sapi resep Sri di studio, meskipun Sri sempat menegaskan di layar bahwa rendang paling baik dimasak menggunakan daging kerbau.

Saya menyaksikan bagaimana resep-resep Sri yang disusun dengan sangat teliti—hasil riset bersama suaminya, Roger—memperkenalkan masyarakat Inggris pada kompleksitas cita rasa masakan Indonesia, bahkan sebelum banyak orang mengetahui di mana letak Bali. Dari tahun 1970-an hingga 2000-an, hampir semua referensi masyarakat Inggris tentang hidangan seperti nasi goreng, sate, gado-gado, atau rendang bersumber dari buku-buku Sri dan upayanya mempromosikan kuliner Indonesia. Pada suatu masa, ia bahkan memiliki toko deli sendiri, menjual produknya di Harrods, serta menjadi penasihat bagi berbagai pelaku industri makanan terkait kuliner Indonesia dan Asia Tenggara. 

Tiga puluh tahun lalu, Indonesia belum dikenal secara luas secara budaya di Inggris, dan kami tentu tidak mempelajari sejarah maupun geografinya di sekolah. Namun, Sri aktif berbagi pengetahuannya di kalangan akademik dan merupakan anggota pendiri Oxford Food Symposium. Rekan dan sahabatnya adalah tokoh-tokoh besar dalam dunia penulisan kuliner global, seperti Elizabeth David, Julia Child, Claudia Roden, Alan Davidson, dan Jane Grigson.

Selama bertahun-tahun, saya bertemu banyak koki dan penulis kuliner yang memiliki edisi-edisi awal buku Sri yang sudah sangat sering digunakan. Karya-karyanya memengaruhi ketelitian mereka serta pemahaman tentang teknik memasak Indonesia. Para koki muda Indonesia yang kami temui pun mencari karya Sri karena langkanya dokumentasi resep di Tanah Air pada masa itu.

Sri dan suaminya, Roger, menjalani pernikahan yang panjang dan bahagia, yang bermula pada tahun 1950-an saat mereka berkuliah di Yogyakarta. Sepanjang pernikahan mereka, keduanya jarang terpisah—membesarkan keluarga dan bekerja bersama dalam riset serta penulisan banyak buku Sri di tahun-tahun berikutnya. Sri juga dikenal sebagai tuan rumah yang hangat, mengumpulkan orang-orang di sekeliling meja makan untuk santap bersama, dengan Roger yang setia menata dan membereskan meja. Jamuan-jamuan tersebut memperkenalkan saya pada banyak sahabat baik, dipenuhi tawa, percakapan cemerlang, dan tentu saja hidangan yang luar biasa.

Pada tahun 2015, saya mendampingi Sri dan Roger dalam perjalanan terakhir Sri ke Indonesia, ketika Janet de Neefe menganugerahkan penghargaan pencapaian seumur hidup pertama kepadanya pada Ubud Food Festival perdana. Bagi Sri, perjalanan itu juga menjadi kesempatan untuk bertemu kembali dengan rekan-rekan sejawat yang ia hormati, seperti William Wongso, Bondan Winarno, dan Ibu Murni dari Ubud—para pelopor dalam memperkenalkan budaya kuliner Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri. Menikmati pepaya dan rambutan segar setiap pagi merupakan kesenangan sederhana yang sangat ia rindukan saat tinggal di London.

Meski upaya kami tak pernah berhasil mewujudkan serial televisi khusus tentang Indonesia di Inggris, pada tahun 2019 saya membuat film pendek tentang resep rendang sapi ikonik Sri, yang dimasak di dapurnya sesaat sebelum ia pindah ke panti perawatan karena kondisi kesehatan Roger yang menurun. Ia masih memasak menggunakan wajan yang sama seperti saat hari pernikahannya 60 tahun sebelumnya. Resep rendang tersebut—warisan neneknya yang berusia lebih dari satu abad—menggunakan bahan-bahan sederhana, yang menurut saya turut menjadi kunci popularitasnya. Resep-resep Sri selalu teruji dan dapat diandalkan.

Sri dan saya masih berbincang tentang makanan beberapa kali seminggu hingga waktu yang sangat dekat. Percakapan terakhir kami membahas gado-gado dan sambal, karena ia kerap menyesuaikan makan siangnya di panti perawatan agar lebih bercita rasa Indonesia. Saya biasa membawakan sambal dari produsen muda Indonesia di Inggris, karena sambal Padang tetap menjadi favoritnya, dan ia sangat gembira melihat generasi muda Indonesia membangun usaha tersebut.

Sri sangat mencintai tempe—yang dahulu dibuat Roger sejak tahun 1970-an di London. Ia mendukung dan mengagumi perusahaan tempe organik berkelanjutan yang dikelola generasi muda, dan hingga belum lama ini masih membicarakan rencananya menulis buku khusus resep tempe. Ia selalu dipenuhi semangat dan ide-ide baru. Hingga kini, buku-bukunya terus dicetak ulang dan diterbitkan di berbagai negara.

Ia bukan hanya rekan kerja dan sahabat tercinta, tetapi juga perempuan luar biasa yang tiba di Inggris sebagai pengantin muda, tanpa mengenal siapa pun, dari sebuah negara yang nyaris tak dikenal. Pada awalnya, ia memandang Inggris melalui lensa romantis karya Jane Austen—penulis yang karyanya ia pelajari sebagai mahasiswa sastra Inggris. Dengan pengalaman jurnalistiknya di BBC, Sri memadukan makanan dan ingatan secara alami dalam tulisannya. Kontribusinya dalam dunia kuliner merupakan bukti ketangguhan dan dedikasinya. 

Kreativitas Sri dan dorongannya untuk mencapai kesempurnaan menjadi sumber inspirasi bagi kami yang mengenalnya. Warisannya terus hidup dan meninggalkan jejak mendalam dalam kehidupan kami serta komunitas kuliner. Saya tahu, ia akan sangat bahagia jika orang-orang terus menggunakan buku-bukunya dan memasak resep-resepnya—karena baginya, semua itu adalah hadiah untuk dibagikan, diteruskan, dan dijaga agar tetap hidup, dengan harapan generasi baru dapat terus menikmati karya hidupnya.

Eve Tedja
Travel & Dining Editor, Tatler Indonesia
Tatler Asia

Since embarking on her career as a food journalist in 2012, she has penned hundreds of articles delving into culinary trends, chef profiles, and gastronomic destinations across Asia. Born and raised in Bali, Eve is dividing her time between Bali and Jakarta.