Sebuah bab baru dalam dunia gastronomi Jakarta hadir melalui The Rooang, bistro elegan di Bimasena yang memadukan keanggunan Eropa dengan kekayaan rasa Indonesia, di bawah visi personal Adriel M. Simorangkir
Ada pepatah klasik yang mengatakan bahwa meja makan adalah tempat di mana waktu melambat. Di sanalah percakapan mengalir tanpa terburu, dan rasa menjadi cara paling jujur untuk saling mengenal. The Rooang di Bimasena tercipta dari semangat yang sama: menghadirkan ruang di mana makanan bukan hanya disajikan, tetapi dirasakan sepenuhnya dengan perhatian, ketulusan, dan keindahan yang sederhana.
Didesain sebagai tempat untuk berbagi cerita dan membangun koneksi, The Rooang menjadi perwujudan dari gagasan tentang kebersamaan yang hangat dan elegan, di mana setiap detail—dari cahaya hingga cita rasa—disusun dengan niat untuk menghadirkan pengalaman yang bermakna.
Berlokasi di Bimasena, klub yang telah lama dikenal karena dedikasinya terhadap budaya dan keanggunan hidup, The Rooang memperkenalkan bab baru dalam dunia kuliner Jakarta. Di bawah visi Adriel M. Simorangkir, Managing & Culinary Director Bimasena, bistro ini memadukan keanggunan klasik Eropa dengan keberanian rasa dari dapur Indonesia. Hasilnya adalah pengalaman yang tidak sekadar menggugah selera, tetapi juga membangkitkan rasa ingin tahu, tentang bagaimana dua dunia dapat berpadu dengan harmoni yang begitu alami.
Klasik yang Diperbarui
Menu The Rooang berakar pada tradisi kuliner Eropa yang elegan, namun diberi sentuhan keberanian khas Indonesia. Di setiap hidangan, ada keseimbangan antara nostalgia dan penemuan baru.
The Cote de Boeuf, misalnya, disajikan dengan kematangan sempurna yang menonjolkan tekstur dan rasa daging, sementara rempah lokal memberikan kedalaman aroma yang tidak terduga. Tomato Tart menghadirkan keindahan sederhana: keasaman tomat berpadu dengan kelembutan pastry, menciptakan harmoni yang halus. Dan bagi pencinta manis, Chocolate Mille Feuille menjadi penutup yang menawan—lapisan demi lapisan cokelat dan krim lembut yang nyaris seperti metafora tentang kesabaran dan detail.
Tak ada satu pun hidangan yang berusaha mencuri perhatian dengan cara berlebihan. Semuanya dirancang untuk berbicara lembut namun berkesan lama, seperti percakapan di meja makan yang tak ingin segera usai.
Lebih dari Sebuah Ruangan
Nama The Rooang tidak hanya merefleksikan ruang fisik, tetapi juga gagasan tentang “ruang batin”—tempat di mana koneksi dan rasa saling bertemu. Bagi Bimasena, kehadiran bistro ini menegaskan komitmen mereka untuk menciptakan pengalaman budaya dan kuliner yang relevan dengan generasi baru, tanpa kehilangan esensi keanggunan yang menjadi ciri khas klub sejak didirikan pada 1997 oleh almarhum Prof. Dr. Subroto.
Bimasena selalu menjadi rumah bagi ide-ide cemerlang dan dialog bermakna. Kini, The Rooang menjadi perpanjangan dari semangat tersebut dalam bentuk kuliner. Sebuah panggung hidup bagi kisah gastronomi Jakarta yang terus berkembang.
Above Adriel M. Simorangkir, sosok di balik visi kuliner The Rooang
Above Setiap sudut The Rooang dirancang untuk menghadirkan rasa tenang
Rasa yang Menghubungkan
Above The Rooang at Bimasena
Dalam setiap sendok, The Rooang mengundang tamunya untuk merasakan sesuatu yang lebih dalam: kehangatan dari bahan-bahan lokal, kemewahan yang tidak memamerkan diri, dan keramahan yang terasa tulus. Ini bukan tempat untuk sekadar makan; ini tempat untuk merasa—tentang makanan, tentang waktu, dan tentang kebersamaan.
Karena pada akhirnya, seperti halnya kehidupan, pengalaman bersantap terbaik tidak hanya bergantung pada apa yang disajikan di piring, tetapi pada bagaimana kita hadir di dalamnya. Dan di The Rooang, setiap momen dibuat untuk diingat.
Credits
Gambar: The Rooang, Bimasena



