Dari sikwate Filipina yang berbusa hingga wehdang jahe Indonesia, minuman-minuman yang telah lama ada ini mengubah hari-hari musim hujan menjadi momen yang nyaman.
Musim hujan tiba di berbagai wilayah Asia, membawa ritme tetesan air yang familiar di jendela dan penurunan suhu yang membuat Anda ingin segera mencari kehangatan. Baik Anda berdiam di dalam rumah untuk menghindari hujan atau sekadar mencari kenyamanan, periode cuaca basah ini adalah waktu yang ideal untuk bersantai dan menikmati minuman yang telah menghangatkan hati dan tangan di seluruh wilayah ini selama beberapa generasi.
Dari uap beraroma cokelat sikwate Filipina hingga hangatnya wedang jahe Indonesia yang dibumbui jahe, minuman hangat ini tak hanya melawan rasa dingin—mereka juga menjadikan hari hujan sebagai ritual kenyamanan dan kehangatan. Meskipun banyak minuman ini dapat disajikan dingin, minuman ini paling nikmat dinikmati hangat selama musim hujan. Baik Anda mencari kehangatan, kebugaran, atau ketenangan, menikmati minuman Asia ini adalah salah satu aktivitas terbaik selama musim hujan.
Baca selengkapnya: Hidangan penutup Asia yang menghangatkan jiwa untuk menyembuhkan kesedihan di hari hujan
1. Sikwate atau tsokolate de batirol (cokelat panas)
Filipina telah mengolah sikwate atau tsokolate (cokelat) de batirol sejak era kolonial Spanyol. Tradisi ini menggunakan tablea atau tablet kakao panggang murni yang menghasilkan cokelat panas yang kaya rasa. Proses pembuatannya sendiri merupakan proses teatrikal: batirol kayu digunakan untuk mengocok cokelat hingga menjadi minuman yang berbusa dan lembut.
Setiap daerah menawarkan variasi yang halus, terinspirasi oleh terroir kakao lokal: beberapa lebih membumi atau berbuah, yang lain dengan aroma sangrai yang mengingatkan pada kopi. Padukan dengan camilan lokal seperti ensaymada (kue kering manis) atau suman (kue ketan), dan Anda akan mengerti mengapa ini bukan sekadar cokelat panas—melainkan pengalaman sensorik yang sempurna untuk cuaca yang nyaman, hujan, dan dingin.
Baca selengkapnya: 5 cokelat panas terbaik
2. Teh tarik
Proses tuangan teatrikal Teh Tarik—lengkungan teh susu sepanjang satu meter di antara wadah—lebih dari sekadar memukau penonton. Proses tarikan ini, yang dikembangkan oleh imigran Muslim India di Semenanjung Melayu, mengangin-anginkan minuman, menciptakan buih lembut, dan mendinginkannya hingga mencapai suhu optimal untuk diseduh.
Hasilnya adalah minuman seimbang yang memadukan teh hitam pekat dengan susu kental manis. Saat langit menggelap dan udara dingin, segelas teh tarik hangat mengubah cuaca suram menjadi sesuatu yang hangat dan tak tertahankan.
Baca selengkapnya: 5 camilan teh tarik yang cocok untuk dinikmati saat minum teh
3. Masala chai (teh berbumbu)
Above Campuran masala chai berupa teh hitam, susu, dan rempah-rempah sangat cocok untuk musim hujan.
Berasal dari anak benua India, masala chai adalah kreasi yang sangat personal, dengan setiap rumah tangga menjaga resepnya layaknya pusaka keluarga. Intinya adalah teh hitam, susu, dan campuran rempah-rempah pilihan seperti kayu manis, kapulaga, jahe, cengkeh, lada hitam, adas bintang, dan biji adas.
Keajaiban terletak pada proporsi dan teknik perebusan yang memungkinkan rempah-rempah bermekaran selaras dengan teh. Chaiwala atau kedai teh pinggir jalan telah membangun reputasi berkat keseimbangan ini. Setiap tegukan mengungkapkan lapisan rempah dan kedalaman baru yang berpadu sempurna dengan ritme hujan monsun.
4. Yujacha (teh yuja)
Terlepas dari namanya, yujacha tidak mengandung daun teh asli. Minuman favorit Korea ini terbuat dari yuja, buah jeruk yang berasal dari Tiongkok dan kini digemari di seluruh Korea dan Jepang, diawetkan dengan madu dan/atau gula untuk menghasilkan selai jeruk yang harum.
Cukup sesendok yang dilarutkan dalam air panas menghasilkan seduhan rasa manis-asam yang menyegarkan, menenangkan, dan kaya vitamin C. Sering dibuat saat musim jangma, yujacha membuat berdiam di dalam ruangan terasa seperti merawat diri sendiri, alih-alih menyerah pada cuaca.
5. Wedang jahe (minuman jahe panas)
Minuman khas Indonesia ini memadukan jahe segar dengan gula aren dan tambahan aromatik seperti serai, daun pandan, kapulaga, dan cengkeh. Umumnya dikonsumsi selama musim hujan untuk menangkal masuk angin—kepercayaan tradisional yang digunakan untuk menjelaskan masuk angin dan pilek yang tiba-tiba.
Rasa panas dari jahe menghangatkan tubuh, sementara gula aren dan rempah-rempah berlapis menciptakan profil rasa yang kompleks. Selama musim hujan yang panjang, wedang jahe menjadi ritual penyejuk dan penambah kekebalan tubuh yang rasanya jauh lebih nikmat daripada obat farmasi mana pun.
6. Barley tea (teh jelai)
Terbuat dari biji jelai panggang, teh ini membuktikan bahwa kenyamanan tidak memerlukan kafein atau persiapan yang rumit. Teh jelai menawarkan rasa kacang yang bersih dan segar yang dapat dinikmati hangat saat cuaca dingin atau disimpan dingin untuk menghangatkan diri di sela-sela hujan.
Di rumah tangga Asia Timur, teh jelai disajikan sesering air, disukai karena manfaat pencernaan, nutrisi, dan ringan sehingga cocok untuk diminum kapan saja sepanjang hari.
7. Teh jujube (teh kurma merah)
Sebagai makanan pokok di rumah tangga Tiongkok dan Asia lainnya selama ribuan tahun, teh jujube dibuat dengan merebus kurma merah kering (jujube) dalam air hingga menghasilkan minuman yang manis alami dan sedikit beraroma buah. Sering kali disempurnakan dengan tambahan hangat seperti jahe atau kayu manis, teh yang menenangkan ini menyehatkan sekaligus menenangkan.
Dikemas dengan antioksidan dan vitamin, teh jujube mendukung pencernaan, meningkatkan kekebalan tubuh dan menenangkan sistem saraf, menjadikannya teman ideal untuk hari-hari musim hujan yang kelabu.
This story was originally written in English by Dyan Zarzuela.
Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris oleh Dyan Zarzuela dan diterbitkan pada 11 Juli 2025. Read the original story here.
Topics




