Dengan penunjukan Brendon Chen sebagai executive chef, Su Ma meluncurkan Volume 6: Passage, sebuah manifestasi kuliner yang merayakan waktu, pergerakan, dan seni transformasi.
Dalam dunia gastronomi, perubahan kepemimpinan di dapur bukan sekadar pergantian personel, melainkan evolusi identitas. Maret ini, destinasi kuliner kontemporer Su Ma resmi mengumumkan Brendon Chen sebagai executive chef terbarunya. Kehadiran chef asal Malaysia ini menandai babak baru yang ekspresif bagi restoran yang berakar pada tradisi Tionghoa dan Korea ini, bertepatan dengan peluncuran menu terbaru mereka, Volume 6: Passage.
Lulusan Le Cordon Bleu London ini membawa rekam jejak prestisius dari dapur-dapur ternama di Eropa dan Asia, termasuk pengalaman di restoran berbintang Michelin seperti Mume, Restaurant Studio, dan Nadodi. Namun, bagi Chen, teknik tinggi hanyalah alat untuk menyampaikan memori. Tumbuh dalam keluarga Tionghoa, ia dibentuk oleh ketelatenan ibu dan neneknya—aroma jahe, kedelai, dan kaldu yang dimasak perlahan menjadi fondasi filosofinya: bahwa makanan adalah bentuk perhatian yang terbaik.
Jangan lewatkan: Restoran Prancis modern Odette kembali dibuka setelah renovasi selama tiga bulan

Above Executive chef Su Ma yang baru, Brendon Chen
Melalui Volume 6: Passage, chef Brendon Chen memperkenalkan kurasi menu yang berpusat pada fermentasi, musim, dan keseimbangan rasa. Pengalaman bersantap di sini dirancang sebagai sebuah progresi yang meditatif. Salah satu primadona dalam musim ini adalah hidangan Lobster yang dipadukan dengan tomat dan rice cake, menyajikan kecerahan rasa yang tenang. Ada pula Korean Pear dengan susu kacang pinus dan kaviar Oscietra, sebuah dialog antara rasa manis yang subtil dengan kekayaan rasa laut.
Eksplorasi rasa yang lebih dalam muncul pada Wagyu Short Rib dengan glaze char siu dan cabai fermentasi, serta Kinmedai yang dipadukan dengan suancai dan gamtae, sebuah studi tentang keseimbangan antara teknik fermentasi dan kedalaman produk boga bahari. Perjalanan rasa gurih ini mencapai puncaknya pada Aged Duck dengan bit, bawang hitam, dan lada Szechuan, sebelum ditutup dengan rangkaian pencuci mulut yang dikurasi oleh co-executive chef Ryan Kim.
Di bawah arahan Brendon Chen, Su Ma tidak sekadar menyajikan makanan; mereka menyusun bahasa kuliner yang lebih halus. Setiap piring adalah hasil dari kesabaran dan niat yang bulat, menjadikan setiap kunjungan sebagai sebuah lintasan waktu yang bermakna. Di sini, setiap elemen tidak pernah terburu-buru, memastikan bahwa setiap tamu dapat merasakan harmoni antara tradisi dan modernitas dalam setiap sesapan.
Baca juga:
Tatler Best Indonesia 2025: Malam apresiasi untuk pelaku hospitality terbaik
Delapan tahun Boy’N’Cow: Konsistensi steakhouse terbaik di Bali






