Cover Co-founder TWG Tea dan Bacha Coffee, Taha Bouqdib

Entrepreneur dan tea lover ini membagikan kisahnya mengubah cinta pada teh menjadi kerajaan senilai jutaan dolar.

Satu hal yang kamu harus tau dari CEO dan co-owner V3 Gourmet, Taha Bouqdib, ialah dia benar-benar cinta pada teh. Bahkan ia menggambarkan pengalaman pertamanya dengan secangkir minuman berkafein ini layaknya jatuh cinta— falling head over heels.

“Teh selalu memiliki tempat penting dalam hidup saya, terutama saat saya dibesarkan di Maroko yang memiliki teh sebagai komponen penting kehidupan sosial,” jelasnya. Di Maroko, tempat kelahiran Bouqdib, tradisi menyeduh dan meminum teh menggambarkan keramahtamahan dan persahabatan.

Meskipun sang penggila teh ini selalu meminum teh tradisional Maroko (teh hijau dengan daun mint dan gula), justru secangkir Lung Ching (teh hijau Tiongkok) yang aromatik-lah yang memantik cintanya.

Baca juga: 8 Most Luxurious Places for High Tea & Afternoon Tea in London

Moroccan memories

Dengan penuh kenangan indah, ia mengingat pertemuan pertamanya dengan secangkir teh ini: “Selama masa kecil saya di Rabat, Maroko, saya dan keluarga tinggal dekat dengan kedutaan Tiongkok, dan kedutaan ini sering menawarkan kami kalender dan teh Tiongkok selama hari-hari libur mereka. Ini adalah penemuan pertama saya pada teh setelah teh hijau Maroko, teh tradisional yang biasa disajikan kepada tamu.”

Beberapa tahun kemudian di Paris, seorang temannya memberikannya kesempatan untuk mencicipi industri teh. Disana, ia menemukan berbagai panen teh yang ia kenal selama masa mudanya. “Disinilah saat saya sadar bahwa saya akan bekerja dalam industri teh,” entrepreneur Prancis-Maroko tersebut bercerita.

Dari sana, ia semakin jatuh cinta pada minuman hangat ini. Bahkan sekarang, passion-nya kepada teh justru semakin kuat. Pecinta teh ini dengan antusias bercerita bagaimana ia suka memulai harinya dengan sepoci teh hitam full-bodied, dan mengakhiri hari dengan menyesap secangkir teh Marrakech Mint yang menenangkan sebelum tidur.

Ia pun menambahkan, meskipun preferensi tehnya berubah sehari-hari, teh yang menjadi all-time favourite miliknya adalah Silver Moon Tea dari TWG Tea. “Itu adalah tea blend eksklusif pertama yang saya ciptakan untuk TWG Tea Haute Couture Tea Collection… it will always have a special place in my heart,” sebut Bouqdib.

Choosing his destiny

Walaupun perjalanan sang entrepreneur ini dalam industri teh luxury terlihat lancar sejauh ini, kenyataannya tidak begitu.  Faktanya, kelahiran Maroko ini harus memilih antara mengikuti tradisi keluarganya dengan bekerja untuk Raja dan merambah ke industri teh. Ia menjelaskan bahwa meskipun itu sebuah tradisi, itu bukan ‘takdir’-nya.

Ia memiliki ide untuk merevolusi industri teh, dengan TWG Tea, selama ia bekerja di perusahaan teh asal Prancis pada 2004. Entrepreneur ini memutuskan untuk mendasarkan perusahaannya di Singapura ketika ia berkunjung pada 2007. Saat perjalanan itu, ia jatuh cinta pada kota ini, mulai dari ‘bunga di jalanan’ hingga sambutan ramah negara tersebut terhadapnya.

Sekarang, 15 tahun setelah berdiri, TWG Tea menjadi salah satu merk teh paling terkenal di Singapura dan seluruh dunia, dengan lebih dari 70 butik didirikan di 18 negara.

In case you missed it: 5 Natural Teas To Enhance Mental Wellbeing

Tatler Asia
Above Koleksi TWG Tea

Saat ditanya bagaimana ia mencapai mimpinya, Bouqdib bercerita bahwa bukan mimpi yang ia kejar, tetapi justru tujuan. Ia menjelaskan: “Saya selalu berkomitmen pada tujuan saya dan tidak melupakan apa yang ingin saya capai dalam jangka panjang.” Setia pada kata-katanya, pengusaha ini telah fokus untuk “merevolusi industri teh” dan telah berhasil melakukannya.

Tidak heran bahwa Bouqdib dapat tetap berkomitmen pada tujuan-tujuan yang ia terapkan untuk diri sendiri. Bagaimanapun juga, ini adalah hal yang telah diajarkan ayahnya padanya sejak kecil.

“Saya banyak mengambil pelajaran penting dari ayah saya dalam disiplin, kerja keras, dan rasa hormat… ia telah menjadi akar dari ketelitian dan disiplin diri saya, dan saya akan terus menggunakan dorongan yang telah ia tanamkan dalam saya tersebut sebagai dasar untuk membangun luxury brand,” tambahnya.

Di samping pelajaran hidup dari ayahnya, pekerjaan pertamanya di Kepolisian Kerajaan Maroko juga mengajarkannya untuk disiplin, teliti, dan pentingnya bekerja keras—hal-hal ini masih melekat dalam dirinya.

Tatler Asia
Above Butik TWG Tea di Takashimaya
Tatler Asia
Above Outlet Bacha Coffee di Ion Orchard

Coffee Break

Setelah sukses mendominasi industri teh, Bouqdib mengalihkan pandangannya ke industri kopi yang sedang berkembang, hingga kemudian mendirikan konsep terbarunya Bacha Coffee pada 2017. “Saya sedang di Marakesh dengan Raja Maroko, ketika saya mempelajari warisan tersebut di istana bersejarah Dar el Bacha, yang artinya “rumah Pasha”. Kisah itu memikat saya dalam sekejap. Saya terpesona dengan sejarahnya dan tertarik mengembangkannya secara global,” sebut Bouqdib.

Karena ia sudah menetap di Singapura dan telah melihat budaya kopi di negara tersebut yang sedang booming, ia memutuskan membuka pos internasional Bacha Coffee pertama disana. Sejak itu, Bacha Coffee telah berkembang menjadi tujuh outlet di seluruh pulau, tiga diantaranya terletak di terminal berbeda Bandara Changi.

Jadi, tidak diragukan lagi bahwa Bouqdib mencintai apa yang ia lakukan dan tidak akan berhenti dalam waktu dekat untuk mengejar hasratnya . Lagipula, kamu tidak akan pernah benar-benar melupakan cinta pertamamu, bukan?

Topics