Menelaah konsep hidup cinta bumi dari lima figur inspiratif berikut ini
Mencintai tanah, air, dan udara di tempat kita hidup dan bernapas, merupakan bahasa cinta bumi yang kenyataannya tak mudah untuk dilrealisasi. Meski masyarakat dunia telah coba menjentik banyak aksi mulai dari memilah sampah organik dan non-organik, membuat kompos rumahan, mengurangi penggunaan listrik, sampai coba untuk memantapkan konsep slow-living, faktanya bagian terberat dari pelaksanaan ini ialah konsistensi. Tak banyak orang yang bisa terus konsisten untuk melancarkan nilai-nilai ‘love earth’ karena biar bagaimana pun, kemajuan teknologi membuat segalanya cenderung lebih sulit untuk dilaksanakan.
Sebut saja penggunaan kendaraan bermotor, alat elektronik harian, dan lain sebagainya yang sedikit banyak malah punya efek buruk terhadap keremajaan bumi. Mau tak mau kita pun melakukannya karena memang telah berada di era yang segalanya sudah diperbaharui. Telah dibuat nyaman, praktis, dan efisien namun dengan kerusakan global sebagai bayarannya. Terasa seperti vicious circle yang tak bisa dihentikan memang karena banyak orang sudah keburu gandrung pada percepatan kemajuan sistem kehidupan.
Namun dengan segala kerumitan yang ada dan juga di tengah gempuran modernitas, ternyata ada sejumlah figur yang begitu konsisten terhadap kecintaannya pada bumi. Tak cuma melakukan cara hidup slow-living, mereka juga merevitalisasi tanah, menanam banyak tumbuhan, hingga berkehidupan ‘dari bumi untuk bumi’. Jadi apa pun yang mereka makan, buang, dan gunakan, akan kembali ke tanah sehingga punya fungsi lagi pada kehidupan. Simak artikel berikut untuk mengenal persona-persona inspiratif yang dimaksud
Baca lagi: From Earth to Earth
Soraya Cassandra
Punya nama lengkap Siti Soraya Cassandra, perempuan yang akrab dipanggil Sandra ini memutuskan untuk berhenti dari jabatannya sebagai Social Perfomance Advisor di Shell Upstream Indonesia, khusus untuk berkebun. Karena penat statusnya sebagai pekerja kantoran dan melihat polusi kota yang begitu pekat, ia lalu bertekad untuk menikmati udara yang bersih dan segar di kebunnya sendiri. Oleh karena itu pada tahun 2016, ia resmi mendirikan Kebun Kumara bersama sang suami, Dhira Narayana, dan juga adik-adiknya.
Memang awalnya ia ingin lakukan semuanya untuk diri sendiri sebagai bentuk kecintaannya pada bumi. Namun seiring berjalannya waktu, ia akhirnya mengedukasi masyarakat dan juga anak-anak untuk mau berkebun dan mau merawat tanaman. Ia ingin agar masyarakat dan anak-anak mau peduli dengan lingkungan, bisa mengenal asal muasal makanan, hingga tahu ke mana sampah harus dibuang. Ia pun berkeinginan agar masyarakat kota bisa hidup lebih dekat dengan alam. Hal inilah kemudian yang membuat dirinya dianggap sebagai salah satu figur dari 7 ‘aktivis’ pelindung bumi ala film Semes7a (2019) karya produser, Nicholas Saputra. Dari film ini pula lah namanya mulai dikenal dan Kebun Kumara pun semakin besar dan dikenal.
Dwi Sasetyaningtyas
Punya banyak keresahan atas produk-produk sekali pakai yang berujung pada penumpukan sampah terutama yang tak bisa didaur ulang, perempuan dengan sapaan Tyas ini berpikir bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk menciptakan produk ramah lingkungan yang sifatnya sustainable. Ia pun beranggapan bahwa perempuan adalah salah satu faktor utama penyebab banyaknya sampah mulai dari sampah dapur, kapas pembersih wajah, cotton bud, hingga pembalut sekali pakai. Setelah berpikir panjang, akhirnya ia membangun e-commerce bertajuk Sustaination untuk mengajak masyarakat lebih mencintai bumi dengan meminimalisir sampah lewat produk ramah lingkungan yang bisa digunakan dalam waktu lama.
Dimulai dari produk-produk rumah tangga hingga akhirnya berkembang lebih besar, Tyas punya tiga pilar utama dalam membangun usaha tersebut. Tiga pilar itu adalah sustainable, local, dan impactful. Seluruh produknya pun dikemas dengan hati-hati menggunakan kemasan yang juga eco-friendly. Jadi, tujuan utamanya ialah ia bisa memberi dampak positif terhadap ekonomi, sosial dan juga lingkungan dengan deret produk buatan lokal. Mulai dari tas belanja rajut buatan istri para nelayan, lalu menstrual cup, menstrual pad, sampo, sabun lerak, loofah, hingga sikat gigi bambu yang bisa digunakan sehari-hari.
Tak cuma itu, Tyas juga mengajak masyarakat untuk mengompos sampah rumahan yang kemudian hasilnya bisa digunakan sebagai pupuk tanaman dalam bentuk cair dan juga padat. Jadi tak cuma dipisah antara organik dan non-organik, ia juga mengedukasi masyarakat untuk melakukan pengomposan di mana alatnya turut dijual di Sustaination. Saking tergeraknya untuk melakukan perubahan, ia mengurus dan membangun semuanya sendiri dari nol mulai dari membuat media sosial, membuat website, mengedukasi, mencari partner, dan lain sebagainya, semua ia lakukan seorang diri sebagai bentuk kepeduliannya pada bumi terutama dalam hal pengolahan sampah.
Baca lagi: Circular Fashion 101
Fransisca Callista
Berbeda dengan yang lainnya, perempuan kelulusan Desain Produk ITB dan Desain Budaya Chiba University Japan ini punya cara sendiri dalam menerapkan kecintaannya pada bumi. Di sini, ia bergerak bersama masyarakat desa untuk membuat pasar lokal yang bahan bakunya semua ia ambil dari alam. Pembangunan pasar yang ia prakarsai ini pun tak cuma bertujuan untuk melestarikan budaya dan juga lingkungan tapi juga untuk memberdayakan warga desa sehingga bisa mengingkatkan taraf perekonomian mereka. Pasar ini pun dinamakan Pasar Papringan.
Berlokasi di Dusun Ngadiprono, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, ia coba mebangun Pasar Papringan dengan begitu banyak konsep di kepala. Makanan yang terjaja di sini dibuat dengan pewarna makanan alami, bahan-bahan yang bisa ditemukan di desa, dan dibungkus dengan daun atau dibawa pulang dengan wadah dari anyaman bambu. Namun, hal yang paling khas dari pasar ini tentu bukan hanya ragam makanan tradisional yang dijual dengan konsep ramah lingkungan, melainkan lokasi pasar yang berada di bawah rimbunnya hutan bambu nan indah. Jadi semakin banyak pengunjung hadir bukan cuma untuk menikmati kudapan nikmat yang dibuat secara alami tapi juga untuk meresapi keanggunan pasar ini.
Sejak awal Fransisca hadir di Ngadiprono, memang ia langsung tertarik untuk melakukan sesuatu karena baginya dusun ini punya begitu banyak potensi. Akhinya yang ia lakukan pun boleh dibilang sangat berhasil! Tak cuma membantu warga mengembangkan kualitas hidup tapi juga dalam melestarikan lingkungan setempat. Baginya, melakukan revitalisasi desa tak perlu melakukan pembangunan yang serba baru dengan mengubah ini dan itu. Tapi lebih kepada mengembangkan potensi kekayaan alam desa dan kemampuan sumber daya manusia yang sudah tersedia. Itu saja dirasa cukup bagi perempuan yang kini memutuskan untuk benar-benar mengabdikan diri untuk Pasar Papringan yang mulanya hanya sebuah kebun bambu penuh sampah.
Ukke Kosasih
Memutuskan untuk pindah dari ibukota menuju daerah Panyandaan yang ada di Cisarua, Bandung Barat, Ukke Kosasih bak membangun surganya sendiri di sebuah hunian indah bertajuk Kabin Kebun. Bak berada di negeri dongeng dengan ragam tanaman cantik yang tumbuh subur di sekitarnya, perempuan ini pun merasa hidupnya kian lengkap karena ia bisa tinggal di rumah masa tuanya sembari melakukan apa yang jadi gaya hidupnya selama ini.
Ya, Ukke memang merupakan salah satu pemerhati lingkungan yang strict terhadap pemuliaan tanaman sejak usia muda. Tak cuma itu, ia juga persona yang menanamkan gaya hidup slow living bersama suaminya sehingga perputaran barang, furnitur, dan apa pun yang ia gunakan sehari-hari cenderung sangat lamban sehingga dapat meminimalisir kuantitas sampah benda dari rumahnya. Hal ini pula lah yang ia lakukan di Kabin Kebun.
Sebuah rumah yang dikitari oleh beberapa kabin untuk diinapi oleh masyarakat umum yang ingin kabur dari hiruk-pikuk kota, adalah sebuah komplek hunian asri yang dipadati oleh tanaman subur yang tertata rapi. Tidak aja kesan rimbun dan tak terurus di tempat ini. Semua tanaman ditanam dengan sangat hati-hati, dirawat, bahkan dimuliakan tanahnya terlebih dahulu sehingga nantinya bisa menghasilkan tumbuhan yang baik dan memberi hasil yang sempurna untuk dinikmati buah, daun, hingga bunganya. Sebut saja tanaman lavender, bunga telang, rosemary, hingga berbagai bunga indah beraneka warna, semua bisa kamu temukan di tempat ini. Semua ia rawat berdua dengan suami dan sang anak saja.
Jika ke sini, kamu bisa diajarkan cara hidup slow living dan juga bercocok tanam agar bisa hidup ramah lingkungan mulai dari rumahmu sendiri. Menariknya lagi, seluruh rumah dan kabin dala Kabin Kebun ini tidak ada yang dibangun dengan menggunakan bahan bangunan baru. Semua adalah hasil reduce, reuse, dan recycle yang diterapkan oleh Ukke. Kayu rumah yang dipakai diambil dari kayu-kayu yang tak lagi difungsikan. Begitu pula dengan semua perangkat serta mebel. Semua ia cari dari toko kelontong, didapat dari pemberian orang, atau peninggalan orangtua. Jadi, konsep slow living benar-benar ia terapkan untuk meminimalisir pembuangan barang tak berguna yang sifatnya tak berkelanjutan.
Baca lagi: Tokoh Dunia yang Berdedikasi Menciptakan Kehidupan dan Lingkungan Sehat
Bukhi Prima Putri
Dikenal dengan panggilan Bukhi, perempuan yang punya toko kelontong terkurasi bertajuk Bhumi Bhuvana di Yogyakarta ini memiliki kesan mendalam pada pembelajaran hidupnya akan sustainable living. Awalnya, ia adalah seorang mahasiswi arsitektur di Universitas Budi Luhur Jakarta. Setelah itu, ia mendapat kesempatan magang di sebuah firma arsitektur tradisional yang berlokasi di Bali, tempat ia tinggal. Di tempat ini, ia nyatanya tak hanya berlajar tentang arsitektur tapi juga gaya hidup ramah lingkungan seperti bercocok tanam dan mengompos. Pengalaman inilah yang mengubah cara pandangnya terhadap hidup terutama tentang lingkungan.
Sejak itu ia terbiasa hidup demikian sehingga ia memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta dan membangun toko kelontong (bulk store) yang menjual sayur mayur, peralatan rumah tangga, aneka produk ramah lingkungan, dan berbagai macam cemilan yang dipilih secara teliti olehnya.
Selain menjadi toko, Bukhi juga menggunakan tempat ini sebagai ruang belajar bagi rekan-rekannya yang ingin belajar hidup selaras dengan alam. Kadang ia juga mengundang temannya dari Bali untuk membuat kelas sustainable living di tokonya tersebut. Berlokasi strategis di Desa Wisata Prawirotaman yang dikenal sebagai Kampung Turis Mancanegara, toko mungilnya ini hanya berukuran 40 meter persegi namun sangat manis dan dreamy. Didominasi oleh unsur kayu mulai dari rak hingga lantai, tema vintage pun diaplikasikan di sini. Tak ada kantong plastik digunakan di sini dan produk-produknya banyak ia ambil dari petani setempat.
Baca lagi:
5 Beautiful Sustainable Housings




