Tokoh dunia yang telah mengabdikan hidup mereka untuk mengakhiri ancaman penyakit kritis

Para dokter, peneliti, dan profesor dalam daftar Asia's Most Influential 2022 mendedikasikan hidup mereka untuk pelestarian kehidupan. Melalui penelitian, eksperimen, dan inovasi yang mencakup penerapan kecerdasan buatan, para tokoh hebat ini mengembangkan cara baru untuk merespons penyakit serius, seperti kanker dan penyakit jantung, bahkan pandemi virus Covid-19.

Beberapa di antaranya mengambil peran kepemimpinan di berbagai organisasi kesehatan untuk memberikan pengetahuan, mengumpulkan dana, dan melindungi orang yang paling rentan terkena penyakit. Berikut beberapa tokoh yang berdedikasi mengalahkan penyebaran penyakit kritis dan berusaha meningkatkan kesehatan global.

1. Jeff Budiman, Indonesia

Tatler Asia

CEO dan Co-Founder dari the FIT Company ini ingin memudahkan masyarakat Indonesia untuk menciptakan lingkungan sehat. Jeff Budiman percaya pada kolaborasi antara teknologi dan kesehatan. Ia memiliki visi untuk sebuah aplikasi yang akan menciptakan pendekatan kesehatan yang lebih holistik. Bersama dengan Co-Founder Prianka Bukit, ia mendirikan The FIT Company pada tahun 2014. FIT merupakan sebuah start-up teknologi yang menyatukan merek-merek teknologi kebugaran, makanan sehat, bahkan gym.

Tujuannya adalah untuk menciptakan ekosistem yang akan membuat gaya hidup sehat, yang lebih mudah diakses oleh masyarakat Indonesia. Setelah menghadapi kesulitan keuangan dalam beberapa tahun pertama, The FIT Company akhirnya mendapatkan pendanaan dari East Ventures, sebuah perusahaan modal ventura.

Sebelum mendirikan The FIT Company, Jeff adalah mitra di sebuah perusahaan pengembang perumahan berpenghasilan rendah. Ia lulus dari Monash University dengan gelar di bidang Bisnis, Akuntansi, dan Keuangan Perbankan.

2. Adeeba Kamarulzaman, Malaysia

Tatler Asia

Didedikasikan untuk melindungi kehidupan di Asia Tenggara dan sekitarnya, Dr Adeeba Kamarulzaman adalah salah satu penulis studi Delphi. Ia ingin mengakhiri ancaman global Covid-19, yang telah mengakibatkan 6,6 juta kematian per November 2022.

Konsensus multinasional diterbitkan pada Nature.com merekomendasikan, antara lain, pendekatan seluruh masyarakat dan seluruh pemerintah untuk kesiapsiagaan pandemi, pendekatan vaksin yang mencakup promosi tindakan pencegahan dan komunikasi yang jelas, serta hati-hati untuk memerangi informasi yang salah.

Pakar penyakit menular sekaligus pemimpin terkenal dalam penelitian dan tanggapan HIV dan AIDS ini bekerjasama dengan Sunway Group, Malaysian AIDS Foundation, yang diketuai oleh Adeeba. Dari itu terkumpul RM2,55 juta di Red Ribbon Gala baru-baru ini.

Dana tersebut akan mendukung program subsidi pengobatan organisasi tersebut untuk warga Malaysia yang hidup dengan HIV. Pada tahun 2022, Adeeba juga diangkat sebagai komisaris Komisi Global untuk Kebijakan Narkoba. Ia bahkan menjadi orang Malaysia pertama yang memegang jabatan tersebut.

3. Dean Ho, Singapura

Tatler Asia

Dean Ho berada di garis depan untuk kategori aplikasi kecerdasan buatan kedokteran. Pada World One Health Congress yang diadakan di Singapura pada November 2022, para pemimpin ide kesehatan digital berbagi pengetahuan tentang bagaimana platform kecerdasan buatan IDentif.AI dapat menentukan kombinasi obat dan dosis yang optimal untuk penyakit menular. Itu menjadi sebuah terobosan yang dapat mengekang wabah di masa mendatang dengan lebih cepat.

Prof Ho memegang banyak posisi kepemimpinan di bidang medis. Ia memimpin tim yang mengembangkan platform CURATE.AI, yang mengoptimalkan dosis untuk tahapan kemoterapi. Ho saat ini adalah profesor Provost’s Chair professor, direktur The Institute for Digital Medicine (WisDM), direktur The N.1 Institute for Health, dan kepala departemen Biomedical Engineering di National University of Singapore.

4. James Chih-Hsin Yang, Taiwan

Tatler Asia

Atas kontribusi ilmiahnya pada penelitian kanker toraks, Dr James Chih-Hsin Yang dianugerahi Penghargaan Ilmiah Paul A. Bunn, Jr. Scientific Award dari the International Association untuk Study of Lung Cancer pada tahun 2022. Yang merupakan direktur Graduate Institute of Onkologi di National Taiwan University. Ia memfokuskan karyanya pada perawatan kanker paru-paru, termasuk pengembangan obat baru.

Ia membantu mendirikan Epidermal Growth Factor Receptor Tyrosine Kinase Inhibitors (EGFR TKI) sebagai pengobatan garis depan untuk pasien kanker paru-paru dengan mutasi EGFR. Yang juga memimpin persetujuan afatinib generasi kedua dan pengembangan osimertinib generasi ketiga, yang ditargetkan menjadi pilihan pengobatan untuk kanker paru-paru.

Ia memperhatikan bahwa kanker “adalah penyebab utama kematian di Taiwan selama beberapa dekade” Ucapnya dalam sebuah surat yang diterbitkan oleh Pusat Kanker Universitas Nasional Taiwan. Yang mengatakan, “Tujuan akhir kami adalah untuk mengurangi beban pasien kanker dan keluarga mereka, serta memberi mereka [harapan]."