Bulan ini kami merayakan pilihan mode earth-loving dan berkelanjutan.
Sebelum kamu membaca artikel ini, bukalah lemari-mu, lihat apa yang ada di dalamnya dan coba ingat kapan terakhir kali kamu menggunakan pakaian yang sudah lama tidak kamu sentuh di bagian paling bawah. Sekarang, kira-kira apa yang akan kamu lakukan dengan baju tersebut? Jika kamu langsung berpikiran untuk membuangnya, kamu mungkin ingin berhenti sejenak, sebab kami akan memperkenalkan kamu dengan circular fashion dan cara mempraktekkannya dengan tetap stylish dan mewah pada saat yang bersamaan.
Satu hal yang tidak dapat disangkal adalah dunia fashion merupakan sebuah siklus tanpa henti. Kita didorong untuk mengikuti tren terkini dari koleksi terbaru, tetapi ketika tren tersebut mulai melemah dan digantikan dengan yang lain, pakaian yang dibeli pada musim sebelumnya akan perlahan-lahan dilupakan. Kebiasaan ini menghasilkan banyaknya limbah tekstil yang berakhir di tempat pembuangan sampah setiap tahunnya, dengan estimasi 92 juta limbah per tahun dalam skala global. Selama berabad-abad, mayoritas dari kita tidak memikirkan dampak dari kebiasaan berbelanja. Namun, seiring dengan meningkatnya perhatian pada kondisi bumi, circularity mulai dilakukan dalam fashion dengan meningkatkan kesadaran dalam berbelanja barang-barang fashion.

Above Stella McCartney memilih tempat pembuangan akhir sebagai lokasi kampanye pada tahun 2017 untuk meningkatkan perhatian pada mode berkelanjutan. Foto: Stella McCartney.
Secara sederhana, circular fashion adalah praktik produksi dan konsumsi pakaian, sepatu, dan aksesori secara bertanggung jawab. Pada dasarnya, circular fashion menggabungkan unsur dari sustainability dan circularity dalam masa hidup sebuah pakaian. Ia memperhatikan bagaimana sebuah produk diproduksi (mulai dari sumber yang digunakan hingga proses perancangan) dan didistribusikan ke masyarakat untuk digunakan selama mungkin sebelum dikembalikan ke bumi. Setiap proses menjadi perhatian dalam circular fashion, seperti berapa banyak limbah tekstil yang tertinggal, kesejahteraan pekerja yang memproduksinya, dan bagaimana ia dikembalikan ke bumi ketika tidak dapat digunakan lagi.
Sebagai konsumen, memang kita tidak memiliki kendali langsung atas proses produksi, Namun tentunya ada beberapa cara bagi kita untuk mendukung gerakan circular fashion dan menciptakan bumi yang lebih baik melalui pilihan mode yang berkelanjutan.
1. Membeli dari label yang mendukung circular fashion
Kebutuhan akan circular fashion tidak hanya disadari oleh para konsumen, banyak label pakaian- dari Levi’s hingga luxury fashion houses seperti Gucci dan Coach mulai melaksanakan berbagai proyek untuk mendukung circular fashion. Untuk referensi, kamu dapat melihat Circular Fashion Index (CFX) Kearney yang mengukur upaya brand untuk memperpanjang siklus hidup pakaian mereka. Sejumlah brand retail yang identik dengan fast fashion juga sedang memulai proyek circular mereka sendiri, seperti Zara dengan platform Zara Pre-Owned.

Above Program daur ulang denim Levi's memperbolehkan pelanggan untuk menaruh denim tidak terpakai di toko yang tersedia. Foto: Levi's.
Baca lagi: Gucci Merilis Koleksi Sustainable Fashion Perdananya Bertajuk "Off The Grid"
2. Membeli secondhand goods
Kini terdapat banyak platform daring yang menjual barang luxury preloved. Di Indonesia kita memiliki Huntstreet yang menyediakan lebih dari 15.000 barang mewah bekas oleh sekitar 350 desainer. Huntstreet juga dapat membantu kamu untuk menjual barang branded yang tidak lagi kamu pakai. Platform seperti Huntstreet mencegah barang-barang fashion yang masih layak pakai untuk dibuang sebelum masa pakainya berakhir dengan menjualnya kembali untuk dipakai selama mungkin.

Above Sejumlah brand fast fashion juga berupaya untuk mengikuti tren circular fashion. Salah satunya adalah Zara yang kini memiliki platform jual beli pakaian Zara bekas, Zara Pre-Owned. Foto: Getty.
Baca lagi: 5 Second Hand Luxury Store di Asia yang Bisa Dijadikan Referensi Belanjamu
3. Pikirkan untuk menyewa pakaian yang hanya akan kamu pakai sekali
Kita seringkali membeli pakaian yang hanya dapat dipakai untuk acara sekali seumur hidup, seperti gaun pernikahan. Tentunya setelah acara selesai kemungkinan besar gaun yang dipakai di hari spesial itu hanya akan disimpan. Sedangkan, selama proses produksi, sebuah gaun pernikahan dapat menghasilkan banyak limbah tekstil dari bahan yang dipakai. Maka dari itu, menyewa baju dapat menjadi opsi cemerlang untuk mendukung gerakan circular fashion. Tidak hanya untuk acara spesial saja, kini terdapat platform-platform yang menyewakan baju untuk keseharian, seperti Style Theory dan Rent the Runway.

Above Style Theory, brand berbasis Singapura yang menyewakan pakaian untuk segala acara. Foto: Style Theory.




