Human composting hadir sebagai pilihan bagi mereka yang menginginkan proses kematian ramah lingkungan.
Topik kematian seringkali dihindari. Tidak sedikit orang yang menolak membicarakan tentang apa yang akan terjadi ketika mereka meninggalkan dunia atau ke mana mereka akan pergi di akhirat. Tetapi, dalam suatu momen saya pernah bertanya kepada teman saya yang memeluk agama Buddha: “jika kamu meninggal, kamu ingin menjadi apa saat reinkarnasi?”, ia menjawab: "Saya tidak tahu ingin bereinkarnasi menjadi apa. Namun satu yang pasti, saya ingin tubuh saya diubah menjadi tumbuhan."
Jawabannya cukup meninggalkan kesan bagi saya, terlebih di saat ia menjelaskan jika tumbuhan adalah hal terindah yang dapat dimanfaatkan dari fisiknya. Setelah merawatnya sepanjang hidup, ia menginginkan tubuhnya memberi manfaat bagi bumi yang akan ditinggalkan, seperti pohon yang tumbuh tinggi melindungi hewan dari cuaca buruk atau bunga yang mekar dengan indah di permukaan bumi. Dahulu saya menganggap keinginannya cukup aneh. Tetapi, tampaknya kini mimpinya dapat betul-betul menjadi kenyataan dengan kehadiran metode penguraian organik secara alami atau human composting.

Above Keluarga dapat memasukkan barang-barang kenangan di dalam bejana. Foto: Return Home.
Human composting atau pengomposan manusia mewujudkan pepatah "Kamu terbuat dari tanah dan akan kembali menjadi tanah" dengan mengubah sisa-sisa manusia menjadi pupuk kompos. Meskipun sangat berbeda dari metode perawatan kematian konvensional yang dilakukan di Indonesia, human composting telah dilegalkan di enam negara bagian di Amerika Serikat dan di seluruh Swedia. New York merupakan negara bagian terakhir yang telah mengumumkan legalisasi human composting pada Januari 2023. Di Amerika Serikat semakin banyak perusahaan human composting bermunculan. Beberapa diantaranya adalah Return Home yang berbasis di Seattle, dan Recompose yang berlokasi di Washington.
Sekarang mungkin kamu berpikir – Bagaimana cara manusia bisa diubah menjadi pupuk? Perlu dipahami bahwa tubuh manusia (selain tulang dan kerangka) akan terurai secara alami setelah meninggal. Human composting mempercepat proses ini dengan menempatkan jenazah pada sebuah bejana yang dirancang khusus dan berisikan bahan organik seperti alfalfa, serbuk gergaji, dan jerami. Sebulan kemudian, tubuh akan membusuk di dalam bilik dan menyatu dengan material, sehingga hanya menyisakan tanah bernoda gelap, tulang, dan peralatan medis. Tulang yang tersisa akan diproses secara terpisah dengan dipecah menjadi fragmen sebelum digabungkan kembali dengan tanah. Dalam waktu 30 hari, semua sisa-sisa akan sepenuhnya menyatu, menghasilkan tanah yang dapat diberikan kembali kepada keluarga dan orang-orang tersayang.

Above Recompose memasukan tubuh ke dalam bejana yang dapat digunakan berulang kali. Foto: Austin Wilson/Dezeen.

Above Setelah kurang lebih dua bulan, proses human composting akan menghasilkan tanah yang subur dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Foto: Return Home.
Satu hal yang sangat menarik dari human composting adalah bagaimana tanah dari manusia hasil proses pengomposan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk menanam tanaman. Selama proses pengomposan, nutrisi di dalam tubuh manusia juga terpecah dan diserap oleh tanah, menjadikan tanah tersebut cukup subur untuk menumbuhkan sebuah tanaman. Dengan demikian, keluarga dapat memiliki kenang-kenangan hidup dari orang yang mereka cintai dalam pohon dan bunga yang ditanam sambil mengembalikan nutrisi organik ini kembali ke bumi.
Alternatif yang Lebih Ramah Lingkungan
Human composting masih menjadi topik yang diperdebatkan karena sifatnya yang tidak sejalan dengan ajaran agama dan kepercayaan mengenai martabat manusia. Tetapi satu hal yang pasti adalah human composting merupakan pilihan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan metode perawatan kematian konvensional seperti pemakaman dan kremasi.

Above Return Home memperbolehkan keluarga dan orang-orang tercinta menghias bejana dengan foto-foto kenangan. Foto: Return Home.
Pemakaman tidak hanya memakan lahan yang sudah langka, pemakaman telah ditemukan mencemari air tanah yang digunakan sebagai cadangan air, terutama di daerah pedesaan. Proses pengawetan yang harus dilakukan sebelum penguburan merusak lingkungan karena adanya bahan kimia beracun yang digunakan dalam proses ini, seperti formalin yang dapat meresap ke dalam tanah setelah jasad manusia membusuk. Sementara itu, sebuah studi tahun 2022 memperkirakan satu kremasi dapat menghasilkan sekitar 245 kilogram karbon dioksida yang dilepas ke udara. Proses kremasi yang memakan waktu tiga hingga empat jam juga membutuhkan penggunaan energi bahan bakar fosil yang signifikan.
Berbeda dengan penguburan dan kremasi, human composting tidak memiliki dampak lingkungan serupa. Human composting menggunakan energi 90% lebih sedikit daripada kremasi, menggunakan bejana yang dapat digunakan berkali-kali, dan tidak mengeluarkan bahan kimia beracun. Selain itu, sisa-sisa tanah berpotensi mengurangi jejak karbon bila dimanfaatkan sebagai pupuk untuk menyuburkan dan menumbuhkan tanaman. Oleh karena itu, setelah berabad-abad melakukan praktik tradisional yang menghasilkan dampak negatif besar pada bumi, human composting memberi kita kesempatan untuk berkontribusi dalam membentuk masa depan yang lebih hijau dan lebih berkelanjutan.




