Cover Timotius Mulyadi bertekad melatih 1.000 orang Indonesia untuk berenang,

Ikuti perjalanan Timotius Mulyadi, atlet renang dan kreator konten yang bertekad melatih 1.000 orang Indonesia untuk berenang, dari kolam renang lokal hingga ambisi internasional

Kisah Timotius di dunia renang bermula sejak usianya tiga tahun. Saat itu ia hanya berniat menemani sang kakak yang saat itu berusia tujuh tahun, berlatih renang. Di usia empat, Timotius sudah bisa mengapung dan berenang sendiri. Orang tuanya yang melihat bakat itu segera memasukkannya ke klub renang, dan sejak saat itu pukul 4.30 pagi menjadi bagian dari hidupnya. "Kalau sehari nggak berenang rasanya kayak ada yang hilang," ujar pria yang punya panggilan populer Timboi.

Baca juga: Kelly Spoon Chan dan Mel Ng: Membawa kue lapis Indonesia menjadi ikon kuliner modern

“Renang itu olahraga paling sehat, setuju enggak sih? Sehabis cedera biasanya direkomendasi untuk berlatih di air. Juga olahraga yang paling bagus untuk jantung dan tulang itu renang,” tambahnya sambil tersenyum. Bagi Timotius Mulyadi, air bukan sekadar elemen alam yang punya daya menyembuhkan. Air dan terkhusus olahraga renang, juga berarti rumah, medium ekspresi, dan jendela menuju dunia yang lebih luas. Dari kolam renang di Bekasi hingga laut terbuka di Abu Dhabi, perjalanan Timotius adalah kisah panjang tentang bakat, disiplin, dan semangat berbagi yang tak pernah surut. Ia telah menjadikan olahraga renang sebagai bentuk storytelling yang unik—visual, inspiratif, dan mengejar makna.

Prestasi bukanlah satu-satunya hal yang membuat kisah Timotius istimewa. Meskipun ia pernah meraih medali perak di PON 2016 dan perunggu di PON 2020, serta tampil di ajang internasional seperti Asian University Games dan FINA Marathon Swimming di Abu Dhabi, daya tarik utamanya ada pada cara ia menjembatani dunia akuatik dengan dunia digital. Sejak 2015, ia mulai membawa kamera ke kolam renang, merekam momen latihan dan kompetisi, dan belajar editing secara otodidak. Dari situ, lahirlah narasi baru: seorang atlet yang juga pencerita visual.

Walau ia mencoba banyak cabang olahraga lain, seperti bulutangkis (bahkan sempat masuk salah satu klub), futsal, dan basket; ia selalu kembali kepada renang. Rutinitas berenang di pagi hari terus ia pelihara hingga 21 tahun kemudian sejak pertama kali tubuhnya bersentuhan dengan air. “Berenang membuat aku bahagia dan renang bikin aku punya banyak teman dan komunitas,” ungkap Timotius. Hal ini tampak dari konten tutorial berenang dasar yang ia buat. Siapa sangka konten tersebut disambut hangat. “Aku pernah baca komentar: ‘Aku bisa berenang karena Kak Timo.’ Itu yang bikin aku terus semangat,” kata pria yang masih punya obsesi untuk menaklukkan ajang SEA Games dan Asian Games. 

Siapa tahu kamu ketinggalan membaca ini: Bagaimana Diego Yanuar menaklukkan salah satu ultramaraton tersulit di dunia

Tatler Asia
Above Timboi masih punya obsesi menaklukkan ajang SEA Games dan Asian Games.
Tatler Asia
Above Mulai berenang sejak berusia tiga tahun.

Kini, Timotius tengah mengejar sertifikasi pelatih renang internasional. Harapannya? Ia ingin mengajar 1.000 orang Indonesia untuk berenang. Ia berupaya membuat kampanye edukatif yang menjangkau kota-kota kecil, daerah pesisir, dan komunitas yang selama ini minim akses ke pelatihan renang formal. “Negara kita negara maritim, tapi banyak orang nggak bisa berenang. Aku pengen bantu ubah itu.” 

Sebagai sosok yang menyeberangi dunia atletik dan digital dengan mulus, Timotius juga membawa narasi tentang peluang. Dan ia selalu kembali ke titik awal: air dan semangat untuk berbagi.

Credits

Fotografi: Grego Gery
Pengarah gaya: Hans Hambali
Riasan: Vani Sagita
Pakaian: Atasan dan celana: Batik Keris x Spous by Priyo Oktaviano. Coat: Moral