Arnold Poernomo terus melaju menjalankan bisnis F&B (food and beverage) dan mewujudkan cita-cita membawa talenta dan cita rasa Indonesia ke panggung dunia.
Jalan yang ditempuh Arnold Poernomo di dunia kuliner bukanlah tanpa kerikil tajam atau rintangan yang sulit. It’s not a bed of roses. Perjuangan itu dimulai saat bisnis restoran milik orang tuanya mengalami kebangkrutan dan membuat mereka pindah ke Australia di tahun 1999. Di sana, ketika usianya masih remaja, Arnold sudah mulai belajar 'cari uang' dengan bekerja di restoran sebagai kitchen hand, yang tugasnya adalah mencuci piring, membantu persiapan masak, dan membersihkan dapur.
Walaupun berat, namun sepertinya pekerjaan ini memang jalan yang tepat baginya. Kisah hidupnya mungkin akan berbeda kalau Arnold waktu itu bekerja di toko buku atau retail store. Tidak berhenti sebagai kitchen hand, Arnold juga belajar tentang bahan masakan, cita rasa, hingga bagaimana sebuah restoran beroperasi. Di sinilah ia mulai mengenal bisnis F&B, bidang yang ditekuni oleh orang tuanya dan yang kemudian juga menjadi jalan hidup Arnold, tanpa berusaha untuk mengingkarinya. Culinary is in his blood.
Baca juga: Asia's Most Influential: Adrian Cheng, CEO Of New World Development And Founder of The K11 Group

Above Arnold Poernomo. (Foto: Saeffie Adjie Badas)
Tahun 2010 ia kemudian kembali ke Indonesia untuk mengelola restoran The Nest Grill di Jakarta sebagai General Manager dan kemudian sebagai chef. Pekerjaan ini membawanya berkenalan dengan Juna Rorimpandey, yang saat itu bekerja sebagai chef di restoran Jack Rabbit. Ketika Juna menjadi salah satu juri di acara MasterChef Indonesia (MCI) ia mengajak Arnold untuk menjadi juri tamu. Di musim ke-3 tahun 2013 Arnold akhirnya menjadi juri tetap, and the rest is history.
Selain beberapa restoran di Indonesia, Arnold juga mendirikan dan mengelola KOI Dessert Bar di Australia bersama kakaknya, Ronald, dan adiknya, Reynold Poernomo, yang merupakan salah satu finalis MasterChef Australia. Di Indonesia, restoran miliknya adalah Mangkokku di Jakarta, Bebini Gelati di Surabaya, dan restoran Laci di Bali. Untuk semua brand kuliner ini, kunci inovasi menu-menu yang diciptakan Arnold terletak pada,
Simplicity. Saya suka menggabungkan beberapa cita rasa dengan cerita yang apa adanya.
Perannya sebagai kepala tim juru masak di perhelatan KTT G20 tahun 2022 serta KTT ASEAN 2023 merupakan fasa yang paling menentukan dalam perjalanan kariernya. "Di momen itulah saya bisa mempertunjukkan talenta yang dimiliki oleh banyak juru masak muda di level intenasional," ujarnya.

Above Arnold Poernomo. (Foto: Saeffie Adjie Badas)
Arnold juga berhasil mengelola persiapan yang rumit, di mana hampir tidak ada toleransi untuk kesalahan sekecil apa pun, dan jamuan berjalan mulus. Lewat perannya itu Arnold juga melihat bahwa potensi Indonesia di bidang kuliner, baik dalam hal makanan maupun sumber daya manusianya, sangat besar dan ia yakin mampu 'mengguncang' dunia.
“Sayangnya, masih sangat sedikit chef yang bisa mewakili Indonesia di level internasional, masuk ke panggung yang tepat untuk mempertunjukkan dan memperkenalkan cita rasa Indonesia,” tambahnya. “Karena itu saya ingin punya lebih banyak kesempatan untuk membawa cita rasa Indonesia dan talenta kulinernya ke dunia luar, supaya talenta dan budaya kuliner kita lebih diakui oleh dunia,” ujarnya menutup percakapan dengan Tatler Indonesia.
Credits
Fotografi: Saeffie Adjie Badas
Wawancara: Judithya Pitana
Penulis: Febe R. Siahaan
Asisten fotografer: Abdul Haris T. Fatmon
Pengarah gaya: Hans Hambali
Aksesori: Rimowa
Topics




