Ikuti perjalanan Sally Tanudjaja dalam menaklukkan maraton dan menyebarkan semangat hidup sehat, membuktikan tak ada kata terlambat untuk memulai
Tak sekadar olahraga, bagi Sally Tanudjaja lari adalah cara hidup. Aktivitas yang menanamkan kedisiplinan hingga jadi bagian dari identitasnya. “Awal aku lari karena ingin kurus,” ungkap perempuan asal Bandung ini sambil diiringi tawa. Alasan yang membawanya rutin jogging sejak ia kuliah hingga akhirnya ikut event lari pertama di tahun 2012. Siapa sangka, yang semula hanya keinginan untuk mengubah bentuk tubuh, perlahan berubah menjadi kecanduan yang sehat pada sensasi bergerak, pada ritme nafas yang teratur, pada mental clarity yang muncul setelah puluhan kilometer ditempuh.
Jangan ketinggalan untuk membaca: Bagaimana Diego Yanuar menaklukkan salah satu ultramaraton tersulit di dunia

Above Sally Tanudjaja rutin berlari hingga hari ini.

Above Baginya, olahraga harus muncul dari dalam diri!
Sebagai ibu dari tiga anak, Sally menunjukkan bahwa gaya hidup sehat bisa dan perlu berakar dalam keseharian. Ia rutin berlari hingga hari ini, biasanya ia lakukan di sebuah track lari di Bandung untuk melatih speed. Agar tidak bosan, ia kombinasikan dengan jogging di sekitar rumah. Tak disangka hal ini juga membuat anak-anak dan suaminya ikut mengadopsi laku sehatnya. Meski menurut Sally, ia tak bisa memaksa ketiga anaknya yang mulai tumbuh besar untuk punya rutinitas yang sama dengannya, apalagi mereka sudah memiliki olahraga favorit masing-masing. “Olahraga itu harus muncul dari niat dalam hati,” tegasnya.
Obrolan lalu bergulir saat Sally menceritakan tentang pengalaman mengikuti maraton. Half marathon pertamanya tidak berjalan mulus. Ia mengikuti acara Bajak Jakarta yang dilangsungkan pukul 11 malam. “Aku sempat muntah-muntah. Mungkin karena nekat lari malam jadi masuk angin.” Sejak saat itu ia kian menyadari bahwa persiapan sebelum lari sangatlah penting.
“Kalau maraton pertamaku itu langsung di luar negeri dan sampai saat ini masih jadi yang paling berkesan. Di Berlin Marathon tahun 2017. Saat itu aku masih istilahnya virgin marathon,” ungkap Sally yang sudah tujuh kali menaklukkan maraton baik di dalam maupun luar negeri.
Targetnya ia ingin menyelesaikan enam Major Marathon dunia, yakni Tokyo, Boston, London, Berlin, Chicago, dan New York. “Saya kurang dua lagi nih, Tokyo dan Boston!” ungkap Sally. Target ini bukan sekadar ambisi pribadi, tapi bentuk komitmen terhadap sebuah proses yang ia jalani dengan penuh kesadaran. “Maraton itu bukan tentang lari cepat. Ini tentang kesabaran, tentang tubuh yang harus tahu kapan menahan, dan kapan mendorong,” ujarnya mencerminkan filosofi yang nyaris meditatif.
Dalam banyak hal, lari telah mengubah hidup Sally. Ia bukan lagi anak sekolah yang kabur tiap pelajaran olahraga, seperti yang diakuinya sambil tertawa, melainkan kini menjadi figur yang diperhitungkan dalam dunia gaya hidup sehat Indonesia. Ia sering berbagi lewat konten-kontennya, mengenai pentingnya nutrisi, pemulihan, dan mental preparation; hal-hal yang kerap diabaikan di tengah obsesi masyarakat pada “hasil cepat”.
Lari tak lagi sekadar untuk menaklukkan diri sendiri, ia kini jadi kreator konten sekaligus mentor informal bagi banyak perempuan Indonesia yang mengikuti jejaknya. Ia berlari untuk mewakili banyak perempuan yang ingin memulai sesuatu, tapi merasa takut, atau merasa “terlambat”. Sally ingin membuktikan bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai satu langkah kecil di depan.
Credits
Fotografi: Grego Gery
Pengarah gaya: Hans Hambali
Riasan: Vani Sagita
Pakaian: Atasan dan rok: ANW. Coat: Batik Keris x Spous by Priyo Oktaviano




