Erika Richardo menghasilkan konten melukis yang membuat namanya bersinar.
Kegigihannya menjaga konsistensi dalam menghasilkan konten melukis membuat namanya bersinar di berbagai platform sosial media. Bahkan, di 2024 Desember silam, Erika Richardo berhasil membawa pulang piala Popular Creator of The Year di ajang penghargaan salah satu sosial media ternama di Indonesia. Dikenal karena kontennya yang memberikan dampak positif, penghargaan tersebut mengukuhkan posisinya sebagai salah satu content creator yang menginspirasi lebih dari 14 juta pengikutnya serta generasi muda Indonesia secara umum.
Melalui video-videonya, ia mengajak serta pengikut serta penontonnya dalam deretan kisah kesehariannya, seakan-akan menonton acara TV berseri. Konten-konten dari proses melukis, kehidupan pribadi, hingga aksi sosialnya dikemas untuk menciptakan kedekatan emosional dengan para penontonnya—merasa bahagia dan haru bersama. Erika telah menemukan wadah untuk menggunakan talentanya dalam menumbuhkan rasa kebersamaan dan mempraktikkan kebaikan.
Baca juga: From track to tech: Meet Mench Dizon, the marathoner pushing a digital future for Filipinos
Ini semua berawal dari kenangan masa kecil yang dirajut secara organik. Sejak kecil, Erika mengaku sudah menaruh rasa ketertarikan pada dunia seni, khususnya menggambar. Beruntung, orang tuanya mendukung hal tersebut. Ia bernostalgia akan kenangannya saat kecil ketika orang tuanya mengizinkan Erika bebas corat-coret satu tembok di rumahnya. "Banyak ruang untuk mengekspresikan diri aku," ungkapnya.
Dari situlah, kegemaran Erika akan dunia lukis tumbuh subur. Meski ketika SMA ia sempat beralih ke biola dan sepak bola, pada akhirnya hanya lewat melukis lulusan Universitas Prasetya Mulya ini bisa menemukan wadah terbaik untuk mengekspresikan dirinya.
Hingga di tahun 2020, tepat saat COVID-19 merebak, ia mulai membuat konten. "Waktu pandemi tuh ada lagu Lathi yang lagi laku, terus aku bikin filter wajah ber-makeup yang bisa dipakai orang-orang," ujarnya menceritakan konten pertama yang viral.
Terinspirasi dari Emma Chamberlain—selebritas daring tersohor asal Amerika yang sampai sekarang masih diidolakan—ia terus membuat konten baru setiap hari. Tidak pernah merasa tertekan, ia jalani dengan suka cita. Perlahan, kontennya terus berkembang, proyek melukisnya kini tak hanya terbatas di medium kertas atau kanvas, tapi merambah mobil, dan baru-baru ini berkembang menjadi mimpi untuk melukis di badan pesawat.
Bertumbuh bersama sekitar
Jiwa berpetualang dan eksplorasi terus dirawat Erika, kini termasuk dibungkus dalam tontonan menarik yang disuguhkan bagi pengikutnya. Teranyar, Erika keluar dari zona nyamannya lewat konten edukasi tentang lukisan tertua di dunia yang ternyata berada di Maros, Sulawesi Selatan. Walau penuh tantangan, namun perjalanan ini akhirnya terwujud. Menurutnya, tantangan menjadi roda penggerak baginya.
Struggle means it’s time to develop something
Tak heran namanya kian menjadi sorotan. Konten-konten edukasi serta aksi sosial yang dilakukannya seringkali menggebrak sosial media, tidak hanya sekadar viral namun juga bermakna. Salah satu aksi sosial Erika yang paling menonjol adalah pembangunan sekolah PAUD di Nusa Tenggara Timur, sebuah wilayah yang memang dikenal punya tantangan besar dalam penyediaan akses pendidikan layak.
Lewat inisiasi ini Ia sukses mengumpulkan uang dari hasil penjualan lukisannya, serta sumbangan dari para pengikutnya. Tidak menyia-nyiakan talenta dan kesempatan yang ada, ia pun berangkat untuk melihat langsung serta melukis seluruh gedung sekolahan. Ilustrasi dan warna-warna cerah mengubah ruang kian semarak dan ramah bagi anak-anak PAUD. Tujuannya yang terasa sederhana namun mendalam, membangun sekolah sebagai tempat yang memiliki harapan dan menginspirasi bagi anak-anak hingga masyarakat sekitarnya. Tidak hanya terbatas pada bangunan fisiknya saja, Erika telat menciptakan dampak positif bagi sekitarnya.
Terus berlari mencapai cita-citanya, perempuan yang serius berkarier sebagai content creator sejak 2020 ini mendirikan wadah lain, "Rumah Lukis Erika". Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan aktivitas positif bagi masyarakat sekitar. Kegiatan utamanya berpusat pada sesi melukis yang diajarkan sendiri oleh Erika dan timnya.
Setiap bulannya mereka menyelenggarakan kegiatan belajar melukis ke anak-anak penderita kanker, down syndrome, hingga para lansia di panti jompo. Dengan menyebarkan kekuatan terapeutik melukis, Erika ingin memberdayakan individu yang merasa terisolasi dari masyarakat umum.
Through art we can create anything together, with anyone
Credits
Fotografi: Andre Wiredja
Pengarah gaya: Hans Hambali
Riasan: Vani Sagita
Rambut: Mellenia
Pakaian: Sejauh Mata Memandang, Sejauh Mata Memandang x Adrian Gan, Sejauh Mata Memandang x Eko Nugroho, Tanah le Saé






