Cover Steve Jobs dikenal sebagai pemimpin yang perfeksionis (Foto: Apple)

Penting adanya strategi untuk mengelola stres dengan baik karena akan memengaruhi keputusan yang akan diambil.

Di dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan saat ini, menjaga keseimbangan antara karier dan kesehatan mental telah menjadi tantangan besar, terutama bagi para pemimpin. Mereka yang berada di posisi kepemimpinan sering kali harus mengambil keputusan penting, menangani berbagai tekanan, dan menjaga kinerja tim mereka tetap optimal. Namun, perlu disadari pentingnya menjaga kesehatan mental dan fisik mereka sebagai investasi yang berharga. Mengabaikan kesehatan mental dalam jangka panjang bisa berdampak buruk, baik bagi individu itu sendiri maupun bagi organisasi yang mereka pimpin.

Baca juga: 8 women who found success after 40

Pentingnya keseimbangan antara karier dan kesehatan mental

Keseimbangan antara karier dan kesehatan mental bukanlah hal yang dapat dipandang sebelah mata. Tanpa adanya keseimbangan, seseorang bisa merasa kewalahan, kelelahan, atau bahkan mengalami burnout. Pemimpin yang tertekan dan lelah tidak hanya akan memengaruhi kinerja mereka sendiri, tetapi juga bisa berdampak pada tim dan keseluruhan organisasi. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental menjadi salah satu faktor kunci dalam meraih kesuksesan jangka panjang.

Pemimpin yang sukses tidak hanya fokus pada pencapaian karier, tetapi juga mengakui pentingnya menjaga kesejahteraan pribadi. Mereka memahami bahwa dengan tubuh dan pikiran yang sehat, mereka akan dapat mengambil keputusan yang lebih baik, bekerja lebih efisien, dan memimpin dengan lebih bijaksana. Dalam dunia yang semakin menuntut, penting untuk memahami bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada kesehatan diri sendiri.

Mengelola stres dan tekanan

Masalah baru hampir tidak dapat dihindari dalam berbisnis. Bahkan setiap hari akan ada saja tantangan yang dapat menimbulkan stres. Belum lagi jika harus dihadapkan oleh pemilihan keputusan yang besar. Semua pertimbangan akan memenuhi pikiran. Namun jangan khawatir, karena kuncinya ada pada pengelolaan stres. Cara instan yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan teknik pernapasan dalam untuk menenangkan pikiran atau sekedar berbicara dengan orang terdekat.

Selain itu, ada beberapa kebiasaan yang dipercaya akan membuat tingkat stres mampu dikontrol, yakni memerhatikan asupan gizi, istirahat yang cukup, dan rutin berolahraga. Ketiga hal ini terdengar sangat remeh tapi justru memiliki peran yang cukup penting.

 

 

Tatler Asia
Above Robert Igor (Foto: Instagram /@robertiger)

Robert Iger, CEO dari Disney misalnya. Dalam podcast  bersama In Good Company, memaparkan pentingnya olahraga dalam kegiatan sehari-harinya. Harinya dimulai pukul 4 pagi dan berolaharaga selama 45 menit. Tak peduli kekacauan yang terjadi, olahraga telah membantunya berpikir lebih jernih. Selain itu juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan tidak mudah lelah.

Pentingnya waktu untuk diri sendiri

Pemimpin yang sukses memahami bahwa waktu untuk diri sendiri adalah hal yang sangat penting. Kita sering kali terlalu fokus pada pekerjaan dan lupa untuk memberi waktu bagi diri sendiri. Hal ini bisa menyebabkan kelelahan mental dan fisik, yang akhirnya memengaruhi kinerja di tempat kerja. Oleh karena itu, banyak pemimpin yang menyisihkan waktu khusus untuk bersantai, berlibur, atau hanya menikmati waktu bersama keluarga dan teman-teman.

Menghabiskan waktu untuk diri sendiri memungkinkan pemimpin untuk mengisi ulang energi, mereset pikiran, dan kembali bekerja dengan semangat baru. Ini juga memberikan kesempatan untuk refleksi pribadi dan membantu mereka untuk tetap terhubung dengan tujuan hidup mereka di luar pekerjaan.

Mengelola harapan dan menghindari perfeksionisme

Salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh pemimpin adalah mengelola harapan, baik dari diri sendiri maupun dari orang lain. Terkadang, pemimpin merasa tekanan untuk selalu memberikan yang terbaik dan mencapai hasil yang sempurna. Namun, perfeksionisme dapat menjadi musuh kesehatan mental yang besar.

Steve Jobs dikenal sebagai salah satu leader yang cukup perfeksionis. Telah banyak beredar cerita bahwa ia menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk memperhatikan detail-detail kecil sebelum sebuah produk dirilis di pasaran. Salah satu contohnya adalah penghentian produk yang kurang sempurna, atau bahkan penggunaan waktu berhari-hari untuk memilih desain casing komputer yang tepat.

Untungnya, saat kembali ke Apple setelah lama absen, Jobs telah mengurangi perfeksionismenya. Seiring berjalannya waktu, Jobs mulai menyeimbangkan perfeksionismenya dengan membangun tim yang dapat dipercaya, yang membuat Apple lebih mampu untuk menjangkau pasar massal.

Ciptakan budaya kerja yang mendukung

Seorang pemimpin yang baik tidak hanya menjaga kesejahteraan diri sendiri, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental bagi timnya. Ini berarti mengedepankan pentingnya komunikasi terbuka, memberikan dukungan emosional, dan menciptakan suasana kerja yang inklusif dan tidak membebani. Pemimpin yang peduli terhadap kesehatan mental timnya akan membantu menciptakan keseimbangan yang sehat antara tuntutan pekerjaan dan kebutuhan pribadi.

Kesejahteraan mental yang baik di dalam tim dapat meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan kepuasan kerja secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemimpin yang sukses berinvestasi dalam menciptakan budaya perusahaan yang memperhatikan kesehatan mental dan memberikan ruang bagi karyawan untuk tumbuh dan berkembang dengan cara yang sehat.

Topics