Cover Storytelling adalah benang merah yang menjahit setiap karya Christie Basil (Foto: Andre Wiredja)

Dari gaun pengantin hingga konten viral di TikTok, Christie Basil membuktikan bahwa kekuatan emosi, empati, dan storytelling dapat mengubah dunia fashion sekaligus memperluas pasar hingga mancanegara

Di balik layar dunia fashion yang kerap glamor, Christie Basil menemukan panggilan hatinya bukan hanya sebagai seorang desainer, melainkan juga sebagai storyteller. Nama Christie mungkin telah dikenal publik sebagai pencipta gaun-gaun pengantin yang elegan, namun siapa sangka perjalanan kariernya dimulai dari titik yang tidak terduga.

"Awalnya aku menjalani profesi sebagai desainer selama 2-3 tahun, dengan mengandalkan digital marketing dan iklan untuk brand-ku. Tapi saat pandemi melanda di 2020, semua strategi itu seolah lumpuh. Mau menghabiskan budget sebesar apapun, hasilnya nihil," kenang Christie.

Baca juga: Wulan Guritno: unapologetically herself

Tatler Asia
Above Christie Basil percaya setiap gaun menyimpan cerita dan ia hanya membantu merangkainya (Foto: Andre Wiredja)

Di tengah kebuntuan, TikTok menjadi pintu masuk tak terduga menuju babak baru dalam kariernya. Dari sekadar scroll, ia menemukan konten fashion designer asal Selandia Baru yang menampilkan proses kreatif pembuatan gaun. Di sanalah titik baliknya: "Aku sadar, kenapa tidak aku coba juga? Waktu itu belum ada yang melakukan hal serupa di Indonesia."

Dengan pendekatan storytelling yang mengedepankan kisah para pengantin yang ia desainkan gaunnya, Christie mulai membagikan sisi emosional dari tiap karyanya. Kontennya viral. Salah satu video pertamanya yang membahas pernikahan tiga agama bahkan menyentuh jutaan views. Sejak itu, narasi personal menjadi elemen yang tak terpisahkan dari karya digitalnya. "Menurut aku yang bikin proses itu bernilai adalah keterlibatan emosionalnya. Setiap klien punya cerita, dan sayang banget kalau cerita itu cuma aku yang tahu."

Menurut aku yang bikin proses itu bernilai adalah keterlibatan emosionalnya. Setiap klien punya cerita, dan sayang banget kalau cerita itu cuma aku yang tahu.

- Christie Basil -

Untuk menggali cerita para kliennya, Christie menggunakan pendekatan personal yang ia pelajari dari pengalaman panjang menjalani terapi dan ketertarikannya terhadap psikologi. Ia bahkan memiliki interview  template khusus agar klien bisa mengungkapkan kisah mereka dengan nyaman. "Mungkin karena dari awal kontenku memang emotional-driven, jadi klien yang datang ke aku pun sudah tahu bahwa mereka bisa aman untuk jadi vulnerable. Mereka datang dengan keterbukaan."

Namun di balik sisi kreatif itu, Christie tetap membumi sebagai pebisnis. Ia memahami pentingnya membedakan antara konten yang ditujukan untuk engagement dan konten yang bersifat konversi. "Viewers besar penting untuk awareness, tapi konten dengan viewers kecil justru bisa punya conversion rate tinggi. Karena mereka lebih targeted."

Di era media sosial yang serba cepat dan terintegrasi, strategi konten Christie berpijak pada dua prinsip utama: research dan filtering. "Harus update dengan tren, tapi tetap punya tren filter. Kita harus tahu konten mana yang bisa memperkuat identitas kita." Ia juga tidak ragu memanfaatkan AI sebagai alat bantu. "AI bantu banget untuk proses awal, seperti ideation atau draft script. Tapi bagian akhir tetap perlu manusia. AI tidak punya intuisi, emosi, dan empati."

Sebagai kreator, ia tidak ingin dikenal hanya sebagai content creator atau fashion designer. "Aku ingin dikenal sebagai storyteller-designer." Untuk para kreator baru, Christie memberikan satu pesan: "Jangan menunggu untuk sempurna. Sekarang sudah banyak sekali tools yang bisa kita gunakan. Mulai saja dulu."

Aku ingin dikenal sebagai storyteller-designer.

- Christie Basil -

Dalam lima tahun ke depan, ia membayangkan dirinya masih berkutat dengan storytelling yang sama, namun dengan kedalaman dan perspektif yang makin tajam. Bahkan, kini gaun buatannya telah menjangkau pasar internasional. "Klien kami dari Rusia, AS, Singapura, Malaysia, Australia sudah banyak. Kontenku di-translate otomatis ke berbagai bahasa. Semua tetap fitting di studio kami di sini."

Di tangan Christie Basil, sehelai gaun bukan hanya busana—tapi juga cerita. Dan di era digital ini, setiap cerita punya panggungnya sendiri.

Credits

Fotografi: Andre Wiredja - NPM Photography
Pengarah gaya: Hans Hambali
Penulis: Judithya Pitana
Riasan: Vani Sagita
Rambut: Dita Wiradisastra
Pakaian: DIBBA