Cover Luna Maya menjalani hidup dengan ketegasan dan kelembutan. Memilih apa yang penting, melepaskan sisanya (Foto: Hariono Halim)

Dengan ketenangan yang matang dan visi yang jernih, Luna Maya menjalani hidup di jalannya sendiri—memilih apa yang penting, menjaga keseimbangan, dan merayakan cinta

Ada ketenangan tertentu yang mengikuti kehadiran Luna Maya. Penuh kendali dan terbuka. Rasanya ia makin memahami apa yang penting dan tidak. Lebih dari dua dekade ia telah berkecimpung di industri hiburan, merintis menjadi aktris, pebisnis, hingga seorang figur yang berpengaruh di jagad digital. Tentu ia telah banyak belajar bahwa bertahan dalam industri yang keras ini bukan hanya perkara mengejar, tapi tahu kapan harus bergerak, beristirahat, dan diam. “Aku selalu menjalani semuanya saja dulu,” katanya ringan. Bukan karena tak peduli, tapi karena tahu apa yang layak dipedulikan.

Tak ada peta besar yang mengarahkan langkah Luna. Tentu ia punya target dan ambisi, tapi yang terpenting adalah kejelasan: tentang siapa dirinya, dan apa yang bermakna untuknya. “Aku pilih apa yang mau aku pedulikan,” ujarnya. Sisanya? Dilepas saja. Ketahanan mental seperti itu tidak muncul begitu saja. Ia pernah menangis karena komentar-komentar jahat. Sekarang? “Maaf, aku tidak punya waktu untuk itu.”

Baca juga: 10 kutipan bijak tentang perjalanan dari penulis terkenal sepanjang masa

Tatler Asia
Above Luna Maya menjadi salah satu brand ambassador ZAP bersama Maxime Bouttier, Pevita Pearce, Winky Wiryawan, Wulan Guritno, dan Ayu Dewi (Foto: Hariono Halim)

Talent dan attitude sama pentingnya. Tapi orang dengan attitude yang baik dan kemauan yang besar sering kali lebih mampu bertahan.

- Luna Maya -

Kekuatan ini merupakan hasil dari perjalanan panjang. Ia pernah jatuh, lalu bangkit lebih tinggi. Bagi Luna Maya, bakat atau talent tidak selalu jadi penentu. “Talent dan attitude sama pentingnya. Tapi orang dengan attitude yang baik dan kemauan yang besar sering kali lebih mampu bertahan. Sebab hal-hal teknis bisa dipelajari; yang lebih sulit adalah membentuk karakter,” tambah Luna. Sebut saja kerendahan hati untuk belajar, disiplin untuk terus mencoba, dan etika kerja yang konsisten, menurutnya hal itu merupakan kualitas-kualitas yang akan membuat seseorang bertahan. 

Meskipun saat ini banyak orang melabeli dirinya sebagai sosok yang ada di puncak kesuksesan, Luna rupanya punya definisinya sendiri. Bukan cuma finansial, tapi juga kesehatan, keseimbangan hidup, dan kemampuan untuk hidup dengan utuh. “Sukses itu saat kamu cukup, seimbang, dan tetap bahagia jadi diri sendiri,” katanya.

Sukses itu saat kamu cukup, seimbang, dan tetap bahagia jadi diri sendiri

- Luna Maya -

Apa yang membuat Luna menarik justru dari kejujurannya. Di saat banyak orang berlomba terlihat sempurna, Luna kerap tampil apa adanya bahkan cenderung cuek. “Beberapa teman suka tanya, kamu keluar rumah kok enggak pakai make up? Atau saat aku ke pantai pakai sunscreen di wajah sampai terlihat putih. Aku mau kulitku terlindungi. Aku tidak ambil pusing orang mau bilang apa, aku yang tahu kebutuhanku,” kenang Luna. Baginya, kesan cuek bukan berarti mengabaikan diri. Justru ia tahu mana yang esensial termasuk menjaga kesehatan kulit. Sebagai bagian dari self-care, ia rutin menjalani Thermage FLX dan Ultherapy Prime di ZAP Premiere untuk menjaga kulit tetap kencang dan sehat.

Saat bertemu untuk pemotretan cover bersama Tatler dan ZAP, Luna tengah berada di masa yang istimewa. Bersama Maxime Bouttier, mereka sedang mempersiapkan resepsi pernikahan di Jakarta bersama ZAP Premiere. Ada ketenangan yang memancar, matanya menyala lembut saat sesekali menyapa Maxime yang juga berada di ruang yang sama. Merawat diri, baginya, bukan demi memenuhi ekspektasi orang lain, melainkan untuk merayakan hidup dan cinta yang sedang ia jalani.

Terhadap perubahan teknologi pun ia tak kaku. AI baginya bukan ancaman, tapi alat. “Yang AI nggak punya itu rasa,” ujarnya. Dan justru rasa itulah, seperti intuisi, empati, naluri yang jadi kekuatan manusia. Termasuk dirinya.

Yang juga menarik dari Luna adalah keberaniannya untuk bilang “tidak”. Tidak untuk pekerjaan yang mengorbankan kesehatan mental. Tidak untuk menyenangkan semua orang. “Kadang kita harus egois sedikit,” katanya. Itulah kekuatan Luna, dalam keberaniannya menarik batas, dalam hidup tanpa harus dinilai, dalam menolak definisi sukses yang tidak cocok untuk dirinya.

Credits

Fotografi: Hariono Halim
Pengarah gaya: Vanie Astecat
Arahan mode: Hans Hambali
Penulis: Adeste Adipriyanti
Riasan: Ryan Ogilvy
Rambut: Shabura
Asisten pengarah gaya: Balo Arenthus Lie, Afiat Nurhasan
Pakaian: Hian Tjen
Perhiasan: Bvlgari