Dengan keteguhan dan kelembutan, Wulan Guritno merangkul perubahan, merayakan keaslian, dan menjadi suara bagi perempuan di industri hiburan
Di dunia hiburan yang bergerak secepat sorotan kamera, hanya sedikit sosok yang mampu bertahan tanpa kehilangan esensi. Wulan Guritno adalah salah satunya. Lebih dari dua dekade berada di industri yang terus berevolusi, ia tetap relevan bukan karena mengikuti arus, tetapi karena ia tahu kapan harus tetap diam, kapan harus bersuara, dan yang terpenting, kepada siapa ia ingin hadir secara autentik.
Namun menjadi ikon tak berarti terjebak dalam citra. Wulan tak pernah takut menunjukkan kerentanannya. Ia percaya bahwa proses menua bukan sesuatu yang perlu dilawan, melainkan dirangkul. Baginya, usia menghadirkan ketajaman intuisi dan kelegaan untuk memilih dengan bijak. Di balik elegansi luar yang tetap bersinar, ada kekuatan dalam yang tumbuh justru dari penerimaan terhadap perubahan, baik fisik, emosional, maupun spiritual.
Baca juga: Laporan Kebahagiaan Dunia 2025 ungkap kunci kepuasan hidup

Above Wulan Guritno menjadi salah satu brand ambassador ZAP bersama Luna Maya, Maxime Bouttier, Pevita Pearce, Winky Wiryawan, dan Ayu Dewi (Foto: Hariono Halim)
Sebagai ibu, aktris, dan aktivis sosial, Wulan menanamkan nilai yang sama kepada anak perempuannya dan generasi muda perempuan: bahwa mencintai diri sendiri bukanlah tujuan akhir, tetapi proses harian yang dimulai dari menerima diri apa adanya. Ia menolak narasi bahwa kepercayaan diri hanya datang setelah kesempurnaan diraih. Justru, ia menegaskan bahwa kita berhak merasa cukup, bahkan di tengah luka, bekas, atau kekurangan.
Keterbukaannya mengenai kesehatan mental dan isu perempuan bukan sekadar strategi publik. Sudah lama Wulan menjadi suara vokal dalam mendorong terciptanya ruang aman bagi perempuan di industri hiburan. Menurutnya, glamor dan sorotan sering kali menutupi kenyataan yang lebih gelap: tekanan mental, standar kecantikan yang tak realistis, dan kurangnya dukungan emosional di balik layar. Ia terus mendorong percakapan jujur yang melampaui sekadar kampanye sesaat.
AI bisa jadi alat, bukan pengganti. Rasa dan emosi tetap milik manusia
Di tengah perbincangan global tentang teknologi dan kecerdasan buatan, Wulan bersikap terbuka namun tegas. Ia mengakui potensi AI untuk mendokumentasikan perjalanan kreatif, bahkan sebagai arsip hidup. Namun, ia juga menyoroti perlunya etika yang jelas. “AI bisa jadi alat, bukan pengganti. Harus ada izin dan konteks. Rasa dan emosi tetap milik manusia,” katanya dengan mantap. Sebagai seorang storyteller, Wulan ingin menjaga integritas narasi—yang bukan hanya benar secara teknis, tetapi juga tulus secara emosional.
Dalam ranah kecantikan dan kesehatan kulit, ia juga menghidupi filosofi yang sama: memilih keaslian di atas performa. Setelah melalui berbagai klinik kecantikan dengan hasil yang tak memuaskan, ia akhirnya menemukan pendekatan yang cocok bersama ZAP. Kombinasi perawatan seperti Laser CO2 Fractional, PRP Microneedling, Rejuran S, dan Exosome tak hanya membantu menghilangkan bekas jerawat yang sempat mengganggu, tapi juga membangun kulit dari dalam. Kini, tampil bare face bukan lagi sesuatu yang menakutkan, melainkan bentuk perayaan terhadap dirinya yang sebenarnya.
Wulan Guritno bukan hanya ikon dari masa lalu yang tak lekang oleh waktu—ia adalah representasi perempuan masa kini yang kuat tanpa harus membuktikan, lembut tanpa harus meminta izin, dan terus bertumbuh tanpa kehilangan arah. Dalam dunia yang semakin kurasi dan algoritma, ia tetap memilih keaslian sebagai kompasnya. Dan justru dari situlah, relevansinya tak pernah pudar.
Credits
Fotografi: Hariono Halim
Pengarah gaya: Vanie Astecat
Arahan mode: Hans Hambali
Penulis: Judithya Pitana
Riasan: Indah Shafyra
Rambut: Firda
Asisten pengarah gaya: Balo Arenthus Lie, Afiat Nurhasan
Pakaian: Hian Tjen
Perhiasan: Bvlgari




