(Photo: Nathan Dumlao / Unsplash)
Cover Para peneliti menemukan bahwa kemurahan hati dan kepercayaan kepada orang lain merupakan faktor positif yang berkontribusi terhadap kebahagiaan (Foto: Nathan Dumlao / Unsplash)
(Photo: Nathan Dumlao / Unsplash)

Studi tentang kebahagiaan yang baru dirilis juga memperlihatkan negara-negara paling bahagia di dunia

Apa yang benar-benar membuat orang bahagia? Laporan Kebahagiaan Dunia 2025 memberikan jawaban yang jelas: kebaikan hati dan kepercayaan sosial merupakan salah satu pendorong paling kuat untuk mencapai kepuasan hidup. Dalam studi baru yang dirilis pada Hari Kebahagiaan Dunia pada tanggal 20 Maret, para peneliti menemukan bahwa tindakan kemurahan hati dan kepercayaan kepada orang lain memberikan kontribusi lebih besar terhadap kesejahteraan daripada, misalnya, pertumbuhan pendapatan.

Contoh mencoloknya adalah “eksperimen dompet hilang”, yang mengungkap sebuah kebenaran: mempercayai bahwa orang asing akan mengembalikan dompet Anda yang hilang memprediksi kebahagiaan lebih kuat daripada menghindari kesulitan keuangan atau bahkan kejahatan.

Baca juga: Perbudakan modern masih ada—namun aktivis Matthew S Friedman berjuang untuk mengakhirinya

Seseorang lebih baik dari yang kita kira

Namun, banyak orang meremehkan kebaikan orang-orang di sekitar mereka. Laporan tersebut menemukan bahwa tingkat pengembalian dompet sebenarnya hampir dua kali lebih tinggi dari yang diharapkan orang—terutama di negara-negara dengan kepercayaan sosial yang tinggi.

Misalnya, dalam studi dompet hilang di Kanada, responden memperkirakan tingkat pengembalian sebesar 23 persen, namun pada kenyataannya, lebih dari 80 persen dompet dikembalikan. Sebuah studi di 40 negara menggemakan temuan ini, yang menunjukkan bahwa tingkat pengembalian dompet sebenarnya 1,8 kali lebih tinggi dari yang diharapkan. Kesalahpahaman yang meluas ini kemungkinan besar mengurangi kebahagiaan kolektif, terutama di negara-negara yang tingkat kebahagiaannya lebih rendah.

Perubahan dalam peringkat kebahagiaan global

Selama delapan tahun berturut-turut, Finlandia menduduki peringkat sebagai negara paling bahagia di dunia, diikuti oleh negara-negara tetangga Nordiknya, seperti Denmark, Islandia, dan Swedia. Namun, laporan tahun 2025 menyoroti perubahan besar: untuk pertama kalinya, tidak ada satu pun negara industri terbesar di dunia yang menempati peringkat 20 teratas untuk kebahagiaan, yang menyoroti penurunan kesejahteraan yang lebih luas di antara negara-negara ekonomi Barat. Hal ini menunjukkan bahwa kebahagiaan didorong oleh lebih dari sekadar kemakmuran ekonomi—faktor-faktor seperti kepercayaan sosial, ikatan komunitas yang kuat, dan rasa aman memainkan peran yang lebih besar.

Amerika Serikat turun ke posisi ke-24, peringkat terendahnya hingga saat ini. Penurunan ini terkait dengan meningkatnya rasa kesepian dan polarisasi politik, yang mencerminkan tantangan sosial yang lebih dalam.

Di Asia, Taiwan berada di posisi ke-27, diikuti oleh negara-negara seperti Singapura (ke-34), Vietnam (ke-46), Thailand (ke-49), Filipina (ke-57), dan Malaysia (ke-64). Meskipun peringkat ini menunjukkan ruang untuk perbaikan, namun peringkat ini juga menyoroti kekuatan regional: kohesi sosial, ikatan keluarga, dan ketahanan dapat mengimbangi faktor-faktor negatif seperti tantangan ekonomi.

Kunci kebahagiaan adalah koneksi

Kesenjangan kebahagiaan yang semakin besar antarwilayah memperkuat pesan yang jelas: kebahagiaan bukan hanya tentang uang—melainkan tentang hubungan, kepercayaan, dan komunitas. Ikatan sosial yang kuat berperan sebagai penyangga terhadap tantangan hidup, namun rasa kesepian terus meningkat. Pada tahun 2023, 19 persen orang dewasa muda di seluruh dunia melaporkan tidak memiliki siapa pun yang dapat diandalkan untuk mendapatkan dukungan sosial—peningkatan sebesar 39 persen sejak tahun 2006.

Meskipun menghadapi tantangan ini, laporan tersebut menawarkan cara-cara yang dapat ditindaklanjuti untuk meningkatkan kebahagiaan. Memberi akan terasa jadi hal yang paling memuaskan jika: memperkuat hubungan sosial, bersifat sukarela dan bukan wajib, serta menciptakan dampak yang berarti bagi pemberi dan penerima.

Laporan kebahagiaan tahun ini memberi kita harapan: kita semua dapat bergerak lebih dekat ke kebahagiaan yang dinikmati oleh negara-negara paling bahagia di dunia dengan selalu memimpin dengan kebaikan.


This story was originally written in English by Clifford Olanday.

Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris oleh Clifford Olanday dan diterbitkan pada 21 Maret 2025. Read the original story here.


Baca juga:

Bagaimana para pemimpin perempuan yang inspiratif ini mengangkat derajat keluarga, perempuan, dan anak-anak

Selebriti Asia yang berpengaruh ini adalah suara yang kuat dalam dunia mode global

Bagaimana wanita paling berpengaruh di Asia membuka jalan bagi pemimpin wanita masa depan

Topics