Nurun Najah Tarmidzi, Direktur Program Sarjana Komunikasi Massa dan Dosen di Sekolah Media & Komunikasi di Universitas Taylor, mengeksplorasi mengapa kualitas manusia berupa kecerdasan emosional, pemikiran strategis, dan penilaian etika (masih) sangat diperlukan dalam dunia PR
Ketika Bill Gates memberi tahu Jimmy Fallon bahwa kecerdasan buatan (AI) pada akhirnya dapat menggantikan para profesional seperti dokter dan guru, hal itu memicu perdebatan global. Profesi-profesi ini berakar kuat pada empati, komunikasi, dan kepercayaan—mencerminkan esensi sejati hubungan masyarakat (PR).
AI tak diragukan lagi mentransformasi PR dengan mengotomatiskan tugas, menganalisis data, dan meningkatkan produktivitas. Namun, seiring AI dengan cepat membentuk kembali industri seputar otomatisasi, pembelajaran mesin, dan model bahasa yang luas, satu pertanyaan penting muncul: Bisakah AI benar-benar mereplikasi sentuhan manusia yang esensial bagi PR?
Baca selengkapnya: Iqbal Ameer berbicara tentang inovasi blockchain dan peran AI dalam ekonomi pengalaman
Mitos 1: AI Dapat Menggantikan Praktisi Humas Sepenuhnya

Above Namun, PR bukan hanya sekedar profesi yang berbasis pada tugas—ini adalah praktik yang mengutamakan manusia
AI memang telah meningkatkan banyak fungsi PR. Kini tersedia alat untuk menyusun siaran pers, melacak liputan media, dan menganalisis sentimen media dalam hitungan detik. Fungsi-fungsi ini menghemat waktu dan meningkatkan akurasi.
Namun, PR bukan sekadar profesi berbasis tugas—melainkan praktik yang mengutamakan manusia. Esensi PR terletak pada membangun dan memelihara hubungan antarmanusia, menavigasi nuansa, dan menafsirkan konteks. Tidak ada algoritma yang dapat menafsirkan nuansa budaya yang sensitif atau memutuskan untuk menghentikan kampanye saat terjadi tragedi nasional, seperti wafatnya seorang raja atau tokoh politik . Tingkat ketajaman seperti itu membutuhkan empati dan penilaian moral manusia.
PR profesional memiliki sesuatu yang tidak dapat dimiliki AI, seperti kecerdasan emosional, kehalusan bercerita, dan kesadaran budaya. Kualitas-kualitas ini penting ketika pesan menjadi sangat penting.
Mitos #2: AI Bisa Menulis Sebaik Manusia
Alat AI seperti ChatGPT, Jenni AI, Perplexity AI, atau Grammarly berguna untuk mempercepat proses pembuatan konten.
Mereka membantu dalam tata bahasa, struktur, dan bahkan penyusunan draf dasar. Namun, konten PR yang menarik lebih dari sekadar salinan yang bersih. Konten tersebut harus selaras secara strategis, memiliki narasi yang kuat, dan konsisten dengan suara merek. Misalnya, bahasa dalam siaran pers untuk investor sangat berbeda dengan postingan blog untuk konsumen.
AI mungkin menawarkan struktur dan saran—tetapi hanya penulis manusia yang dapat menyusun cerita yang berkesan, menghubungkan, dan menginspirasi.
Mitos #3: AI Akan Menghilangkan Kebutuhan Akan Hubungan Media
Ya, AI dapat menggali basis data untuk menyarankan jurnalis yang relevan dan waktu promosi yang ideal. Fitur-fitur ini dapat menyederhanakan riset dan penargetan. Namun, PR bukan hanya tentang mengirimkan pesan yang tepat—melainkan tentang mengirimkannya kepada orang yang tepat, dengan cara yang tepat, pada waktu yang tepat. Membangun hubungan adalah landasan hubungan media. Jurnalis menghargai keaslian, relevansi, dan kepercayaan—kualitas yang tidak dapat ditiru oleh AI.
Praktisi PR yang berpengalaman tahu cara mempersonalisasikan promosi, memahami preferensi jurnalis, dan menindaklanjutinya tanpa melewati batasan profesional. Dinamika hubungan ini dipupuk melalui percakapan antarmanusia, pengalaman bersama, dan hubungan jangka panjang.
Mitos #4: AI Menjamin Manajemen Komunikasi Krisis yang Lebih Baik

Above Komunikasi krisis melibatkan keputusan yang rumit, sering kali dibuat di bawah tekanan dan dalam lingkungan yang sarat emosi
AI unggul dalam memindai platform, mengidentifikasi pola risiko, dan menandai potensi krisis PR sebelum memburuk. Sistem peringatan dini ini sangat berharga dalam lingkungan media yang serba cepat saat ini.
Namun, begitu krisis terjadi, penanganannya membutuhkan lebih dari sekadar data waktu nyata. Komunikasi krisis melibatkan keputusan yang rumit, seringkali dibuat di bawah tekanan dan dalam lingkungan yang sarat emosi. Kuncinya adalah memilih nada yang tepat dengan penuh kasih sayang dan kepedulian, menerima tanggung jawab, dan menangani para pemangku kepentingan dengan cara yang meredakan ketegangan, alih-alih memengaruhinya.
Mitos #5: AI Membuat Strategi Menjadi Usang

Above Nurun Najah Tarmidzi adalah Direktur Program Sarjana Komunikasi Massa (Honours) (Hubungan Masyarakat) dan Dosen di Sekolah Media & Komunikasi di Universitas Taylor
AI dapat memberikan wawasan dari data dalam jumlah besar, membantu tim PR memahami tren, audiens, dan kinerja kampanye. Hal ini berguna untuk membuat keputusan berbasis data.
Namun, strategi lebih dari sekadar analitik—melainkan tentang visi, nilai, dan keselarasan. Strategi melibatkan pemosisian tujuan merek dengan kepentingan publik, mengidentifikasi peluang untuk keterlibatan yang bermakna, dan beradaptasi dengan tren budaya.
Praktisi PR bukan sekadar komunikator. Mereka adalah ahli strategi, pembangun hubungan, dan pendongeng yang memahami nuansa, menavigasi kompleksitas, dan menciptakan koneksi yang tulus. Inilah elemen-elemen yang tidak dapat direplikasi oleh AI, betapa pun canggihnya algoritmanya.
Alih-alih takut pada AI, industri seharusnya merangkulnya sebagai mitra yang tangguh, bukan pengganti. Dengan memanfaatkan kemampuan AI dan koneksi manusia, praktisi PR dapat memberikan keterlibatan yang lebih berdampak dan autentik di dunia yang semakin digital ini.
This story was originally written in English by Nurun Najah Tarmidzi.
Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris oleh Nurun Najah Tarmidzi dan diterbitkan pada 26 Maret 2025. Read the original story here.
Nurun Najah Tarmidzi adalah Direktur Program Sarjana Komunikasi Massa (Honours) (Hubungan Masyarakat) dan Dosen di Sekolah Media & Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial & Manajemen Rekreasi, Universitas Taylor Malaysia.




