Di tengah riuhnya industri hiburan Indonesia yang bergerak cepat dan terus berubah, Cinta Laura Kiehl tetap menjadi sosok yang tak hanya bertahan, tapi juga berkembang. Hari ini, Cinta adalah arsitek dari berbagai inisiatif yang menyatukan seni, sosial, dan bisnis dalam satu semangat: memberdayakan Indonesia lewat pikiran yang merdeka
Setelah lebih dari 18 tahun berkarya, Cinta tampak semakin yakin dengan langkahnya. Termasuk saat bulan Mei lalu melenggang anggun di karpet merah Cannes Film Festival 2025 untuk ketiga kalinya mewakili Indonesia dengan kebaya rancangan Intan Avantie yang membuatnya merasa paling autentik selama perjalanannya ke Cannes. Penampilan Cinta Laura Kiehl pun menuai pujian sebagai salah satu yang paling berkesan tahun ini.
Namun Cannes hanyalah permukaan dari apa yang sedang digerakkan Cinta. Tak lama setelah itu, ia kembali ke Jakarta untuk menyambut peluncuran film terbarunya, Agen +62, yang tayang 3 Juli 2025. Film komedi satir ini bukan hanya ajang aktingnya, tapi juga menjadi proyek pertamanya sebagai executive producer yang secara terbuka ia publikasikan. “Walaupun kelihatannya ringan, sebenarnya film ini merupakan kritik sosial yang cukup dalam, terutama soal fenomena penipuan digital dan penyalahgunaan identitas,” jelasnya. Ia pun terlibat dalam semua sisi produksi, dari proses kreatif hingga pemasaran.
Bekerja di depan dan belakang layar membuat Cinta memahami betul pentingnya kesejahteraan semua kru. “Aku punya tanggung jawab untuk memastikan semua orang merasa nyaman dan diperhatikan. Jadi kalau ada keluhan kecil saja di set, aku selalu berdiskusi dengan produser lain. I want to make sure that people feel like we're creating something great together,” ungkapnya. Rasa tanggung jawab itu tak lepas dari transformasinya menjadi seorang sociopreneur, sebuah istilah yang ia peluk sepenuh hati.

Cita-citanya untuk meningkatkan kualitas industri kreatif kita untuk menghasilkan karya-karya yang tak hanya bisa dinikmati masyarakat luas tapi bisa membuka pikiran kita agar lebih kritis
Beyond the Spotlight: Membangun Ekosistem Kreatif dan Misi Sosial
Di luar dunia seni peran, Cinta sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah ekosistem industri kreatif yang berkelanjutan melalui PT Cinta Paras Semesta. Di bawah payung ini, ia melahirkan sejumlah entitas yang saling berkolaborasi. Cinta kemudian bercerita bahwa ia sedang mengembangkan Otherlands sebagai agensi kreatif, ABSTRKT yang berkecimpung di ranah manajemen musik, dan RVO Horizon bergerak dalam pendanaan film.
“Cita-citanya untuk meningkatkan kualitas industri kreatif kita untuk menghasilkan karya-karya yang tak hanya bisa dinikmati masyarakat luas tapi bisa membuka pikiran kita agar lebih kritis,” ujarnya dengan mantap.
Salah satu proyek RVO Horizon yang akan segera tayang adalah Para Perasuk, film garapan Wregas Bhanuteja yang dibintangi Anggun C. Sasmi, Angga Yunanda, dan Maudy Ayunda. Dengan bangga, Cinta dan timnya menjadi executive producers proyek tersebut. “Kami percaya pada film yang punya makna,” tegasnya.
Ia memandang media sebagai salah satu alat paling berpengaruh dalam membentuk pola pikir masyarakat, terutama generasi muda. Karena itu, baik lewat film maupun media sosial, ia berusaha konsisten menyampaikan nilai-nilai yang membangun. “Aku ingin media yang kita konsumsi itu memberdayakan, bukan melemahkan. Dan itu yang aku coba dorong juga lewat semua perusahaan yang aku bangun,” lanjutnya.

Meski sibuk membangun perusahaan, Cinta tidak pernah melupakan misinya yang tak kalah penting: menciptakan perubahan sosial yang nyata. Sejak kecil, ia sudah terlibat dalam Yayasan Soekarseno Peduli yang dibangun ibunya pada 2006. Yayasan ini telah merenovasi 10 SD dan membangun 1 SMP di Kabupaten Bogor, wilayah tempat keluarga Cinta tinggal saat pertama kembali ke Indonesia.
Namun ketika ia mulai menemukan visi sendiri, lahirlah Act of Love pada tahun 2022, gerakan sosial miliknya yang mandiri dan fokus pada lima pilar: infrastruktur pendidikan, beasiswa, pelatihan kepemimpinan, dukungan untuk guru, dan kesehatan.
Salah satu pencapaian paling membanggakan dari Act of Love adalah pembangunan jembatan di Sumatera Selatan, agar anak-anak dapat bersekolah tanpa harus menantang arus sungai yang berbahaya. Tak hanya itu, lewat berbagai program mingguan, dari kelas membaca untuk anak-anak pemulung hingga layanan kesehatan lansia, Cinta dan para volunteer berusaha menjangkau komunitas terpinggirkan.
Dan mimpinya tak berhenti di situ. Setelah kunjungan ke Wamena, Papua, pada Maret 2024 silam, Cinta bertekad untuk suatu hari nanti membangun learning hub di sana. Papua, menurutnya, adalah salah satu wilayah paling indah dan berharga di Indonesia, namun belum mendapatkan perhatian yang setara.
Living Through Empowerment and Innovation
Ketika ditanya tentang apa makna “berdaya” baginya, Cinta tak ragu: “Orang yang berdaya adalah orang yang mandiri secara pemikiran dan finansial. Saat kita merdeka di dua aspek itu, kita nggak akan mudah dikendalikan oleh orang lain atau keadaan.”
Kemandirian adalah fondasi kebebasan. Dan kebebasan, bagi Cinta, adalah syarat untuk menjadi manusia seutuhnya.
Dalam konteks inovasi yang ingin ia dorong di masa depan, Cinta mengaku itu bukan pertanyaan yang mudah dijawab. “Karena masalah yang kita hadapi saat ini begitu kompleks, dan jelas tidak ada solusi tunggal untuk semuanya,” ujarnya. Melihat realita sosial hari ini, di saat sebagian orang berkuasa masih melakukan korupsi dalam jumlah triliunan, sementara jutaan anak hidup dalam keterbatasan, Cinta merasa inovasi yang paling mendesak bukan sekadar dalam bentuk teknologi, tapi dalam cara berpikir. “Innovation in the way they think,” tegasnya.

Orang yang berdaya adalah orang yang mandiri secara pemikiran dan finansial. Saat kita merdeka di dua aspek itu, kita nggak akan mudah dikendalikan oleh orang lain atau keadaan.
Ia menyoroti bagaimana banyak anak muda saat ini terjebak dalam ilusi kesuksesan instan, dan enggan menjalani proses. Karena itu, melalui platform dan bisnis yang ia miliki, Cinta ingin menghadirkan kontribusi yang mendorong perubahan pola pikir: dari mengejar hasil cepat menuju keberlanjutan dan tanggung jawab jangka panjang.
Baginya, membangun bisnis bukan sekadar soal aktualisasi diri atau profit, tapi juga menciptakan cara hidup yang lebih berkelanjutan dan etis. “Aku ingin menghapus mentalitas keserakahan. Erase the greed mindset dan bikin orang sadar bahwa kita bisa tumbuh tanpa harus mengorbankan kepentingan banyak orang.”
Dalam dunia yang menuntut kecepatan, ekspektasi, dan penilaian tak ada habisnya, Cinta memilih untuk berjalan dengan misi. Misinya adalah kombinasi antara daya cipta, kepedulian, dan keberanian untuk berpikir kritis—baik dalam industri, maupun dalam hidup.
Credits
Fotografi: Glenn Prasetya
Asisten fotografer: Satriya Wildan
Pengarah gaya: Allysha Nila
Penulis: Adeste Adipriyanti
Arahan kreatif: Hans Hambali




