Dari Bangkok hingga Bali, temukan pengalaman menginap di hotel-hotel bersejarah yang sarat cerita dan kenyamanan masa kini.
Sejarah tidak selalu harus menjadi kenangan masa lalu; ia dapat terus bertransformasi menjadi sumber inspirasi. Begitu pula dengan kemewahan. Makna luxury terus didefinisikan ulang — tidak lagi semata tentang sesuatu yang megah, mengilap, atau bermerek.
Kemewahan kini berbicara tentang personalisasi, lokalitas, dan pengalaman yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Kelima hotel-hotel bersejarah di Bangkok, Singapura, Hanoi, Jakarta, dan Bali ini tidak hanya berhasil melestarikan warisan kemewahan masa lampau, tetapi juga menjadikannya relevan dan mudah diakses oleh generasi masa kini.
Mandarin Oriental, Bangkok
Tidak mengherankan jika penulis-penulis terkenal seperti W. Somerset Maugham, Graham Greene, dan Noël Coward menemukan ketenangan untuk berkarya di hotel ini. Terletak di tepi Sungai Chao Phraya, hotel ini dibuka pada tahun 1876 sebagai hotel mewah pertama di Siam dengan nama The Oriental.
Kamar dan suite-nya direstorasi pada tahun 2019 dengan perhatian khusus terhadap pelestarian serta kebutuhan modern. Dari lantai kayu jati asli hingga sentuhan kain sutra dari Jim Thompson, para tamu diundang untuk beristirahat dalam suasana penuh keanggunan.
Saat mereka siap, terdapat 13 restoran dan bar yang bisa dijelajahi — mulai dari The Bamboo Bar, jazz bar pertama di Thailand; hingga sajian kuliner lokal di Baan Phraya. Ada pula kapal kayu yang siap membawa para tamu mengeksplorasi fasilitas hotel dan kota Bangkok dengan nyaman.

Above Nikmati pemandangan Sungai Chao Phraya dari The Verandah

Above The Oriental Suite di Mandarin Oriental, Bangkok
Raffles Singapore
Penjaga pintu Sikh yang gagah dengan seragamnya menjadi orang pertama yang akan menyambut tamu di hotel kolonial yang sudah berdiri sejak tahun 1887 ini. Setelah menjalani restorasi total dan dibuka kembali pada tahun 2019, tamu kini bisa menginap di salah satu dari 115 suite yang didesain penuh keanggunan oleh Alexandra Champalimaud.
Tamu bisa meminta Raffles Butler mereka untuk memesankan sesi perawatan di Raffles Spa dan makan malam ala Kanton di 兿 yì by Jereme Leung. Sempatkan juga waktu untuk berbelanja di Raffles Arcade yang memiliki lebih dari 40 toko mewah serta mengakhiri hari di Long Bar, tempat dimana Singapore Sling koktail pertama dibuat.
Baca juga: 5 makanan yang mungkin tidak kamu sangka berasal dari Singapura

Above Long Bar, tempat koktail Singapore Sling, pertama diciptakan pada tahun 1915
Sofitel Legend Metropole Hanoi
Dibuka pada tahun 1901, hotel ini menjadi saksi sejarah Vietnam dari masa ke masa. Berlokasi di Old Quarter, Hanoi, hotel ini memiliki dua sayap bangunan yang menawarkan pengalaman menginap yang berbeda.
Sesuai namanya, Heritage Wing memiliki tiga suite yang dinamai berdasarkan tamu-tamu terkenal yang pernah menginap di sana: Charlie Chaplin, Somerset Maugham, dan Graham Greene. Sementara itu, Opera Wing bergaya neoklasik dengan dominasi warna hitam, merah, dan putih.
Kebutuhan modern yang mewah, seperti produk Diptyque di kamar mandi, mesin Nespresso, layanan butler 24 jam, serta akses Club Metropole Benefits (untuk jenis kamar tertentu), turut menjamin kenyamanan para tamu. Pengunjung hotel juga dapat memanjakan lidah di Le Beaulieu, restoran fine dining Prancis pertama di Vietnam yang masih beroperasi hingga kini; bistro bergaya Paris, La Terrasse; dan restoran bercita rasa lokal, Spice Garden.
Ada pula tur Path of History yang dipandu oleh sejarawan hotel, membawa para tamu menyusuri masa lalu Hanoi, termasuk mengunjungi tempat perlindungan bawah tanah yang digunakan para tamu selama masa perang.
Hotel Indonesia Kempinski Jakarta
Digagas oleh Presiden Soekarno sebagai hotel bintang lima pertama di Indonesia sekaligus tuan rumah bagi perhelatan Asian Games, hotel yang terletak di Bundaran HI ini dibuka pada tahun 1962. Dirancang oleh arsitek Abel dan Wendy Sorensen, hotel bergaya modern ini mengalami renovasi total pada tahun 2009 dan kini memiliki 289 kamar dan suite.
Di dalamnya terdapat Plataran Ramayana, tempat favorit Presiden Soekarno untuk menjamu tamu kenegaraan; dua elevator pertama di Indonesia; serta beragam koleksi seni pahat, patung, dan lukisan karya para maestro tanah air yang masih dapat dinikmati hingga kini.
Para tamu dapat memulai hari dengan menikmati semangkuk Bubur Ayam HI, resep khas yang diracik pada tahun 1970-an oleh Sous Chef Bambang Sugeng di Signatures Restaurant, sebelum berjalan-jalan ke Grand Indonesia Mall yang terhubung langsung dengan hotel. Dari sana, tamu juga dapat menaiki MRT untuk menjelajahi berbagai destinasi wisata di Jakarta.

Above Presiden Soekarno saat pembukaan Hotel Indonesia pada tahun 1962

Above Grand Deluxe Room Hotel Indonesia Kempinski Jakarta
Tandjung Sari
Pada awalnya, resor ini adalah rumah peristirahatan bagi Wija Waworuntu dan keluarganya saat mereka berkunjung ke Bali. Teman-teman mereka ikut datang, dan tak lama kemudian, rumah tersebut berkembang menjadi empat bungalow pada tahun 1962, lalu berlipat ganda menjadi 16 unit pada tahun 1970-an.
Berkat filosofi “hotel saya adalah ruang tamu, dan semua tamunya adalah teman saya”, Tandjung Sari menjadi tempat menginap yang paling dicari pada masa itu. David Bowie, Mick Jagger, Yoko Ono, Adrian Zecha, hingga Calvin Klein gemar menghabiskan liburan mereka di resor yang terletak di tepi pantai Sanur ini.
Enam puluh tiga tahun sejak dibuka, arsitektur, desain, dan sentuhan craftsmanship khas Bali di resor ini tetap dipertahankan. Rasa tenang, nyaman, dan damai tetap terasa, meskipun Sanur terus berubah. Para tamu masih bisa menikmati semangkuk soto ayam secara perlahan di restoran berlantai pasir dan beratap kelapa. Dikelola oleh keluarga Wawo-Runtu, Tandjung Sari senantiasa menjadi rumah bagi siapa saja yang ingin merasakan Bali yang sesungguhnya.
Baca juga: Hotel-hotel terbaik di tanah air oleh Tatler Best-in-Class Indonesia 2025
Above Menikmati makan pagi dengan pemandangan Gunung Agung dari Tandjung Sari








