Pameran “Staging Desire” mempertemukan Imam Sucahyo dan Nindityo Adipurnomo dalam sebuah dialog visual yang menggugah tentang memori, simbol, dan hasrat manusia. Berlangsung hingga 27 Juli 2025 di Komunitas Salihara
Di tengah lanskap seni rupa kontemporer Indonesia yang semakin berani mengekspresikan keragaman identitas, pameran Staging Desire di Komunitas Salihara menawarkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar visual: sebuah percakapan panjang antara dua seniman dengan latar dan bahasa ekspresi yang nyaris bertolak belakang, namun saling menggugah. Masing-masing dengan “suara material” yang berbeda namun bisa terjalin padu. Karya mereka bersinggungan dalam kepedulian lingkungan, budaya, dan simbolik yang sama.
Jangan ketinggalan untuk membaca: Meningkatnya tren wisata konser: Bagaimana musik live membentuk cara orang bepergian di seluruh dunia

Above Imam Sucahyo

Above Nindityo Adipurnomo
Di satu sisi, ada —seniman otodidak dari Tuban yang karyanya tumbuh dari akar tanah tempat ia berpijak. Tanpa pelatihan formal, Imam menciptakan dunia visualnya sendiri lewat medium tak lazim: kardus bekas, kayu apung, krayon, hingga potongan plastik. Imajinasi dan memori bergulir menjadi wayang karton dan rumah-rumah lapuk, seakan merekam denyut kehidupan sehari-hari yang rapuh sekaligus penuh harapan.
Di sisi lain, ada Nindityo Adipurnomo—salah satu figur sentral seni rupa Indonesia, yang selama tiga dekade terakhir dikenal lewat eksplorasi simbol-simbol budaya Jawa dalam konteks sosial yang terus berubah. Sebagai co-founder Cemeti dan IVAA, Nindityo bukan hanya seniman, tapi juga pembangun ekosistem seni. Dalam karyanya, kegelisahan bukan kelemahan, melainkan sumber energi kreatif yang terus mempertanyakan makna dan relevansi identitas.
Karya Imam yang mentah dan intuitif bersanding dengan struktur halus dan ketelitian karya Nindityo. Namun dalam Staging Desire, perbedaan bukan titik pisah—justru menjadi jembatan. Keduanya berbagi kepedulian yang sama terhadap isu lingkungan, ingatan kolektif, dan simbol-simbol yang terus bergeser. Kurasi Zarani Risjad menghadirkan pertemuan ini dalam ruang galeri yang terasa teatrikal namun intim, dengan rumah kayu bobrok sebagai poros naratif. Di bawah sinar bulan artifisial, figur karton Imam dan instalasi logam-kulit Nindityo saling menyahut dalam harmoni yang nyaris spiritual.
Pameran ini bukan sekadar tempat melihat karya. Ia adalah ruang untuk merasa, berpikir, dan—mungkin yang terpenting—merenungkan bagaimana hasrat membentuk cara kita melihat dunia.

Above Karya-karya Imam Sucahyo dan Nindityo Adipurnomo bisa disaksikan di Salihara hingga 27 Juli 2025
Diselenggarakan hingga 27 Juli 2025, Staging Desire juga membuka ruang interaksi lebih luas melalui program publik, mulai dari workshop membuat wayang anak-anak hingga sesi pengalaman sensorik bersama sang seniman.
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta Selatan, Staging Desire hadir sebagai jeda yang menyejukkan. Sebuah undangan untuk menyelami pengalaman yang mungkin tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tapi akan terus tinggal dalam pikiran mereka yang datang.









