Cover Jacquelyn Chandra menemukan jati diri pada basket dan sebagai kreator konten.

Dikenal sebagai "cewek basket terhits," Jacquelyn Chandra membuktikan bahwa kerentanan dan kejujuran adalah kekuatan. Dari obsesi masa remaja hingga menemukan kembali kebahagiaan di lapangan, kisah inspiratif Jacquelyn Chandra tentang bagaimana basket menjadi jalan pulang untuk menyembuhkan diri

Jika Anda bertanya kepada  kapan pertama kali jatuh cinta pada basket, jawabannya bukan semata-mata tentang ambisi atau keinginan menjadi atlet. Ia akan tertawa dulu, lalu mengaku dengan sedikit malu-malu: “Awalnya gara-gara naksir kakak kelas.” Dari situlah semuanya dimulai. Tak disangka perkenalannya dengan basket, membawa perempuan asal Probolinggo ini mulai menekuni olahraga tersebut secara lebih serius. Hasratnya kemudian bergeser: ia ingin menjadi pemain basket nasional. 

Baca juga tentang ini: Si mungil Yuki Kawamura: Pebasket asal Jepang yang sukses menggebrak NBA

Tatler Asia
Above Jacquelyn Chandra mulai fokus bermain basket sejak remaja.

Masa remaja penyuka three-points shot ini dipenuhi latihan agar bisa masuk sebuah SMA unggulan basket di Surabaya. Harapannya: mengikuti jejak pemain-pemain yang berhasil ke tingkat nasional lewat liga DBL. Tapi kenyataan berkata lain. Transisi dari kota kecil ke lingkungan kompetitif, hidup sendiri, tekanan akademik, dan cedera ringan di lutut, semuanya membuatnya kehilangan pijakan. Ia berhenti. Dan bersama dengan keputusannya itu, ada satu hal lain yang ia rasakan hilang, identitasnya. “Waktu aku stop main basket, aku sempat bertanya ke diri sendiri: ‘Terus aku ini siapa tanpa basket?’” ujarnya dengan nada lirih. 

Kembalinya Jacquelyn bermain basket bukan karena ingin kembali berkompetisi, tapi karena sebuah kerinduan. Di masa pandemi, ia mulai bermain lagi di lingkungan rumah. Bukan untuk menang, tapi untuk merasa utuh. Ia tetap rutin latihan, tapi menurutnya yang membedakan adalah ia kini latihan dengan fun, tanpa secuil beban. Dari situ, ia mulai membagikan video pertama yang ia akui hanya iseng belaka. Tapi tanpa disadari ribuan orang mulai mengarahkan pandangan padanya.

“Waktu aku stop main basket, aku sempat bertanya ke diri sendiri: ‘Terus aku ini siapa tanpa basket?’”

- Jacquelyn Chandra -

Tatler Asia
Above Jacquelyn Chandra kini juga dikenal sebagai kreator konten yang aktif membagikan kisah hidupnya, tak lagi melulu soal basket.

Jacquelyn tampak berbeda bukan hanya karena ia perempuan yang bicara basket, tapi karena ia bicara jujur: soal rasa insecure karena penampilan, soal komentar publik yang kerap menghakimi, bahkan soal patah hati karena mimpi yang belum jadi kenyataan. Ia berani berproses dan berupaya jujur, di saat banyak orang berupaya tampil sempurna. Dan di balik konten-konten yang jenaka dan energik itu, ada kerentanan yang ia peluk dengan berani.

Kini, dengan reputasi sebagai “cewek basket ter-hits,” Jacquelyn tak lagi sekadar berbagi olahraga dengan nuansa komedik, ia juga berbagi pemulihan. Ya, dia masih bermain basket, namun Jacquelyn berupaya untuk memberi ruang untuk tampil apa adanya dan memberi ruang untuk tumbuh. 

Perempuan yang mengidolai Stephen Curry ini bahkan memiliki satu mimpi jangka panjang  yang tengah ia upayakan: memberi wadah bagi teman-teman di kota kecil untuk mengembangkan bakat olahraganya. Menurutnya, banyak orang yang tidak tahu harus mulai dari mana. “Aku ingin jadi orang yang dulu aku butuhkan,” ujarnya. 

Kekuatan Jacquelyn terletak pada kesadarannya, bahwa ia adalah manusia yang berproses dan terus berkembang. Bahwa menjadi utuh bukan soal menjadi sempurna dan tak pernah gagal, melainkan hadir sepenuhnya dalam tiap langkah yang ia pilih sendiri, mungkin dengan sedikit tawa.

Credits

Fotografi: Grego Gery
Pengarah gaya: Hans Hambali
Riasan: Vani Sagita
Pakaian: Studio Moral
Aksesori: Isshu