Ai-Da
Cover Ai-Da adalah seniman robot pertama di dunia dan karya seni AI-nya telah terjual hingga ratusan ribu dolar (Photo: Instagram/ @aidarobot
Ai-Da

Bagi para penikmat dan kolektor yang menyukai perpaduan antara tradisi dan inovasi, seni AI menawarkan gambaran menarik tentang masa depan terhadap ekspresi artistik.

Ada inspirasi baru di dunia seni: kecerdasan buatan

Dulunya hanya terbatas pada sains dan teknologi, AI dengan anggun melangkah ke kanvas, menantang gagasan tradisional tentang kreativitas dan kepenulisan. Para kolektor yang gemar dengan hal-hal avant-garde kini berlomba-lomba mendapatkan mahakarya digital ini, yang membuat harganya melambung tinggi.

Tapi pada titik ini, seni AI bukan lagi sekadar tren sesaat. Ini mewakili perubahan besar dalam cara kita memandang penciptaan seni. Apakah ini evolusi berikutnya dari ekspresi manusia, atau justru tanda bahwa kreativitas perlahan dialihkan ke mesin? Para purist  atau penganut paham seni yang murni mungkin meremehkan gagasan goresan kuas yang dibuat oleh algoritma, tapi pasar berbicara lain: seni AI telah hadir dan bernilai tinggi. Dari potret pixelated yang menyeramkan hingga lanskap mimpi berbasis data, karya-karya ini menarik perhatian para elit di industri seni.

Kami menjelajahi lima karya seni buatan AI paling terkenal dan telah memikat para kolektor, memecahkan rekor lelang, serta mendefinisikan ulang batasan kejeniusan artistik.

1. “Potret Edmond de Belamy” oleh Obvious

Tatler Asia
“Portrait of Edmond de Belamy” by Obvious
Above “Portrait of Edmond de Belamy” oleh Obvious
“Portrait of Edmond de Belamy” by Obvious

Pada bulan Oktober 2018, kolektif seni Obvious memperkenalkan kepada dunia “Portrait of Edmond de Belamy,” sebuah karya yang dihasilkan oleh AI yang memadukan potret klasik dengan teknologi kontemporer. Dibuat menggunakan Generative Adversarial Network (GAN) yang dilatih pada potret historis, karya seni ini memancarkan daya tarik yang misterius. Christie's melelang karya tersebut dengan harga yang sangat tinggi yaitu US$432.500 (sekitar Rp7,1 miliar), jauh melampaui perkiraan awalnya sebesar US$7.000 hingga US$10.000 (sekitar Rp116 juta hingga Rp165 juta). Hal ini menandai momen penting dalam sejarah seni AI.

Jangan lewatkan: Akankah AI menemukan kembali seni, atau menghancurkannya?

2. “AI God” oleh Ai-Da Robot

Tatler Asia
“AI God” by Ai-Da Robot
Above “AI God” oleh Ai-Da Robot
“AI God” by Ai-Da Robot

Membuka jalan baru pada tahun 2024, Ai-Da, seniman robot humanoid pertama di dunia, meluncurkan "AI God," sebuah penggambaran abstrak dari pelopor komputasi Alan Turing. Karya seni AI ini, perpaduan antara robotika dan seni, terjual seharga $1.084.800 (sekitar Rp21 miliar) di Sotheby's, melampaui estimasi pra-penjualannya sebesar US$120.000 hingga US$180.000  (sekitar Rp2 miliar hingga Rp3 miliar). Lelang tersebut tidak hanya menyoroti selera pasar terhadap seni AI, tetapi juga memicu perbincangan tentang definisi kreativitas yang terus berkembang.

Lihat selengkapnya: Manusia vs mesin: Apakah AI mendorong batasan kreativitas atau menghancurkannya?

3. “Living Architecture: Casa Batlló” oleh Refik Anadol

Terkenal karena instalasi digitalnya yang imersif, “Living Architecture: Casa Batlló” karya Refik Anadol menata ulang bangunan ikonik Gaudí melalui lensa AI. Karya dinamis ini, yang mengubah data arsitektur menjadi visual yang memukau, terjual seharga US$1,38 juta (atau sekitar Rp22,88 miliar) di Christie's. Karya Anadol menggambarkan perpaduan harmonis antara warisan budaya dan teknologi mutakhir, menawarkan kepada para kolektor sekilas pandang tentang masa depan seni AI yang bersifat eksperiensial.

4. “Machine Hallucinations—Space: Metaverse” oleh Refik Anadol

Bukti lain dari pendekatan visioner Anadol, “Machine Hallucinations—Space: Metaverse” menyelidiki kosmos, menafsirkan kumpulan data besar citra ruang angkasa melalui algoritma AI. Koleksi ini, yang terdiri dari pengalaman imersif dan lukisan data generatif, mencapai rekor US$5 juta (atau sekitar Rp89 miliar) di Sotheby's Hong Kong, menggarisbawahi meningkatnya nilai dan daya tarik seni yang dihasilkan AI di pasar global.

5. Karya Seni Buatan AI Botto

Lahir dari kolaborasi antara seniman Mario Klingemann dan AI, Botto adalah seniman otonom terdesentralisasi yang telah mengubah paradigma seni tradisional. Dengan menghasilkan ribuan gambar setiap minggu dan membiarkan komunitas menyeleksi karyanya, Botto telah meraih penjualan lebih dari US$5 juta sejak diluncurkan pada 2021. Bahkan, sebuah pameran di Sotheby’s baru-baru ini saja berhasil mengumpulkan US$350.000 (setara dengan Rp5,8 miliar), menandakan semakin diterimanya dan dihargainya seni yang dibuat oleh AI di kalangan kolektor berkelas.

 

6. “Sophia Instantiation” oleh Sophia si Robot

Pada bulan Maret 2021, Sophia the Robot, yang dikembangkan oleh Hanson Robotics, berkolaborasi dengan seniman Andrea Bonaceto untuk menciptakan “Sophia Instantiation,” sebuah karya seni digital yang menggabungkan AI dan kreativitas manusia. Karya seni AI tersebut, yang mencakup berkas video berdurasi 12 detik yang memperlihatkan potret Bonaceto yang berevolusi menjadi lukisan digital Sophia, dijual sebagai NFT seharga US$688.888 (setara dengan Rp11,4 miliar). Penjualan ini menyoroti persimpangan yang sedang berkembang antara AI, seni, dan teknologi blockchain.

7. “Memories of Passersby I” oleh Mario Klingemann

Seniman AI perintis Mario Klingemann meluncurkan “Memories of Passersby I” pada tahun 2019, sebuah instalasi yang menggunakan jaringan saraf untuk menghasilkan aliran potret tanpa akhir. Sotheby's melelang karya inovatif ini dengan harga sekitar US $51.000 (atau sekitar Rp845 juta), menandai salah satu penjualan signifikan awal dalam ranah seni AI.

 


This story was originally written in English by Tatler T-Labs Team.

Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris oleh Tatler T-Labs Team dan diterbitkan pada 26 Maret 2025. Read the original story here.

Topics