Cover reinterpretasi kuliner Nikkei tampak pada menu Ceviche Platter

Henshin di puncak The Westin Jakarta menawarkan reinterpretasi mendalam kuliner Nikkei

Dalam lanskap kuliner yang terus berkembang, ada tempat-tempat yang tidak hanya menyajikan makanan, tetapi juga merayakan perubahan. Henshin, yang bertengger di puncak The Westin Jakarta, mengambil pendekatan berbeda dengan menghadirkan reinterpretasi mendalam terhadap kuliner Nikkei—sebuah warisan rasa yang lahir dari pertemuan budaya Jepang dan Peru.

Di malam saat berkunjung, hujan deras turun membasahi kaca besar yang membingkai ruangan di Henshin, yang masuk dalam Asia Top 80 Fine Dining selama dua tahun berturut-turut. Suasana menjadi semakin intim dan melankolis. Meski di luar dingin, ada rasa hangat terselip dari tiap rangkaian menu baru yang diperkenalkan. Filosofi ‘Henshin’, yang berarti "berubah bentuk" dalam bahasa Jepang, tercermin dalam setiap sajian.

Jangan lewatkan: Kelly Spoon Chan dan Mel Ng: Membawa kue lapis Indonesia menjadi ikon kuliner modern

Tatler Asia
Above Lomo Saltado

Menelusuri asal-usul Nikkei

Banyak yang masih bertanya-tanya: apa sebenarnya kuliner Nikkei? Dan apa yang membedakannya dari masakan Jepang atau Peru pada umumnya?

Jawabannya berakar pada sejarah migrasi. Komunitas Jepang pertama kali tiba di Peru pada tahun 1889, membawa serta filosofi makan yang menjunjung kesegaran, keseimbangan rasa, dan presisi teknik. Namun, mereka juga harus beradaptasi dengan bahan-bahan lokal yang jauh dari dapur asal mereka.

Dari interaksi inilah lahir kuliner Nikkei—sebuah simbiosis rasa yang unik. Jika masakan Jepang menekankan kesederhanaan, kehalusan rasa, dan estetika minimalis, maka kuliner Peru hadir lebih ekspresif: penuh bumbu, berani dalam rasa asam dan pedas, dan kaya akan hasil laut serta rempah.

Cusco tasting menu: Kurasi dengan sentuhan emosi

Seperti menghadiri sebuah gelaran teater enam babak. Dibuka dengan Tartar de Atun, tuna sirip kuning yang halus berpadu dengan ikura dan telur puyuh, dilengkapi minyak truffle yang menambahkan kedalaman rasa. Kemudian disambut dengan Signature Nigiri Trio dengan salmon, udang, dan tuna segar yang jadi bintang utama. Segelas Sauvignon Blanc yang crisp memperkuat kesan segar di lidah.

Lalu hadir Carpassion Ceviche, salmon dengan maracuya. Sensasi asamnya begitu menyegarkan, layaknya satu babak penuh kejutan agar penonton tak bosan. Australian Black Angus hadir sebagai menu utama, namun Seared Hamachi dengan kuah ponzu mencuri perhatian, terutama dipadukan dengan wine dari Chili, Marques de Casa Concha. 

Penutup malam itu adalah Suspiro de Maracuya, sebuah hidangan penutup yang menyatukan keasaman buah markisa dan kelembutan meringue dalam harmoni yang ringan, namun berkesan. Dan rasanya ingin meneriakkan, "bravo!" 

Satu hal yang juga perlu diapresiasi adalah garnish dedaunan yang begitu segar dan melengkapi perjalanan kuliner nikkei malam itu. Rupanya Henshin memiliki taman hidroponik yang ditanam di area hotel The Westin, sehingga kesegarannya terjaga.

 

arrow left arrow left
arrow right arrow right
Photo 1 of 6 Tartar de Atun
Photo 2 of 6 Signature Nigiri Trio
Photo 3 of 6 Spiny Lobster with Wagyu
Photo 4 of 6 Paracas Nigiri
Photo 5 of 6 Henshin di malam hari
Photo 6 of 6 Mengamati sorotan lampu kota memantul lembut dari puncak atas The Westin Jakarta

Kuliner Nikkei adalah hasil dari sejarah, teknik, dan keberanian untuk menyatukan dua dunia. Di tangan Henshin, ia tampil bukan hanya sebagai pengalaman rasa, tetapi juga perjalanan lintas budaya yang cermat dan penuh rasa hormat. Tak banyak restoran yang bisa membangun rasa keterhubungan seperti ini.

Credits

Gambar: Henshin Jakartta