Dari festival kimjang komunal dan pasar jalanan yang ramai hingga institusi kepiting mentah dan restoran berbintang tiga Michelin, aktor dan produser eksekutif Daniel Dae Kim menjelajahi Korea Selatan untuk mengungkap kisah, kenangan, dan tradisi yang mendefinisikan makanan Korea di luar panggangan.
Barbecue khas Korea mungkin telah memperkenalkan dunia pada masakan Korea, tetapi itu hanyalah satu aspek dari lanskap kuliner negara yang luas dan berlapis-lapis—dengan seluruh jagat cita rasa yang menunggu di luar panggangan.
Dalam episode ketiga dari serial orisinal terbaru CNN, K-Everything, yang tayang perdana pada 9 Mei dan mengeksplorasi dunia K-drama, K-pop, dan K-beauty, aktor dan produser eksekutif Daniel Dae Kim kembali ke akarnya, melakukan perjalanan melintasi Korea Selatan untuk terhubung kembali dengan budaya dan tradisi yang membentuk dirinya.
Dari festival fermentasi berusia berabad-abad hingga santapan mewah berbintang tiga Michelin, episode ini mengikuti Kim dan sejumlah tamu istimewa saat mereka menikmati Korea Selatan melalui lensa yang merupakan gabungan antara catatan perjalanan, pelajaran sejarah, dan penghormatan yang tulus.
Baca selengkapnya: 5 alasan drama Korea baik untuk kesehatan mental dan emosional
Festival Kimjang, Pyeongchang

Above Festival Kimjang adalah festival tahunan di mana masyarakat berkumpul untuk menyiapkan kimchi (Foto: Getty)
Kim memulai perjalanannya di salah satu acara kimjang terbesar di Korea Selatan—tradisi tahunan bulan November di mana masyarakat berkumpul untuk menyiapkan dan memfermentasi kimchi dalam jumlah besar menjelang musim dingin. Sebagai salah satu ritual kuliner yang paling berharga di negara itu, pengalaman ini memiliki resonansi emosional tambahan karena Kim berpartisipasi bersama orang tuanya.
Pasar Gyeongdong, Seoul

Above Berkunjung ke Pasar Gyeongdong adalah suatu keharusan saat berada di Korea Selatan (Foto: Getty)
Pasar Gyeongdong, sebuah labirin luas yang dipenuhi jajanan kaki lima dan hasil bumi lokal, membawa Kim kembali ke masa kecilnya setiap kali ia menyantapnya. Di sini, makanan menjadi lebih dari sekadar penunjang kehidupan—makanan mengubah kenangan menjadi sesuatu yang nyata dan dapat dimakan, menjadikannya salah satu tempat paling nostalgia dan membangkitkan kenangan dalam episode ini.
Restoran Kepiting Mentah Milik Keluarga, Seoul

Above Kim dan Lee juga memanfaatkan kesempatan untuk menikmati kepiting mentah yang direndam dalam kecap (Foto: Getty)
Bersama Corey Lee, koki Korea pertama yang meraih tiga bintang Michelin untuk restorannya di San Francisco, Benu, Kim mengunjungi salah satu tempat favorit Lee yang tersembunyi: sebuah restoran sederhana tanpa embel-embel yang hanya mengkhususkan diri pada satu hidangan—kepiting mentah yang direndam dalam kecap.
Restoran Kimchi Jjigae, Seoul

Above Kim, Kang, dan Lee berkumpul kembali sambil menikmati semangkuk kimchi jjigae yang mengepul.
Kim dan Corey Lee bertemu kembali sambil menikmati semangkuk kimchi jjigae yang mengepul, semur yang menenangkan dan telah menjadi makanan pokok bagi generasi-generasi warga Korea selama masa pendudukan, kemiskinan, dan perang. Sederhana namun sangat bergizi, hidangan ini menjadi pengingat yang menyentuh hati bahwa makanan yang paling abadi seringkali menyimpan sejarah yang paling dalam.
Mingles, Seoul

Above Kim dan Lee mengakhiri perjalanan kuliner mereka di restoran Mingles milik Kang yang meraih penghargaan Tatler Best di Seoul.
Perjalanan ini mencapai puncaknya di Mingles, restoran berbintang tiga Michelin milik Mingoo Kang, di mana santapan mewah menjadi cerminan evolusi kuliner luar biasa Korea Selatan selama setengah abad terakhir. Lebih dari sekadar makan, ini adalah pernyataan tentang seberapa jauh masakan Korea telah berkembang—dan ke mana arahnya selanjutnya.
Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris oleh Dudi Aureus dan diterbitkan pada 25 Mei 2026. Read the original story here.
Credits
Gambar: CNN, unless otherwise stated





