Setelah debut megahnya di Villa d’Este, Danau Como, Chanel membawa napas resor penuh elegansi dari koleksi ini ke Asia Tenggara yang jadi tribut perayaan gaya hidup yang bebas, hangat, dan tetap anggun dalam ritme tropis Singapura

Di halaman kolonial Raffles Singapore yang bersejarah, di antara bayangan pepohonan palem dan arsitektur putih yang abadi, Chanel menghadirkan kembali salah satu momen paling berkesan dalam kalender mode tahun ini: pertunjukan Cruise 2025/26. Setelah debutnya di Italia pada bulan Mei, versi replica show di Singapura ini bukan sekadar panggung repetitif, melainkan bentuk dialog baru antara Eropa dan Asia, keanggunan klasik dan energi tropis yang modern, masa lalu dan yang mendatang. Dan ada banyak detail dan bagian menarik yang dicatat. 

Baca juga sekarang: Ikon Chanel: Momen gaya G-Dragon yang paling berkesan

Tatler Asia
Above Kemegahan Hotel Raffles Singapura menjadi latar belakang yang sempurna

Dibuka di bawah langit senja yang lembut, pertunjukan ini terasa seperti perjalanan lintas waktu: dari tepian Danau Como ke jantung kota yang hiruk-pikuk “Lion City”, namun sama-sama berakar pada gagasan hotel life—gaya hidup yang menggabungkan kenyamanan, keanggunan, dan rasa kebersamaan di tempat yang jauh dari rumah. Sebuah filosofi yang sangat Chanel: kemewahan yang hidup dan dirasakan, bukan yang hanya untuk dipamerkan.

Tatler Asia
Above Tilda Swinton dan Rebecca ‘Becky’ Armstrong

Di antara para tamu, tampak sosok-sosok yang mencerminkan dunia Chanel yang kosmopolitan—Tilda Swinton dengan aura misteriusnya yang khas, Rebecca Armstrong yang membawa ketenangan elegan, hingga para tamu regional dari dunia seni termasuk dua aktris ternama Tanah Air, Putri Marino dan Laura Basuki. Tak terlupakan perupa Salvita Salim De Corte yang turut hadir. Suasana terasa ringan, penuh percakapan, dan jauh dari formalitas berlebihan.

Tatler Asia
Above Putri Marino dan Laura Basuki

Koleksi Cruise 2025/26 ini tetap setia pada kamus visual rumah mode Prancis ikonis ini: feminin, lembut, dan bebas. Namun kali ini, kebebasan itu terasa lebih ekspresif. Siluet-siluetnya bergerak lentur: jaket tweed berpadu dengan rok mini atau celana longgar, sementara gaun ringan mengalir mengikuti langkah. Ada rasa effortless yang sesungguhnya—busana-busana ini dirancang untuk dikenakan, bukan hanya dipamerkan.

Tatler Asia
Above Deretan palet lembut hingga vibran dengan variasi tekstur yang kaya

Palet warna lembut putih, krem, abu-abu muda diselingi semburat cerah yang mengingatkan pada kehidupan di tepi air. Teksturnya pun beragam: tweed khas Chanel berdampingan dengan bahan-bahan yang lebih ringan seperti katun halus dan kain semi-transparan yang memantulkan cahaya alami. Hasilnya adalah koleksi yang terasa airy, relaxed, dan sangat bisa dikenakan di tempat seperti Singapura—tropis namun tetap elegan.

Tatler Asia
Above Padu padan khas resor dengan sentuhan distingtif Chanel
Tatler Asia
Above Siluet ringan dan rileks namun tetap mencuri atensi

Koleksi ini tidak menanggalkan struktur klasik Chanel, ia justru melunakkannya. Jaket disingkat, setelan rok dibuat lebih ringan, dan gaun malam diberi siluet yang lebih rileks. Seolah setiap potongan diciptakan dengan satu prinsip: pakaian harus mengikuti kehidupan, bukan membatasinya. Di situlah letak kecerdasan koleksi ini, ia memandang kemewahan bukan sebagai sesuatu yang kaku atau tidak dapat dinikmati, melainkan sesuatu yang hidup dan menyatu dengan ritme sehari-hari.

Tatler Asia
Above Sentuhan detail sarat romansa dan kerja tangan paripurna

Kehadiran pertunjukan ini di Asia Tenggara juga menandai cara Chanel membaca dunianya hari ini. Raffles Singapura, dengan sejarah panjang dan arsitektur kolonialnya yang megah, menjadi latar yang ideal: tempat di mana masa lalu dan masa kini berdialog tanpa kehilangan karakter masing-masing. Di tangan Chanel, tempat itu bukan sekadar panggung, melainkan bagian dari narasi—tentang perjalanan, pertemuan lintas budaya, dan gagasan bahwa kemewahan sejati selalu lintas batas.

Tatler Asia
Above Aksesori bernapas nostalgia namun tak lekang waktu

Di sela pertunjukan, detail-detail kecil menegaskan DNA Chanel: mutiara yang dipadukan dengan logam ringan, tas-tas berstruktur sederhana namun berkarakter, dan permainan layering yang terasa spontan tapi terukur. Koleksi ini memang bukan tentang spektakel besar, melainkan tentang membangun keseharian yang ideal. Tentang bagaimana sebuah jaket bisa dipadukan dengan celana pendek, dan tetap terasa siap untuk pesta koktail sore di tepi kolam atau jamuan malam yang akbar.

Tatler Asia
Above Intrikasi ornamentasi bertemu dengan material prima dan sensibilitas elegan

Ada kesadaran yang halus dalam koleksi ini: Chanel tidak mengejar masa lalu, tapi juga tidak berusaha berlebihan untuk menjadi baru. Rumah mode ini seolah menemukan ritmenya sendiri—di ruang antara nostalgia dan inovasi—di mana setiap potongan terasa segar hari ini, dan tetap relevan bertahun-tahun nanti. Istilah “future vintage” di sini bermakna sederhana: pakaian yang dibuat dengan niat untuk bertahan, melalui sensibilitas desain yang khas dan juga craftsmanship yang tak terduakan.

Menjelang akhir malam, Raye mengambil alih suasana dengan membawakan sejumlah lagu, termasuk versi akustik dari hit terbesarnya tahun ini, “Where’s My Husband?”. Di aula Raffles yang telah berdiri lebih dari seabad, suaranya bergema lembut, menciptakan keintiman yang mencuri atensi. Tanpa produksi berlebihan atau pencahayaan dramatis—hanya suara, ruang, dan kejujuran. Dalam konteks Chanel, momen itu terasa tepat: elegan tanpa lapisan berlebih, pribadi tanpa kehilangan bentuk.

Tatler Asia
Above Penyanyi Inggris Raye dan DJ

Dengan menempatkan Singapura sebagai persinggahan terbarunya, Chanel bukan hanya memperluas peta perjalanannya, tetapi juga menegaskan bahwa kemewahan masa kini bersifat universal—tidak lagi terikat benua, melainkan cara kita menikmati hidup. Pada akhirnya, keanggunan sejati bukan tentang gaya, melainkan sikap: kemampuan untuk memaknai dunia dengan ringan, namun tetap penuh rasa.