Gariand Djemat berbagi cerita mengenai kehidupannya dan bagaimana ia mendedikasikan hidupnya untuk Tuhan.
Bagi sebagian orang, kenangan masa kecil dengan mudahnya hilang dan terlupakan. Namun tidak demikian untuk Gariand Djemat; kenangan masa kecilnya masih melekat dengannya, seperti bekal dan jumlah uang sakunya di sekolah dasar. “Biasanya bekal yang saya adalah roti dengan taburan coklat dan uang 100 rupiah. Itu dahulu di tahun 80-an. Setiap hari saya makan itu, lama kelamaan pun saya bosan dan harus mencari cara untuk mendapatkan uang saku tambahan,” kenangnya.
Ia akhirnya menyadari bahwa waktu adalah uang. Untuk itu, ia mulai menyewakan video kepada rekan kantor ayahnya. "Saya biasanya menyewa video dari Sabang selama 3 hari. Setelah menontonnya selama sehari, saya menyewakannya kepada orang lain," ujarnya. Ia pun kemudian mendapat uang dengan memanfaatkan sisa waktu sewa.
Lahir dalam keluarga Djemat yang terkemuka, Gariand memiliki hak atas saham bisnis keluarganya, PT Gama Bangun Tatajaya. Saat pertama kali bekerja setelah mendapatkan gelar Associate of Arts, ia memilih untuk bekerja di Tangerang, di mana gaji bulanannya berkisaran kurang dari Rp1.000.000. Ini merupakan perubahan yang sangat besar, mengingat sebelumnya ketika dia belajar di Amerika Serikat, dia dapat memperoleh hingga 500.000 USD per tahun.
Baca lagi: Water sommeliers: Inside the mind of luxury water collectors

Above Gariand Djemat dengan sang istri, Wenita Redita Foto: Tatler Indonesia.
Gariand kemudian kembali ke Amerika Serikat untuk mengejar gelar Bachelor of Science sambil mengambil pekerjaan di manapun ia bisa. Salah satunya adalah di sebuah rumah makan Tionghoa sembari magang di Merrill Lynch Wealth Management. Saat hendak bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan cat, ayahnya meninggal dunia. Ia kemudian harus kembali ke kampung halamannya dan mendirikan beberapa usaha, antara lain kantin, pusat terapi refleksi, dan juga sewa ruang kantor di Plaza Gani Djemat. Dari segi karir, Plaza Gani Djemat inilah yang ternyata menjadi passion utamanya.
Gariand berasal dari keluarga besar dengan 9 bersaudara. Pada tahun 1998, mereka harus menghadapi tantangan besar akibat krisis yang terjadi. “Ayah saya meninggal menyisakan utang yang cukup banyak, tapi kami sebagai anak-anaknya mampu menumbuhkan aset, mengurangi liabilitas, dan mencapai ekuitas penuh. Itu menjadi pencapaian terbesar kami,” kata ayah tiga anak ini.
Gariand saat ini sudah pensiun dari bisnis keluarga, tetapi ia masih melakukan bisnis sampingan di industri otomotif dan cerutu. Baginya, hal terpenting yang dapat ia lakukan adalah mendedikasikan hidupnya untuk Yang Mahakuasa. Saat ini ia sedang melanjutkan studi masternya di bidang teologi. Sesuatu yang sudah lama ia impikan adalah untuk menjadi seorang penginjil.

Above Gariand Djemat dengan ibu dan istri tersayang Foto: Tatler Indonesia.
Memberi manfaat bagi orang lain adalah tujuan utamanya. Ia terinspirasi dari film Schindler’s List, yang mengisahkan seseorang yang menyelamatkan 1.200 orang Yahudi pada masa Holocaust. Selain itu, ia juga suka membaca kisah tokoh dari alkitab.
Cita-cita lain darinya adalah melihat Indonesia menjadi negara yang kuat. “Saya ingin melihat visi Indonesia Emas 2045 menjadi kenyataan. Tapi untuk pencapaian pribadi, saya hanya ingin menjadi lebih dekat dengan Tuhan, anak-anak, melayani sesama, dan hidup cukup lama untuk bertemu dengan cucu-cucu saya,” ujarnya di akhir perbincangan.
Topics




