Putri Marino dan Laura Basuki berdiri di garis depan narasi perempuan dalam sinema Indonesia. Lewat karya terbaru dan perjalanan hidup mereka, keduanya menunjukkan bagaimana karier dan kehidupan pribadi dapat saling menguatkan
Di tengah lanskap perfilman Indonesia yang semakin berani dan beragam, Putri Marino dan Laura Basuki berdiri sebagai dua figur yang menentukan arah percakapan. Tahun ini, Putri Marino kembali ke layar lebar lewat Empat Musim Pertiwi, film terbaru garapan Kamila Andini, sementara Laura Basuki bersiap dengan Yohanna yang dijadwalkan tayang 9 April—dua proyek yang kembali menempatkan mereka pada narasi perempuan dengan kedalaman emosi dan keberanian perspektif. Publik tentu tak lupa bagaimana Putri memikat sejak Posesif yang membawanya meraih Piala Citra, hingga deretan peran yang konsisten menantang spektrum psikologis perempuan. Laura, di sisi lain, telah lama menjadi tolok ukur lewat karya-karya seperti Tiga Hati, Dua Dunia, Satu Cinta dan Susy Susanti: Love All, yang mengukuhkan reputasinya sebagai aktris dengan disiplin dan daya jelajah karakter yang luas.
Baca juga: Janice Tjen dan Aldila Sutjiadi menulis babak baru tenis Indonesia

Di luar layar, keduanya juga menjalani peran sebagai istri dan ibu, sebuah dimensi yang justru memperkaya pilihan dan kedalaman akting mereka. Mereka bukan hanya berbicara tentang kekuatan perempuan, tetapi mempraktikkannya dalam keseharian: menavigasi ambisi, keluarga, dan integritas personal dengan keseimbangan yang tidak selalu mudah, namun dijalani dengan kesadaran. Dalam perjalanan masing-masing, Putri dan Laura menunjukkan bahwa keberhasilan tidak harus mengorbankan keutuhan diri, bahwa ruang publik dan ruang domestik dapat saling menguatkan, bukan menegasikan. Simak dialog Tatler Indonesia dengan keduanya
Sebagai dua perempuan yang tumbuh bersama perjalanan perfilman Indonesia, bagaimana Anda melihat perubahan lanskap bagi perempuan di industri ini, baik di depan maupun di balik layar?
Putri Marino (PM): Untuk saya yang baru delapan tahun berada di industri film Indonesia, perubahan signifikan yang paling terasa adalah semakin banyak perempuan bertalenta dan berdaya, baik di depan maupun di belakang layar. Suara kami semakin didengar, dan semakin banyak cerita yang lahir dengan karakter perempuan yang kuat, tangguh, dan inspiratif.
Laura Basuki (LB): Saya menyadari belakangan ini semakin banyak cerita yang mengangkat perspektif perempuan dengan segala kompleksitasnya. Di balik layar pun semakin banyak perempuan memegang peran penting, baik sebagai sutradara, penulis, maupun produser. Walaupun tentu masih banyak ruang untuk berkembang, saya merasakan bahwa suara perempuan kini lebih didengar.


Dari semua karakter yang pernah Anda perankan, adakah satu sosok perempuan yang paling mengubah cara Anda memandang diri sendiri sebagai ibu atau sebagai perempuan?
PM: Dari beberapa karakter perempuan yang saya perankan, Pertiwi dalam Empat Musim Pertiwi adalah sosok yang paling membuat saya terpana. Ia perempuan sederhana yang hidup di tengah situasi yang kompleks, menjadi kuat karena kerasnya kehidupan. Melihat Pertiwi tumbuh hingga mampu membuat dirinya yang 15 tahun lalu merasa bangga dan aman adalah proses yang sangat menyentuh bagi saya. Mungkin itu yang membuat saya, sebagai Putri, begitu menghormati Pertiwi.
LB: Setiap peran selalu meninggalkan kesan. Namun ada juga karakter yang benar-benar membuka cara pandang saya, seperti Susy Susanti—tentang perjuangan, cinta tanah air, dan kesabaran menghadapi tekanan patriarki dalam Sehidup Semati. Pengalaman itu memperluas cara saya melihat kehidupan dan kekuatan seorang perempuan.

Sebagai seorang ibu, bagaimana kehadiran anak mengubah cara Anda memaknai ambisi dan kesuksesan?
PM: Sebelum kehadiran Suri, bahkan di tahun pertama menjadi ibu, saya masih sangat ambisius dan mengejar validasi. Dulu saya percaya kesuksesan datang dari pengakuan orang lain. Namun seiring waktu, melihat Suri bertumbuh, saya menyadari bahwa sukses tidak selalu membutuhkan pengakuan atau diukur dalam skala besar. Bagi saya hari ini, sukses adalah bisa menjadi ibu dan istri yang hadir untuk keluarga.
LB: Setelah memiliki anak, definisi sukses bagi saya berubah. Dulu sukses identik dengan karier dan proyek-proyek besar. Sekarang maknanya lebih sederhana. Bisa meluangkan waktu berkualitas bersama keluarga sudah terasa lebih dari cukup.
Jika suatu hari anak Anda menonton semua film Anda, pelajaran apa tentang perempuan, tentang ibu, atau tentang keberanian yang Anda harap mereka tangkap?
PM: Perempuan itu beragam dan kompleks. Kami bisa merasa lemah, tapi juga sangat kuat. Perempuan bisa menjadi dan melakukan apa pun. Nilai-nilai itulah yang saya harap bisa dipahami Suri suatu hari nanti ketika ia menonton film-film saya.
LB: Saya berharap semakin banyak orang melihat bahwa perempuan bisa menjadi banyak hal. Bisa kuat, rapuh, berani mengambil keputusan besar, dan siap menghadapi kegagalan. Perempuan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa tekanan atau doktrin dari orang lain.
Apa ketakutan terbesar Anda sebagai perempuan, dan bagaimana ketakutan itu justru membentuk keberanian Anda hari ini?
PM: Saat ini, rasanya tidak ada lagi yang saya takutkan. Ketika seorang perempuan sudah merasa utuh dan dipenuhi cinta dalam dirinya, tidak banyak hal yang bisa membuatnya gentar.
LB: Mungkin ketakutan terbesar saya adalah merasa apa yang saya lakukan tidak pernah cukup baik. Namun saya belajar bahwa kekurangan itulah yang justru membuat kita unik.

Sebagai perempuan, kapan Anda pertama kali merasa benar-benar memahami kekuatan diri Anda sendiri? Apakah ada momen tertentu yang mengubah cara Anda melihat diri?
PM: Setelah menikah dan memiliki anak, saya sadar selama ini saya sering salah menilai diri sendiri. Saya pernah merasa lemah dan tidak mampu. Namun ketika menjalani peran sebagai istri dan ibu, sambil tetap bekerja sesekali, di situlah saya memahami bahwa saya sebenarnya kuat.
LB: Itu proses yang masih terus saya jalani sampai sekarang. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, saya semakin percaya pada diri sendiri. Saya biasanya mengikuti intuisi terlebih dahulu, lalu membiarkan logika menguatkannya.
Menurut pengalaman pribadi Anda, apa tekanan terbesar yang masih dihadapi perempuan hari ini, baik di ruang publik maupun di dalam rumah?
PM: Tekanan terbesar bagi perempuan, menurut saya, adalah tuntutan untuk selalu sempurna—di mana pun, kapan pun, dan untuk siapa pun. Tekanan ini sering membuat perempuan merasa terbebani dan terus mengejar standar yang dibentuk oleh orang-orang di sekitarnya.
LB: Perempuan sering dituntut untuk selalu kuat—kuat melahirkan dan membesarkan anak, mampu melakukan semuanya, dan tetap terlihat baik-baik saja. Padahal kenyataannya, perempuan juga bisa lelah, frustrasi, dan membutuhkan ruang untuk bertumbuh.


Apa mitos tentang perempuan yang paling ingin Anda patahkan?
PM: Stigma bahwa perempuan itu terlalu sensitif juga masih sering terdengar. Label ini membuat banyak perempuan takut menunjukkan emosi mereka, hingga akhirnya memilih membungkam suara hatinya sendiri.
LB: Ada stigma bahwa perempuan yang terlalu fokus pada karier akan sulit mendapatkan pasangan. Padahal setiap perempuan memiliki ritme hidupnya masing-masing. Tidak ada satu ukuran yang berlaku untuk semua.
Jika ada anak perempuan di Indonesia yang bercita-cita masuk ke dunia film, sebagai aktris, sutradara, atau penulis, apa yang ingin Anda sampaikan tentang cara mengambil ruang di industri yang belum selalu setara?
PM: Jika industri film memang menjadi panggilan hati, jalani saja prosesnya. Suarakan pendapatmu dan percayalah pada diri sendiri, lebih dari siapa pun dan apa pun.
LB: Jika memang tertarik pada industri film, silakan mencoba. Industri film Indonesia membutuhkan lebih banyak perempuan kreatif. Teruslah mengasah minat dan kemampuan, karena setiap perspektif memiliki nilai.

Jika Anda bisa menciptakan satu karakter perempuan yang belum pernah ada di perfilman Indonesia, seperti apa dia?
PM: Mungkin hampir semua kegelisahan perempuan sudah pernah difilmkan. Namun jika saya diberi kesempatan membuat cerita sendiri, saya membayangkan sosok perempuan sebagai puppet yang hidup di dunia boneka, dikendalikan oleh mereka yang merasa memiliki kuasa atasnya. Pada akhirnya, puppet itu memutus benang yang mengikatnya dengan sang pengendali, lalu pergi jauh, mencari rumah dan hidup yang baru. Bagi saya, itu gambaran tentang keberanian untuk lepas dan menemukan diri sendiri. Hahaha.. Gila ideku
LB: Saya selalu tertarik melihat karakter perempuan yang ditampilkan secara manusiawi, dengan segala kompleksitasnya—sisi gelap, kontradiksi, dan keunikannya. Saya menantikan cerita-cerita baru yang akan dihadirkan perfilman Indonesia ke depan.

Credits
Fotografi: Nicoline Patricia Malina - NPM Photo
Pengarah gaya: Hagai Pakan
Riasan: Sissy Sosro
Rambut: Firda Jean
Pakaian: Sejauh Mata Memandang, Sapto Dojojokartiko, Gelap Ruang Jiwa
Asisten fotografer: Eny Koesrini, Klarita Dania, Melvin Robert, Opick, Adu
Wawancara: Hans Hambali
Asisten Editor: Adeste Adipriyanti




