Aldila Sutjiadi dan Janice Tjen. Dua generasi tenis Indonesia, melangkah maju beriringan
Janice Tjen dan Aldila Sutjiadi baru saja berdiri di podium yang sama, mengibarkan merah putih dan membawa pulang emas untuk Indonesia di ajang SEA Games 2025. Di kesempatan lain, mereka saling berhadapan sebagai lawan, bertukar pukulan dalam laga yang ketat. Seperti yang terjadi di ASB Classic Auckland di minggu pertama 2026, Janice yang berpasangan dengan Caty McNally mengalahkan Aldila dan Makoto Ninomiya dalam laga perempat final di ajang WTA 250 tersebut. Dalam waktu yang berdekatan, Janice Tjen dan Aldila Sutjiadi mengalami keduanya: kerja sama dan kompetisi.
Menyatukan keduanya dalam satu cover story bukanlah upaya membandingkan. Perbedaan usia, fase karier, dan ritme hidup justru membuat cerita keduanya istimewa. Aldila berada pada titik reflektif seorang atlet yang telah melewati banyak musim, sedangkan Janice Tjen berada dalam fase percepatan, ketika hampir setiap turnamen membawa pengalaman dan gebrakan baru.

Above Janice Tjen dan Aldila Sutjiadi, dua generasi tenis Indonesia
Tatler Indonesia menemui keduanya di pertengahan November 2025, saat musim bertanding yang panjang telah berakhir dan berbuah manis bagi Aldila dan Janice. Ya, ketika itu mereka baru saja menjadi juara Ganda Putri di Chennai Open.
Dalam olahraga, kita sering merayakan hasil. Medali, gelar, peringkat. Namun jarang memberi ruang pada keberlanjutan. Pada apa yang membuat seorang atlet tetap bertahan dan bersetia pada proses, bahkan ketika tubuhnya berubah dan kepastian menghilang.

Above Janice Tjen dan Aldila Sutjiadi di satu frame, membawa harapan untuk generasi berikutnya
Dua awal yang berbeda
Menariknya, Aldila dan Janice tiba di titik ini dari arah yang hampir berlawanan. Aldila tumbuh di keluarga yang akrab dengan tenis. Ayah dan kakaknya bermain tenis. Lapangan bukan ruang asing. Ia pun mulai memegang raket sejak usia lima tahun dan mulai mengikuti turnamen pada usia 12 tahun. Namun ia mulai memantapkan diri menjadi petenis profesional di tahun ketiga kuliah, saat permainannya kian meningkat dan mulai aktif dalam berbagai turnamen.
Berbeda dengan Janice, ia bergerak dengan kecepatan keyakinan. Tidak ada satu pun anggota keluarganya yang bermain tenis. Ia justru “kecemplung” ke olahraga ini saat diajak salah seorang temannya bermain tenis di usia tujuh tahun. Sejak hari itu, ia tidak pernah benar-benar berhenti.
Bagi Janice, tenis sejak awal adalah tujuan. Bermain, berlatih, berkompetisi, dan semuanya mengarah ke satu end goal yang jelas: menjadi petenis profesional.
Ekosistem college tennis di Amerika Serikat membuka matanya bahwa level global bisa dicapai asal mengasah kesiapan mental dan kemauan untuk terus bertahan. Musim 2025 mempercepat segalanya. Gelar, main draw Grand Slam, sorotan yang datang bertubi-tubi. Bagaimana tidak? Di akhir tahun 2025 ia masih berada di peringkat 578 WTA dan dalam kurun satu tahun ia melesat ke peringkat 56 dunia.
“Buatku hal yang paling penting adalah aku menikmati apa yang aku lakukan,” tegas Janice. “Last year basically I’m unknown. Nobody really knows me. Jadi mereka yang menonton dan melawanku tidak punya banyak informasi tentang aku. Tapi musim mendatang, aku sudah lebih terekspos, jadi pastinya mereka lebih tahu banyak tentang cara permainanku.”
Janice mengaku masih menyesuaikan diri dengan “serbuan” antusiasme dari publik terhadapnya. Ia berusaha tidak menjadikannya sebagai beban. “All I can do is just do my best and hopefully the results will match that. I'll ust take the good side of it,” ungkap Janice mantap. “At the end of the day I want to be the best.”

Above Janice Tjen menjadi petenis putri Indonesia pertama di abad ini yang berhasil menembus 50 besar dunia, mengikuti jejak Yayuk Basuki.
At the end of the day I want to be the best.
Ketahanan yang diuji
Ada satu fase dalam karier Aldila yang mungkin jarang diketahui publik. Di tahun 2024 pendengarannya tiba-tiba menurun drastis. Ia mengalami vertigo hebat, disertai muntah-muntah, keseimbangan badannya terganggu, hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Aldila hampir tidak bisa mendengar. Sekitar 90 persen pendengarannya hilang. Dokter menyebut kasus ini sangat jarang. “Waktu itu aku tidak bermain sampai 3.5 bulan karena balance-ku off. Jalan lurus saja tidak bisa,” kenangnya.
Aldila mengaku dalam masa-masa terendahnya ia beruntung memiliki support system yang begitu mendukung. “Di dalam tenis ada masa kita di atas dan ada kalanya di bawah. Aku ingat salah satu mentorku berkata: keep the high but not too high, and also keep the low but not too low. Jadi memang harus menata diri agar seimbang.”

Above Setelah melewati masa sulit akibat gangguan pendengaran, Aldila Sutjiadi kembali ke lapangan dengan mental lebih kokoh
Ia berupaya untuk tidak terlalu terpuruk di saat terendah dan perlahan tapi pasti Aldila kembali bermain, meski pendengarannya tak sepenuhnya kembali. “Aku sangat beruntung dan bersyukur bisa comeback. Taking a step back to move forward!”
Aku sangat beruntung dan bersyukur bisa comeback. Taking a step back to move forward!
Chemistry sebagai titik temu
Di lapangan, perbedaan justru menjadi kekuatan asalkan chemistry tetap terjaga. “Chemistry aku dengan Janice on and off the court itu sangat bagus,” kata Aldila yang selama ini banyak berpartner dengan petenis dari luar Indonesia. “Kita sudah saling cocok, saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing.”
Yang terpenting, menurut Aldila, adalah satu hal yang sering dianggap sepele: kesenangan. “We both have fun when we play together,” ujarnya lagi. “Itu penting banget, apalagi di ganda. Kalau dua-duanya cocok dan enjoy, itu sudah jadi extra benefit.”
Janice mengamini hal itu dari sudut pandang yang sangat personal. Bermain dengan nyaman, merasa didukung, dan menikmati proses membuatnya tampil lebih lepas. Bukan hanya sebagai atlet muda, tetapi sebagai partner.

Above Chemistry di lapangan menjadi kekuatan buat Janice Tjen dan Aldila Sutjiadi
Terus bergerak
Musim bergulir. Pertandingan demi pertandingan berlalu. Lawan berganti. Partner bisa berubah. Namun keduanya sepakat bahwa apa yang mereka perlihatkan di lapangan (dan perjuangan di luar lapangan) membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil dan mereka berharap kiprah mereka bisa memantik semangat generasi berikutnya. “Tidak peduli kamu berasal dari mana, itu tidak menentukan apa yang bisa kamu lakukan atau yang tidak,” ujar Janice berkaca dari pengalaman hidupnya sendiri yang bukan berasal dari keluarga petenis atau penyuka tenis.
“Aku ingin sekali melihat lebih banyak petenis Indonesia yang berkompetisi di ajang internasional seperti Grand Slam dan Olimpiade,” tukas Aldila sambil tersenyum. Ia sendiri sudah berpikir apa yang akan ia lakukan setelah tenis, bukan berarti buru-buru untuk pensiun, tapi pasca insiden pendengarannya itu, ia mulai memikirkan langkah-langkah ke depan lebih realistis. “Aku rasanya tidak punya passion meliatih, walau aku menikmati berbagi pengalamanan dan memotivasi para atlet muda. Aku lebih ingin merintis bisnis.”
We both have fun when we play together
Dan di setiap gebrakan selalu dimulai dengan momen pertama. Termasuk momen pemotretan cover untuk Tatler Indonesia ini menjadi yang pertama bagi Janice. “This is very unfamiliar to me but I’ll try to enjoy it,” ungkap Janice. “And it will be a memorable one for sure,” tambahnya sebelum melangkah ke lapangan tenis untuk menuntaskan sesi foto.
Credits
Arahan seni: Judithya Pitana
Fotografi: Andre Wiredja - NPM Photography
Wawancara: Adeste Adipriyanti
Asisten pengarah gaya: Hans Hambali
Riasan: Vani Sagita
Pakaian: Dior, Lacoste
Lokasi: Menteng Tennis Club by Common Ground




