Bagi Dolorosa Sinaga, seni tidak pernah sekadar soal bentuk. Ia adalah bahasa—bahkan sebelum kata-kata menemukan jalannya—untuk menyuarakan kebebasan, perlawanan, dan keyakinan bahwa manusia dapat membayangkan dunia yang lain. Dunia yang lebih adil, lebih berani, dan lebih manusiawi
Pilihan Dolorosa Sinaga untuk menjadi seniman lahir dari sebuah penolakan. Di masa mudanya, orang tua—seperti kebanyakan generasi mereka—meyakini bahwa dunia seni bukanlah tempat yang aman, apalagi bagi perempuan. Seniman, menurut logika saat itu, tidak bisa menjamin masa depan, tidak bisa menopang keluarga. Namun Dolorosa justru menemukan kebalikannya: hanya melalui seni ia merasa memiliki kemerdekaan penuh atas hidup dan pikirannya.
Dengan kompromi yang rapuh, satu hingga dua semester di sekolah seni, ia melangkah masuk ke dunia yang kelak menjadi tak terpisahkan dari identitasnya. Setahun kemudian, ia memenangkan penghargaan tertinggi dalam kompetisi seni nasional untuk seniman muda. Keputusan itu tak lagi bisa dipatahkan. Ia menyelesaikan studi sarjana, lalu berangkat ke London, membawa serta tekad untuk membuktikan bahwa seni bukan pelarian, melainkan jalan hidup yang sah.
“Seni memberi saya kebebasan dan kemandirian,” ujarnya. Sebuah pernyataan sederhana yang menjadi fondasi seluruh praktiknya hingga hari ini.
Dalam perjalanan panjang kariernya, Dolorosa tidak pernah memisahkan seni dari konteks sosial dan politik Indonesia. Salah satu karya yang paling lekat dengannya, Solidarity, lahir dari luka kolektif tahun 1998—periode runtuhnya rezim Orde Baru yang diiringi kekerasan sosial dan trauma yang hingga kini belum sepenuhnya diakui negara. Baginya, euforia kejatuhan kekuasaan kala itu segera berubah menjadi kebingungan dan rasa gagal di kalangan aktivis. Bukan karena perjuangan sia-sia, melainkan karena bangsa ini tidak siap merawat dampak setelahnya.

Above Dolorosa Sinaga. Fear No Power. 2003.
Bronze, 60 × 14.7 × 31.6 cm. Collection of
National Gallery Singapore. © Dolorosa
Sinaga
Lebih menyakitkan lagi adalah penyangkalan negara terhadap kekerasan berbasis gender yang terjadi selama kerusuhan, khususnya terhadap perempuan Tionghoa Indonesia. Kesaksian beredar, korban bersuara, banyak yang memilih meninggalkan tanah air—namun negara memilih diam. Dalam diam itulah, menurut Dolorosa, nilai-nilai budaya dan kemanusiaan yang dibangun sejak kemerdekaan kembali goyah, dan bayang-bayang militerisme merembes lagi ke kehidupan sehari-hari.
Karya lain yang sama kuatnya, Fear No Power, berbicara langsung kepada perempuan. Pesannya tegas: jangan takut berkarya. Ketakutan, baginya, adalah warisan paling berbahaya dari rezim militer. Ketika perempuan menyensor dirinya sendiri, ia kehilangan kuasa atas identitas dan ekspresinya. Seni, dalam pandangan Dolorosa, adalah ruang dimana rasa takut seharusnya tidak memiliki tempat.
Tak mengherankan bila tubuh perempuan hadir berulang kali dalam patung-patungnya, sering tanpa wajah, tanpa detail anatomis yang lazim diagungkan. Namun kekuatannya justru terletak di sana. Tubuh-tubuh itu dikenali sebagai perempuan bukan karena ciri fisik, melainkan karena energi, gestur, dan emosi yang dikandungnya. Bagi Dolorosa, perempuan adalah metafora hak asasi manusia itu sendiri. Ia mengutip Gandhi: perempuan adalah pelaku sejati hak asasi, mereka melahirkan, merawat, melindungi. Nilai-nilai itu, baginya, lebih dekat dengan perempuan daripada siapa pun.
Praktik keseniannya tak pernah terlepas dari komunitas. Beranda Rakyat Garuda dan Somalaing Art Studio bukan hanya ruang fisik, tetapi juga simbol ruang aman untuk berdiskusi, berdebat, dan berorganisasi. Di sanalah aktivis lintas isu—seni, politik, lingkungan—bertemu. Di sanalah keyakinan dirawat, petisi disusun, dan generasi muda diajak berpikir bersama tentang bagaimana menjadi agen perubahan.

Above Dolorosa Sinaga. Resistante. 1994. Bronze,
33.5 × 26.2 × 36 cm. Collection of National
Gallery Singapore. © Dolorosa Sinaga
Sebagai pematung, studionya dengan sendirinya menjadi ruang terbuka: bagi pekerja, seniman muda, hingga mereka yang belajar secara otodidak. Dampaknya bukan hanya pada karya yang lahir, tetapi pada dialog yang terus berlangsung. Dolorosa percaya seni tidak pernah terpisah dari kehidupan. Seni adalah cinta, seni adalah kekuatan dan dampaknya akan selalu ada selama kita percaya padanya.
Menariknya, meski karyanya kerap monumental—terbuat dari perunggu, besi, atau material campuran, ia tidak pernah memulai dari niat untuk “membesarkan” pesan lewat skala. Setiap material baginya adalah pengalaman baru. Proseslah yang utama, dijalani dengan rasa ingin tahu dan integritas yang sama, apa pun medianya.
Ia pun tidak memulai karya dengan keraguan akan kapasitas dirinya. Saat mengerjakan Solidarity, ia sempat terpuruk selama dua tahun, tak mampu berkarya. Hingga suatu hari, melihat tanah liat di studionya, ia mulai membangun. Sesuatu yang ternyata telah lama tersimpan di benaknya.
Bagi Dolorosa, imajinasi alternatif—imagining otherwise—selalu berkaitan dengan etika. Tentang bagaimana seniman dan aktivis di Asia Tenggara hari ini memposisikan diri terhadap kekuasaan, terhadap sejarah, dan terhadap masa depan. Ia tidak lagi melihat feminisme sebagai satu-satunya payung, melainkan hak asasi manusia sebagai isu sentral: bagaimana kekuasaan bergerak, dan bagaimana keadilan terus diperjuangkan.

Above Image of Dolorosa Sinaga. Image credit:
Somalaing Art Studio
Soal warisan, ia menolak definisi sempit tentang “karya masterpiece”. Baginya, konsep itu sendiri bersifat patriarkal—seolah satu karya harus dipilih untuk mewakili segalanya. Semua karyanya penting. Semuanya adalah bagian dari warisan. Namun lebih dari itu, warisan adalah berjalan bersama orang lain, langkah demi langkah, membantu mereka memahami bagaimana berkontribusi pada perubahan sosial.
Melalui kelas, festival, dan komunitas yang ia bangun, banyak muridnya kini menciptakan ruang mereka sendiri—di galeri, kolektif, dan inisiatif budaya. Mengajar, baginya, adalah bentuk aktivisme paling sederhana sekaligus paling berkelanjutan. Jika hari ini kita diundang masuk ke ruang pikir Dolorosa Sinaga, isu-isu yang ia bawa masih sama mendesaknya: 1965, 1998, Gaza, kekuatan perempuan, dan keberanian untuk tidak takut. Ia tidak menunggu ditanya. Ia merasa wajib menyuarakannya.
Karena bagi Dolorosa, seni bukan tentang memilih satu puncak tertinggi. Seni adalah perjalanan panjang keberanian—yang terus bergerak, bersama waktu, bersama manusia, menuju sejarah yang masih kita bayangkan.
BACA JUGA:
Thresholds: pameran kelompok seniman Indonesia di White Cube Hong Kong
Topics




