White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”
Cover White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”
White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”

White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”

White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”, yang berlangsung dari 31 Oktober 2025 hingga 10 Januari 2026 di ruang galeri mereka di Connaught Road Central. Pameran ini menghadirkan sembilan seniman kontemporer dengan praktik yang berakar atau terhubung dengan Indonesia, menampilkan spektrum karya yang menggali siklus kehidupan, kematian, hingga proses transformasi yang spiritual dan simbolis.

Dikuratori oleh Galuh Sukardi, kurator independen berbasis di Bali, “Thresholds” menampilkan karya dalam berbagai medium—mulai dari lukisan, patung, tekstil, gambar, hingga perak—dari para seniman lintas generasi: Galuh Anindita, Arahmaiani, Christine Ay Tjoe, Nadiah Bamadhaj, Kei Imazu, Ines Katamso, I Gusti Ayu Kadek Murniasih (Murni), Citra Sasmita, dan Jennifer Tee.

Tatler Asia
White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”
Above White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”
White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”

Menyusuri ‘Ambang’ dalam Spiritualitas dan Kehidupan

Masing-masing seniman merefleksikan perjalanan transformasi personal maupun kolektif—baik spiritual, politis, fisik, atau mitologis—yang membentuk dialog komunal dalam pameran ini. Narasi karya-karya tersebut menunjukkan bahwa terang dan gelap, lahir dan mati, bukanlah entitas yang saling bertentangan, melainkan kekuatan yang saling menjaga keseimbangan.

Konsep ini berakar pada filosofi kain poleng dari Bali—kain hitam-putih kotak-kotak yang kerap membalut patung dan pepohonan suci. Poleng melambangkan kesatuan dualitas: harmoni dari hal-hal yang tampak bertentangan namun sesungguhnya saling melengkapi. Perspektif ini menjadi landasan kuratorial dalam melihat ulang hubungan manusia dengan alam, spiritualitas, serta realitas sosial-ekologis masa kini.

arrow left arrow left
arrow right arrow right
Photo 1 of 9 Arahmaiani (Photo: TONYRAKA Art Gallery @tonyrakagallery)
Photo 2 of 9 Christine Ay Tjoe, © White Cube (Photo: Eva Herzog)
Photo 3 of 9 Citra Sasmita (Photo: Gus Agung, Niskala Studio)
Photo 4 of 9 Galuh Anindita (Photo: F. Pujo Jatmiko)
Photo 5 of 9 I Gusti Ayu Kadek Murniasih (Photo: I Gusti Ayu Kadek Murniasih)
Photo 6 of 9 Ines Katamso (Photo: studio Tarra Luna)
Photo 7 of 9 Jennifer Tee (Photo: lais_pereira)
Photo 8 of 9 Kei Imazu (Photo: Kei Imazu)
Photo 9 of 9 NADIAH BAMADHAJ (Photo: VIVIEN POLY)
Arahmaiani (Photo: TONYRAKA Art Gallery @tonyrakagallery)
Christine Ay Tjoe, © White Cube (Photo: Eva Herzog)
Citra Sasmita (Photo: Gus Agung, Niskala Studio)
Galuh Anindita (Photo: F. Pujo Jatmiko)
I Gusti Ayu Kadek Murniasih (Photo: I Gusti Ayu Kadek Murniasih)
Ines Katamso (Photo: studio Tarra Luna)
Jennifer Tee (Photo: lais_pereira)
Kei Imazu (Photo: Kei Imazu)
NADIAH BAMADHAJ (Photo: VIVIEN POLY)

Ekstensi Pameran di The Hari Hong Kong

Selaras dengan semangat untuk memperluas akses seni, “Thresholds” juga hadir di The Hari Hong Kong hingga 31 Maret 2026, menghadirkan pilihan karya dari sembilan seniman yang dipasang di ruang publik hotel. Kolaborasi ini melanjutkan kerja sama antara White Cube dan The Hari melalui The Hari Art Prize, program seni tahunan yang sebelumnya dimulai di The Hari London sebelum akhirnya berkembang ke Hong Kong.

Tatler Asia
White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”
Above White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”
Tatler Asia
White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”
Above White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”
White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”
White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”

Tentang Kurator

Galuh Sukardi memiliki rekam jejak panjang dalam dunia seni internasional. Sebelum menjadi kurator independen, ia pernah menjabat sebagai Junior Specialist untuk Departemen Seni Lukis Modern dan Kontemporer Asia Tenggara di Sotheby’s Hong Kong dan Singapura, Head of Southeast Asia di White Cube, serta Director di David Zwirner. Komitmennya dalam mempromosikan seniman dan praktik seni Asia Tenggara menjadikannya salah satu figur penting dalam ekosistem seni kawasan.

Tatler Asia
White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”
Above White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”
White Cube Hong Kong kembali menyoroti dinamika seni kontemporer Asia Tenggara melalui pameran bertajuk “Thresholds”

Jelajahi Dunia Seni Kontemporer Indonesia di Hong Kong

Dengan menghadirkan suara-suara seniman Indonesia dalam dialog global, “Thresholds” menjadi sebuah penanda penting tentang bagaimana seni kontemporer Indonesia terus berevolusi—menjembatani tradisi, spiritualitas, dan refleksi masa kini melalui karya yang kuat dan penuh makna.

“Thresholds”
White Cube Hong Kong — 31 Oktober 2025 – 10 Januari 2026
The Hari Hong Kong — 31 Oktober 2025 – 31 Maret 2026

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi whitecube.com dan ikuti White Cube di Instagram, Facebook, X, WeChat, dan Xiaohongshu.


Baca juga:

'Alice in Borderland', 'Exit 8', 'Squid Game': mengapa kita begitu terobsesi dengan cerita bertahan hidup?

Lanskap di antara dua latar: pameran tunggal Prabu Perdana 2025 di Vice and Virtue Gallery

Celine Song mengurai makna cinta modern dalam 'Materialists'