Celine Song films a scene from ‘Materialists’ with Dakota Johnson and Chris Evans (Photo: Columbia Pictures)
Cover Celine Song merekam adegan dari 'Materialists' bersama Dakota Johnson dan Chris Evans (Foto: Columbia Pictures)
Celine Song films a scene from ‘Materialists’ with Dakota Johnson and Chris Evans (Photo: Columbia Pictures)

Tatler berbicara kepada Celine Song tentang film barunya 'Materialists' serta mengapa cinta modern terasa lebih menyerupai pasar ketimbang sebuah keajaiban

Drama romantis terbaru Celine Song yang tengah ramai diperbincangkan, Materialists, menelaah bahasa transaksional yang mewarnai dunia kencan masa kini. Ungkapan-ungkapan cinta yang agung nyaris sirna, digantikan istilah seperti “nilai”, “aset”, dan “saham” yang bergema di apartemen mewah Manhattan. Namun, seperti yang ditegaskan Song, gagasan ini bukanlah hal baru. Ia hanya berevolusi.

“Bahasa finansial sejak dulu memang menjadi bagian dari pasar pernikahan,” ujar sang penulis sekaligus sutradara. “Dalam kisah romantis era Victoria, mereka masih berbicara tentang gaji tahunan seorang bujangan. Perbedaannya kini terletak pada skala—dengan kencan daring, setiap orang senantiasa dibandingkan dengan yang lebih kaya, lebih tinggi, lebih menawan. Situasinya semakin tak terkendali.”

Wawasan inilah yang melatari Materialists, sebuah film yang di permukaan tampak bermain dengan pola segitiga cinta klasik. Lucy (Dakota Johnson), seorang matchmaker kelas atas, terjebak di antara Harry (Pedro Pascal), pria superkaya yang dianggap “unicorn”, dan John (Chris Evans), mantan kekasihnya yang kini bekerja sebagai pramusaji katering. Song menjadikan kisah ini medium untuk menggali keresahan yang lebih dalam: bagaimana budaya kencan telah mengadopsi logika kapitalisme, beserta luka emosional yang menyertainya.

Baca selengkapnya: 'Materialists' adalah dekonstruksi bijaksana Celine Song tentang cinta modern

Tatler Asia
Celine Song, writer, director and producer of ‘Materialists’ (Photo: Columbia Pictures)
Above Celine Song, penulis, sutradara, dan produser 'Materialists' (Foto: Columbia Pictures)
Celine Song, writer, director and producer of ‘Materialists’ (Photo: Columbia Pictures)

“Kita sedang menyaksikan bagaimana manusia dijadikan komoditas dan objek,” ujar Song. “Dan hal itu selalu berujung pada dehumanisasi. Yang paling menyedihkan adalah, proses dehumanisasi ini justru terjadi dalam ranah cinta—sesuatu yang semestinya sakral.”

Meski tajam dalam membedah realitas modern, Materialists tetap menyisakan kelembutan. Ada momen-momen ketika bahasa investasi dan optimasi menghilang, memberi ruang bagi sesuatu yang tak terjelaskan namun manusiawi. Menyinggung hal tersebut, Song berkata, “Sebuah barang dagangan tidak mungkin mencintai barang dagangan lain. Namun manusia—jika sebuah keajaiban hadir—dapat mencintai manusia lainnya.”

Lihat juga: 10 acara TV jujur tentang kecanggungan berkencan dan jatuh cinta di usia berapa pun

Tatler Asia
Celine Song films a scene from ‘Materialists’ with Chris Evans (Photo: Columbia Pictures)
Above Celine Song merekam adegan dari 'Materialists' bersama Chris Evans (Foto: Columbia Pictures)
Tatler Asia
Celine Song, writer, director and producer of ‘Materialists’ (Photo: Columbia Pictures)
Above Celine Song, penulis, sutradara, dan produser 'Materialists' (Foto: Columbia Pictures)
Celine Song films a scene from ‘Materialists’ with Chris Evans (Photo: Columbia Pictures)
Celine Song, writer, director and producer of ‘Materialists’ (Photo: Columbia Pictures)

Ketegangan antara cinta sebagai keajaiban sekaligus sebagai komoditas merupakan inti dari Materialists. Meski bersentuhan dengan elemen klasik genre romansa—pernikahan di New York, jurang kelas sosial, hingga pertemuan kebetulan—Song enggan membiarkan filmnya terjebak dalam pola yang dapat ditebak. “Sebagian besar kenikmatan menonton film terletak pada bagaimana ia dapat terasa nyaman sekaligus mengejutkan,” jelasnya. “Anda tidak bisa menghadirkan kejutan dan kegembiraan jika tidak lebih dulu menempatkan penonton pada ruang yang familiar. Selalu ada keseimbangan antara menarik masuk dan mendorong keluar.”

Di dalam tarik-ulur itulah tersimpan niat sejati film ini: sebuah keberanian untuk memperlakukan drama romantis dengan serius, tanpa perlu meromantisasinya. Materialists mengajukan pertanyaan sulit tentang apa yang hilang ketika kita mengukur cinta layaknya laba atas investasi. Dan bagi mereka yang masih berpegang teguh pada gagasan romansa, meski dunia menganggapnya sebagai sikap naif, Song hanya memiliki satu pesan: jangan lepaskan keyakinan itu.


This story was originally written in English by Julianna Cabili.

Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris oleh Julianna Cabili dan diterbitkan pada 1 Agustus 2025. Read the original story here.