Scenes from Materialists
Cover 'Materialists' memegang cerminan sistem kencan kita dan peran uang di dalamnya (Foto: Instagram / @a24)
Scenes from Materialists

Dakota Johnson, Pedro Pascal, dan Chris Evans melalui film Materialists menyingkap kenyataan bahwa uang memiliki kendali atas dinamika kencan modern

Masih ingat lagu viral yang beredar di media sosial tahun lalu dengan lirik, “I’m looking for a man in finance, trust fund, 6’2”, blue eyes”? Lagu tersebut sesungguhnya menangkap inti persoalan yang selama ini diketahui banyak orang, namun jarang diucapkan secara terbuka dalam konteks percintaan: uang. Dunia kencan sejatinya adalah sebuah pasar asmara, di mana daya tarik tidak hanya diukur dari penampilan fisik atau kualitas pribadi, tetapi juga dari kestabilan finansial. Realitas ini tergambar gamblang dalam film terbaru Celine Song, Materialists (2025). Konflik utama yang ditawarkan—apakah Lucy (Dakota Johnson) akan memilih Harry (Pedro Pascal), seorang pria mapan, atau John (Chris Evans), aktor yang tengah berjuang—bukan sekadar hiburan. Kisah tersebut berfungsi layaknya dokumenter yang menyingkap rumus keras dalam hubungan romantis masa kini.

Lihat juga: Jenna Ortega menghidupkan kembali gaya goth: momen terbaiknya dalam berbusana saat tidak berperan sebagai Wednesday

'Materialists': cermin ekonomi percintaan

Tatler Asia
Scenes from Materialists
Above Karakter Pedro Pascal dalam 'Materialists' tampaknya merupakan “unicorn” dalam dunia kencan karena ia memenuhi semua kriteria: ketampanan, uang banyak, tinggi badan bagus, dan nilai-nilai yang baik (Foto: Instagram / @a24)
Tatler Asia
Scenes from Materialists
Above Harry, yang diperankan Pedro Pascal, mengajak Lucy, karakter Dakota Johnson, berkencan mahal dan menghujaninya dengan karangan bunga yang mewah—apa lagi yang diinginkan seorang gadis? (Foto: Instagram / @a24)
Scenes from Materialists
Scenes from Materialists

Karya terbaru Song ini memantik perdebatan sengit di ranah digital, dengan sejumlah kritikus menyebutnya sebagai “propaganda pria miskin.” Namun, pembelaan sutradara justru menyingkap sisi yang lebih menggelisahkan dari cara pandang kolektif kita. “Saya sangat prihatin dengan cara kita membicarakan orang-orang yang hidup dalam keterbatasan (miskin),” ujarnya dalam sebuah wawancara yang kemudian viral.

“Kemiskinan bukanlah kesalahan mereka yang miskin,” lanjut Song. “Maka dari itu, sangatlah kejam bila kita menyebut John—seorang karakter penuh kasih yang diperankan dengan sangat baik oleh Chris Evans—dengan istilah merendahkan seperti 'broke boy' atau 'broke man'.”

Siapa tahu Anda melewatkannya: Bunga Penutup Abad' kembali ke panggung: merayakan 100 tahun Pramoedya Ananta Toer

Poverty is not the fault of the poor

- Celine Song, director of ‘Materialists’ -

Aplikasi kencan dan hierarki sosial

Tatler Asia
Scenes from Materialists
Above Dakota Johnson di lokasi syuting 'Materialists' (Foto: Instagram / @a24)
Scenes from Materialists

Kenyataan yang tak kalah pahit adalah bahwa status ekonomi dalam dunia kencan berpengaruh langsung, bukan hanya pada tingkat daya tarik, melainkan juga pada visibilitas seseorang. Aplikasi kencan yang kian marak di seluruh dunia umumnya menyediakan keanggotaan premium, yang secara otomatis mengecualikan mereka yang tidak mampu membayar.

Ambil contoh aplikasi kencan eksklusif Raya, yang kerap dijuluki “klub privat bagi para pencari pasangan.” Akses keanggotaan Raya amat terbatas, hanya menerima segelintir pelamar—umumnya pengguna Apple, selebritas, tokoh industri ternama, atau figur digital berprofil tinggi. Alih-alih menghubungkan orang berdasarkan kesesuaian sejati, model ini menciptakan lingkungan elitis yang mempertegas hierarki sosial.

Bahkan ketika seseorang berhasil menemukan pasangan yang dianggap “cocok”, ekspektasi lain tetap muncul, mulai dari pilihan lokasi hingga pengalaman kencan. Dinamika ini digambarkan dengan jelas dalam Materialists, ketika Lucy berkata kepada Harry, “Aku tidak tahu apakah aku menyukaimu, atau hanya tempat-tempat yang kau ajak aku datangi.” Kontrasnya terlihat dalam pertemuan Lucy dengan John, yang gagal bahkan sebelum dimulai hanya karena ia kesulitan mencari tempat parkir yang terjangkau—sebuah potret sederhana tentang bagaimana hambatan ekonomi dapat merusak hubungan.

Cinta sebagai komoditas

Tatler Asia
Scenes from Materialists
Above Lucy mengikuti kata hatinya dalam 'Materialists', tetapi bahkan ketika ia menerima tawaran tersebut, tawaran tersebut disampaikan dalam istilah bisnis, menunjukkan betapa ekonomi dapat memengaruhi masalah hati (Foto: Instagram / @a24)
Scenes from Materialists

Sebagai seorang matchmaker sukses di New York, Lucy menjadi perwujudan kontradiksi budaya kita. Ia mengubah cinta menjadi komoditas profesional, mereduksi kompatibilitas menjadi sekadar angka dalam tabel: tinggi badan, pendapatan, hingga arah karier. Namun, ketika dihadapkan pada pilihannya sendiri antara keamanan finansial atau kedalaman emosional, Lucy pun tak kuasa melawan sistem yang ia bangun.

Pada akhirnya, Lucy mengikuti kata hatinya dan “memilih cinta”. Namun, kritik Song melampaui pilihan individu; ia menyoroti sistem yang lebih luas. “Seluruh film ini membicarakan perjuangan melawan cara kapitalisme mencoba menjajah hati kita dan menjajah cinta,” jelasnya. Materialists tidak menempatkan kekayaan atau kemiskinan sebagai pihak yang jahat, melainkan menunjukkan bagaimana kecemasan finansial menembus hingga ke keputusan paling intim dalam hidup manusia.

Pernyataan bahwa film ini adalah “propaganda pria miskin” justru menguatkan tesis Song. Penolakan instan terhadap John hanya karena kondisi keuangannya mencerminkan kelas sosial yang telah terinternalisasi dalam diri kita. Kita terbiasa menganggap kesulitan ekonomi sebagai kelemahan pribadi, alih-alih melihatnya sebagai kenyataan struktural yang memengaruhi jutaan orang di dunia.

Pada akhirnya, Materialists mengajukan pertanyaan yang tak nyaman: benarkah cinta mampu melampaui sekat ekonomi, ketika tagihan sewa tetap harus dibayar? Film ini tidak menawarkan jawaban yang sederhana. Namun, ia memaksa kita menghadapi kenyataan pahit tentang dunia kencan modern—bahwa di balik pencarian pasangan hidup, sering kali kita memperlakukan mereka layaknya portofolio investasi.


This story was originally written in English by Suchetana Mukhopadhyay.

Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris oleh Suchetana Mukhopadhyay dan diterbitkan pada 26 Agustus 2025. Read the original story here.

Topics