Mengintip kepemimpinan Jérôme Lavergnolle yang menghidupkan kristal Saint-Louis Paris dalam hunian mewah modern
Cover Mengintip kepemimpinan Jérôme Lavergnolle yang menghidupkan kristal Saint-Louis Paris dalam hunian mewah modern
Mengintip kepemimpinan Jérôme Lavergnolle yang menghidupkan kristal Saint-Louis Paris dalam hunian mewah modern

Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Jérôme Lavergnolle menjelaskan bagaimana Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern

Di sebuah desa kecil bernama Saint-Louis-lès-Bitche, di kawasan Lorraine, Prancis timur, api tungku pertama kali dinyalakan pada tahun 1586. Lebih dari empat abad kemudian, panas itu masih terasa—bukan hanya secara harfiah di bengkel kerja, tetapi juga sebagai simbol keberlanjutan sebuah tradisi yang nyaris tak terputus oleh waktu. Bagi Jérôme Lavergnolle, CEO Saint-Louis Paris, warisan itu bukan konsep abstrak, melainkan pengalaman yang hidup.

“Begitu Anda melangkah ke dalam hot workshop dan merasakan panas tungku, Anda langsung terhubung dengan sejarah Saint-Louis,” ujarnya. Di sanalah, di antara pijar api dan napas para pengrajin, jejak ratusan tahun keterampilan diwariskan—bukan melalui buku, melainkan lewat tangan, mata, dan intuisi.

Sebagai manufaktur kristal tertua di Eropa, Saint-Louis berdiri teguh pada prinsip yang semakin langka di industri mewah masa kini: hampir seluruh prosesnya masih dilakukan secara manual. Lebih dari 220 pengrajin bekerja di sana, termasuk sepuluh penerima gelar Meilleur Ouvrier de France. Setiap gelas, lampu, atau chandelier ditiup dengan mulut dan dipotong dengan tangan. Sentuhan manusia tidak disembunyikan—justru dirayakan.

Tatler Asia
Kepemimpinan berbasis warisan oleh Saint-Louis dan masa depan kristal dalam dunia luxury
Above Kepemimpinan berbasis warisan oleh Saint-Louis dan masa depan kristal dalam dunia luxury
Kepemimpinan berbasis warisan oleh Saint-Louis dan masa depan kristal dalam dunia luxury

Keahlian ini menuntut waktu. Bertahun-tahun pelatihan diperlukan sebelum seorang pengrajin cukup piawai untuk menghasilkan karya yang layak menyandang nama Saint-Louis. Teknik pewarnaan berlapis—dengan lebih dari sembilan warna khas, dari biru langit hingga amber—dijaga ketat dan terus dikembangkan. Regenerasi menjadi kunci: usia rata-rata pengrajin Saint-Louis hari ini adalah 38 tahun, bukti bahwa tradisi hanya bisa bertahan jika terus diturunkan.

Sejarah juga mengajarkan bahwa apa yang tidak diwariskan, bisa lenyap. Lavergnolle menyinggung kisah paperweight kristal—teknik yang sempat hilang sejak awal abad ke-20. Ketika seorang kolektor mencari paperweight untuk memperingati penobatan Ratu Elizabeth II pada 1953, semua manufaktur menolak. Saint-Louis memilih jalan sulit: menghidupkan kembali teknik yang terlupakan. Setelah berbagai eksperimen, mereka berhasil. Hingga kini, Saint-Louis adalah satu-satunya manufaktur yang masih membuat paperweight kristal secara handmade.

Tatler Asia
Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Above Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Tatler Asia
Kepemimpinan berbasis warisan oleh Saint-Louis dan masa depan kristal dalam dunia luxury
Above Kepemimpinan berbasis warisan oleh Saint-Louis dan masa depan kristal dalam dunia luxury
Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Kepemimpinan berbasis warisan oleh Saint-Louis dan masa depan kristal dalam dunia luxury

Bagi Lavergnolle, warisan bukan berarti satu gaya tunggal. “Tidak ada satu gaya Saint-Louis, melainkan banyak,” katanya. Filosofi ini terasa relevan ketika berbicara tentang Indonesia dan Asia Tenggara. Ia melihat adanya kesamaan sensitivitas: penghormatan pada kerajinan tangan, material alami, dan kekuatan cerita. Dalam desain Asia Tenggara—khususnya Indonesia—warisan dan modernitas mengalir berdampingan. Cahaya, tekstur, dan kontras dirayakan.

Di sinilah kristal Saint-Louis menemukan dialognya. Sebuah chandelier Royal dapat hadir dalam arsitektur tropis kontemporer; lampu portabel Folia terasa serasi di samping rotan atau kayu jati; gelas Tommy Roemer bisa berdiri anggun di atas meja kayu fosil minimalis. Saint-Louis tidak menciptakan koleksi untuk “pasar tertentu”. Mereka menciptakan objek yang mengundang percakapan.

arrow left arrow left
arrow right arrow right
Photo 1 of 5 Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Jérôme Lavergnolle menjelaskan bagaimana Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Photo 2 of 5 Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Jérôme Lavergnolle menjelaskan bagaimana Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Photo 3 of 5 Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Photo 4 of 5 Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Photo 5 of 5 Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Jérôme Lavergnolle menjelaskan bagaimana Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Jérôme Lavergnolle menjelaskan bagaimana Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern

Menjaga relevansi di tengah lanskap mewah yang terus berubah, bagi Lavergnolle, bukan soal memilih antara tradisi dan inovasi. Warisan adalah kompas. Kolaborasi dengan desainer kontemporer, eksplorasi fungsi baru, hingga reinterpretasi tableware klasik—semuanya dilakukan dengan jiwa Saint-Louis tetap terjaga.

Tableware, yang menjadi ciri khas Saint-Louis sejak abad ke-19, kini berevolusi. Konsep mix and match menggantikan formalitas kaku. Koleksi Twist 1586, misalnya, tidak hanya merayakan wine, tetapi juga spirit dan fortified wine, dengan gelas yang dirancang khusus untuk mengoptimalkan pengalaman sensorik. Bersantap menjadi lebih santai, lebih modern—tanpa kehilangan keanggunan.

Tatler Asia
Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Above Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern

Dalam proses kreatifnya, kristal tetap menjadi medium yang sangat manusiawi. Satu objek berpindah dari tangan ke tangan, setiap pengrajin meninggalkan gesturnya. Teknologi hadir bukan untuk menggantikan, melainkan untuk memperkaya pengalaman—mulai dari aplikasi kustomisasi pencahayaan hingga visualisasi ruang. “Kerajinan membentuk objeknya, teknologi membentuk pengalaman di sekitarnya,” ujar Lavergnolle.

Dialog dengan desainer selalu dimulai dari imersi. Para kolaborator diajak menyelami manufaktur, menghirup atmosfer hutan Lorraine, menelusuri arsip ribuan cetakan dan karya. Dari sana, ide tidak lagi bersifat teoritis. Kristal “berbicara”—tentang bagaimana ia mengembang, menolak, dan bergerak. Dari pertukaran inilah lahir koleksi seperti Apollo dan Torsade, di mana imajinasi kontemporer bertemu kerendahan hati material.

Dalam beberapa tahun terakhir, pencahayaan menjadi motor pertumbuhan utama Saint-Louis. Bukan sekadar tren, melainkan refleksi perubahan gaya hidup: cahaya kini membentuk identitas ruang. Dari meja ke seluruh rumah, Saint-Louis hadir sebagai mitra arsitektur interior. Kristal tidak lagi dipandang formal, melainkan sebagai elemen emosional yang membangun suasana.

Tatler Asia
Kepemimpinan berbasis warisan oleh Saint-Louis dan masa depan kristal dalam dunia luxury
Above Kepemimpinan berbasis warisan oleh Saint-Louis dan masa depan kristal dalam dunia luxury
Tatler Asia
Kepemimpinan berbasis warisan oleh Saint-Louis dan masa depan kristal dalam dunia luxury
Above Kepemimpinan berbasis warisan oleh Saint-Louis dan masa depan kristal dalam dunia luxury
Kepemimpinan berbasis warisan oleh Saint-Louis dan masa depan kristal dalam dunia luxury
Kepemimpinan berbasis warisan oleh Saint-Louis dan masa depan kristal dalam dunia luxury

Keberlanjutan juga menjadi perhatian utama. Investasi pada tungku baru yang lebih efisien energi menegaskan komitmen Saint-Louis untuk mengurangi emisi CO₂ hingga 50 persen pada 2028, tanpa mengorbankan metode artisanal. Bagi Lavergnolle, tanggung jawab lingkungan tak terpisahkan dari tanggung jawab sosial—Saint-Louis tetap menjadi pemberi kerja utama di wilayahnya.

Bagi klien Indonesia, yang kerap mencari keunikan, Saint-Louis menawarkan fleksibilitas melalui bespoke—terutama dalam pencahayaan. Dari koleksi Royal saja, satu chandelier dapat memiliki lebih dari 50.000 kemungkinan konfigurasi. Namun prinsipnya tetap sama: kustomisasi harus memperkaya desain, bukan mendistorsinya.

Tatler Asia
Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Above Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern

Sebagai pemimpin, Lavergnolle melihat perannya sebagai penjaga ekosistem. Di bawah naungan Hermès Group, ia memimpin dengan kesabaran, visi jangka panjang, dan kedekatan dengan para pengrajin. Pencapaian paling bermakna baginya adalah pengakuan UNESCO pada 2023 atas seni pembuatan kaca dan kristal sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia—sebuah legitimasi sekaligus dorongan untuk terus mewariskan keahlian ini.

Tatler Asia
Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Above Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern
Dari meja makan hingga pencahayaan arsitektural, Saint-Louis menempatkan kristal sebagai elemen hidup dalam lanskap hunian mewah modern

Menjelang ulang tahun Saint-Louis yang ke-440, Lavergnolle tidak melihat ke belakang dengan nostalgia semata, melainkan ke depan dengan rasa tanggung jawab. “Warisan hanya bernilai jika ia hidup,” katanya. Lima puluh tahun dari sekarang, ia berharap Saint-Louis tetap relevan—bukan sebagai relik masa lalu, tetapi sebagai simbol kemewahan yang berpikir, bertanggung jawab, dan penuh emosi.

Di antara api tungku dan kilau kristal, Saint-Louis terus menulis kisahnya. Dan bagi Jérôme Lavergnolle, itulah yang membuat perjalanan ini tak pernah selesai.


Baca juga:

Ida Ayu Astari Prada: Bridging Worlds of Culture, Nature, and Innovation

Tatler Most Influential 2025: bertemu dengan pembuat perubahan paling berpengaruh di Asia

Samit Ganguly: Membawa visi abadi hospitality ke Four Seasons Hotel Jakarta

Topics