Cover Dari layar lebar hingga ruang advokasi, Raline Shah terus merangkai makna dalam setiap langkah hidupnya (Foto: Glenn Prasetya)

Dalam sorotan yang seringkali membatasi, Raline Shah memilih untuk membebaskan dirinya. Ia berkecimpung di ranah seni, bisnis, dan advokasi sosial, menjadikan kehidupannya bukan sekadar panggung, melainkan ruang untuk selalu bertumbuh dan memberi makna

Elegansi, keteguhan, dan suara yang membawa makna—tiga hal inilah yang terus terjalin dalam perjalanan hidup Raline Shah. Bagi aktris, filantropis, sociopreneur, sekaligus sosok publik yang kerap disorot, tampil anggun bukan sekadar urusan gaya atau sorotan kamera. Elegansi, menurutnya, berakar dari keseimbangan diri: sebuah proses panjang untuk mengenali, menenangkan, dan mengatur ritme batin di tengah dunia yang terus bergerak.

True elegance,” ucapnya lembut, “berawal dari relasi yang baik dengan diri sendiri, lalu terpantul dalam relasi kita dengan orang lain.” Baginya, ketenangan bukan sesuatu yang bisa direkayasa dari luar, melainkan harus dibangun dari dalam: bagaimana tubuh, pikiran, dan jiwa menemukan harmoni. Ia berbicara tentang regulasi sistem saraf, tentang membiasakan diri untuk sadar, setiap pagi atau malam, apa yang membuatnya gelisah, apa yang menenangkannya. Dari kebiasaan sederhana itu, tumbuhlah kesadaran untuk hadir secara autentik, namun tetap peka pada ruang dan orang lain.

“Karisma tidak bisa bertahan kalau hanya akting,” tambahnya. “Karisma lahir dari dalam, dari kesadaran, kepekaan, dan keseimbangan.”

Baca juga: Asia's Most Stylish 2025: menyambut para bintang gaya tahun ini dari seluruh wilayah

Tatler Asia
Above Raline Shah membuktikan bahwa karisma sejati tumbuh dari dalam (Foto: Glenn Prasetya)

Karisma lahir dari dalam, dari kesadaran, kepekaan, dan keseimbangan.

- Raline Shah -

Raline Shah di balik sorotan

Bagi banyak orang, Raline adalah bintang film, figur publik, atau perempuan glamor dalam balutan gaun. Namun ketika sorot lampu meredup, ia hanyalah Raline yang sederhana: mengenakan pakaian berbahan katun organik, menghabiskan waktu dengan keluarga terutama sang nenek atau berkumpul bersama sahabat lama.

“Orang-orang terdekatku,” katanya, “adalah mereka yang tidak butuh aku jelaskan siapa diriku sebenarnya.”

Kedekatan dengan lingkaran kecil inilah yang menjaga energinya tetap jernih. Dalam keramaian dunia hiburan dan publik, ia belajar bahwa “keluarga” tak selalu soal darah, tapi juga tentang mereka yang dipilih untuk berjalan bersama.

Karier Raline sulit dibingkai hanya dalam satu kotak saja. Dari film hingga filantropi, dari dunia hiburan hingga bisnis, ia bergerak luwes, seolah menolak batas. Namun ada benang merah yang ia kenali: semangat kolaborasi.

“Aku paling suka pekerjaan yang menuntut kolaborasi dan perspektif berbeda,” ungkapnya. “Justru timku banyak terdiri dari orang-orang yang berani berkata ‘tidak’, karena dari perbedaan itulah lahir keputusan terbaik.”

Baginya, menjadi pemimpin bukan berarti memaksakan perspektif, melainkan meramu banyak sudut pandang hingga tercapai “the greatest and highest good”—sebuah keputusan yang melayani kebaikan bersama.

Tatler Asia
Above “Aku paling suka pekerjaan yang menuntut kolaborasi dan perspektif berbeda.” – Raline Shah (Foto Glenn Prasetya)

Kekuatan yang bermakna

Dalam obrolan bersama Tatler Indonesia, ia sering menyinggung tentang “power with responsibility”. Bagi Raline, kekuatan bukan terletak pada sorotan publik atau popularitas, melainkan pada kemampuan untuk berkata “tidak”—untuk menolak agenda orang lain dan membangun jalan sendiri. Ia menggunakan koneksi, kepercayaan, dan jaringannya lintas dunia kreatif maupun korporasi untuk menjembatani dua dunia yang kerap disalahpahami.

Pengalaman filantropinya dimulai sejak kecil, saat ikut orangtuanya membantu distribusi bantuan ke Aceh pasca-tsunami. Dari situ ia belajar bahwa menyebarkan kebaikan bukan hanya memberi manfaat bagi orang lain, tapi juga memurnikan diri sendiri. Kini, ia merasa semakin terpanggil untuk menggunakan pengaruhnya secara lebih terarah: memilih proyek, film, maupun peran sosial yang memiliki makna mendalam dan berdampak nyata.

Salah satu titik balik baginya datang lewat sebuah film baru yang dibintanginya tentang kekerasan dalam rumah tangga, di mana ia berperan sebagai pengacara LBH (Lembaga Bantuan Hukum) yang membela perempuan secara cuma-cuma.

“Peran itu membuka mataku,” katanya serius, “bahwa seorang perempuan harus memenuhi potensinya sebagai manusia. Empati harus tumbuh, agar seluruh talenta kita bisa direalisasikan.”

Saat ditanya Tatler mengenai peran barunya sebagai staf khusus Komdigi (Kementrian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia), Raline mengaku bahwa dirinya tidak berambisi terjun ke politik dan sesederhana ingin berkontribusi di ranah global partnership, area yang disodorkan untuknya dan sebenarnya telah menjadi kekuatannya selama ini. Namun, ia pun terbuka menyatakan bahwa baginya jabatan tersebut tidak bersifat permanen.

Raline mengakui, justru sebagai seniman ia lebih leluasa berbicara dari hati. “Struktur hierarki dan birokrasi dalam pemerintahan sangat ketat dan konvensional, dan mungkin itu bukan ruang yang ideal bagiku,” ungkapnya. “Jika ruang gerakku malah jadi terbatas dalam menciptakan dampak, maka aku harus menemukan jalur lain,” tuturnya lugas namun hangat. 

Tatler Asia
Above Raline Shah membuktikan bahwa karisma sejati tumbuh dari dalam (Foto: Glenn Prasetya)

Jika ruang gerakku malah jadi terbatas dalam menciptakan dampak, maka aku harus menemukan jalur lain.

- Raline Shah -

Harapan bagi Indonesia

My hope for Indonesia,” ujarnya, “is that we can become a nation of conscious individuals—masyarakat yang benar-benar sadar dan peduli. Kita memilih pemimpin yang berjuang untuk kesejahteraan rakyat, mengelola sumber daya dengan bijak, dan memastikan kualitas hidup orang Indonesia meningkat.”

Ia ingin melihat Indonesia unggul dalam perdagangan dan ekonomi, namun tidak dengan mengorbankan alam dan satwa liar. “Yang lebih penting lagi,” tambahnya, “kita harus mampu berkolaborasi di tingkat internasional, terutama lewat budaya, seni, dan sektor kreatif, karena di situlah daya tarik dan kekuatan Indonesia di mata dunia.”

Raline juga menaruh perhatian pada peran generasi muda dalam pemerintahan dan demokrasi. Ia berharap anak muda Indonesia diberi ruang yang setara untuk berpartisipasi aktif dan tetap kritis. “Pemerintah,” lanjutnya, “harus bisa membangun kepercayaan dan menunjukkan transparansi. Kalau tidak, generasi muda bisa tumbuh menjadi apatis terhadap politik, dan itu berbahaya bagi demokrasi.”

Baginya, demokrasi hanya bisa hidup jika masyarakatnya mau terus belajar, berpikir kritis, dan memahami sistem secara komprehensif. “Kita harus membentuk kolektif yang sehat yang bersatu untuk kebaikan bersama,” tambahnya.

Involvement of issues that affect the general public is critical,” ujarnya. “Aku senang sekali melihat semakin banyak orang yang berani bicara tentang apa yang benar. Kita memberikan kritik yang konstruktif dan jelas, dan aku berharap para pemegang kekuasaan mau mendengar dan membuat perubahan—bukan karena takut, tapi karena cinta pada bangsa ini.”

Tatler Asia
Above Raline Shah, sosok yang menolak dibatasi peran: aktris, filantropis, sociopreneur, sekaligus advokat (Foto: Glenn Prasetya)

Menjalani kehidupan multiperan

Kerap kali orang lupa sisi lain Raline: seorang perempuan yang belajar komedi di Los Angeles, piawai melakukan improvisasi, dan diam-diam penuh humor. “Banyak orang menganggapku intimidating,” katanya sambil tertawa. “Padahal aku bisa humoris juga.” Kontras ini, antara elegansi publik dan kelucuan pribadi, menjadi bukti bahwa ia enggan dikotak-kotakkan.

Kini, selain menjadi aktris, ia juga duduk sebagai staf khusus di sebuah kementerian. Status ini membuatnya kerap dituntut untuk tampil sesuai ekspektasi publik. Namun ia tetap berpegang pada prinsip: ekspresi tidak harus selalu lewat media sosial. “Impact yang paling nyata,” jelasnya, “terjadi dalam interaksi langsung, bukan sekadar posting.”

Tatler Asia
Above “Elegansi sejati lahir dari kesadaran dan keberanian untuk menjadi diri sendiri.” – Raline Shah (Foto Glenn Prasetya)

Ketika ditanya tentang legacy, Raline berhenti sejenak sebelum menjawab:

“Aku ingin meninggalkan pesan bahwa kamu tak harus ikut arus ramai-ramai. Jadilah autentik, jujur pada dirimu sendiri. Kekayaan sejati ada pada pengalaman batin, karena itu satu-satunya yang tak bisa diambil orang lain.”

Di antara semua peran itu, ia menegaskan satu hal: hidup harus dijalani dengan kesadaran, kolaborasi, dan tujuan yang jelas.

Dan mungkin di situlah letak elegansi sejati, bukan pada gaun atau sorot kamera, melainkan pada keberanian untuk menjadi diri sendiri dan mendengar kata hati, dengan seutuhnya.

Credits

Fotografi: Glenn Prasetya
Gambar: Lee Zhelong
Wawancara: Adeste Adipriyanti
Penulis: Judithya Pitana & Adeste Adipriyanti
Arahan kreatif: Hans Hambali
Pengarah gaya: Yoland Handoko
Riasan: Bubah Alfian
Rambut: Yez Hadjo
Pakaian: Sean Sheila, Stella Rissa
Aksesori: Rinaldy Yunardi
Lokasi: Studio Empat Tujuh