Dari investasi berkelanjutan hingga komunikasi lintas generasi, Parag Dhingra, Head of Wealth & Retail Banking, Standard Chartered Indonesia berbagi pandangan mengenai bagaimana keluarga affluent Indonesia dapat menjaga warisan finansial dan nilai hidup yang bermakna.
Dulu, warisan kerap dimaknai sebatas hal-hal yang kasat mata: tanah, rumah, rekening, atau bisnis keluarga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kini, cara pandang itu berubah. Di tengah dunia yang semakin kompleks dan saling terhubung, keluarga affluent di Indonesia mulai menyadari bahwa warisan sejati tidak hanya soal aset, melainkan juga tentang nilai, visi, dan keberlanjutan.
“Banyak keluarga sekarang sadar bahwa kita tidak bisa hanya mentransfer kekayaan finansial saja,” ujar Parag Dhingra, Head of Wealth and Retail Banking Standard Chartered Indonesia, ketika berbincang dengan Tatler Indonesia. “Mereka mulai memikirkan warisan non-finansial seperti family values, family vision, family governance, hingga prinsip keberlanjutan.”
Kesadaran ini, menurut Parag berakar dari fenomena yang sering disebut sebagai the third-generation curse, yaitu ketika generasi pertama membangun, generasi kedua mengembangkan, lalu mengalami kehilangan atau penurunan di generasi ketiga. “Fenomena ini menjadi refleksi penting. Kini banyak keluarga ingin memastikan kisah mereka tidak berhenti di generasi ketiga,” ujarnya.
Banyak keluarga sekarang sadar bahwa kita tidak bisa hanya mentransfer kekayaan finansial saja. Mereka mulai memikirkan warisan non-finansial seperti family values, family vision, family governance, hingga prinsip keberlanjutan.

Above Penting untuk mulai memikirkan legacy planning (Foto: Unsplash/Brett Jordan)
Mengelola Kekayaan dengan Prinsip ‘Today, Tomorrow, Forever’
Bagi Parag, membangun warisan lintas generasi adalah sebuah perjalanan yang menuntut keseimbangan antara proteksi, pertumbuhan, dan perencanaan jangka panjang. Di Standard Chartered, filosofi ini dirangkum dalam satu prinsip: Today, Tomorrow, Forever.
“Today berarti memastikan kebutuhan saat ini terpenuhi, seperti biaya hidup, pendidikan, dan kesehatan. Tomorrow fokus pada pengembangan aset untuk tujuan jangka panjang seperti dana pensiun. Sedangkan Forever memastikan transisi kekayaan ke generasi berikutnya berlangsung lancar dan terstruktur,” jelasnya. Pendekatan ini menolak pandangan bahwa manajemen kekayaan hanyalah soal memilih produk investasi terbaik. “Setiap solusi yang kami hadirkan dikurasi dengan cermat dan harus relevan dengan kebutuhan serta tujuan unik masing-masing keluarga,” tambahnya.
Dalam praktiknya, tim wealth manager Standard Chartered tidak hanya membantu nasabah memilih instrumen, tetapi juga mendampingi mereka dalam membangun safety net yang solid, mulai dari proteksi asuransi hingga pengelolaan aset likuid, agar siap menghadapi situasi tak terduga tanpa mengorbankan tujuan jangka panjang.

Above Membangun warisan lintas generasi adalah sebuah perjalanan yang menuntut keseimbangan antara proteksi, pertumbuhan, dan perencanaan jangka panjang (Foto: Unsplash/Michelle Henderson)
Menghubungkan Generasi Lewat Nilai dan Pengetahuan
Bagi banyak keluarga affluent, tantangan terbesar bukanlah semata-mata soal aset, tetapi juga komunikasi lintas generasi. Perbedaan pandangan antara baby boomers, millennials, dan Gen Z sering kali menciptakan jarak dalam cara mereka memandang uang, risiko, dan investasi.
“Generasi muda memiliki kesadaran tinggi terhadap isu keberlanjutan dan sosial, sementara generasi sebelumnya cenderung fokus pada stabilitas,”. Jika dua hal ini bisa dipertemukan dan saling melengkapi, hasilnya tentu akan luar biasa,” ungkapnya
Untuk menjembatani tantangan tersebut, Standard Chartered menghadirkan Next Generation Event, sebuah program edukasi finansial interaktif bagi anak muda nasabah priority private. “Daripada ceramah, kami ajak mereka belajar lewat simulasi dan diskusi yang relevan,” ungkapnya. Parag percaya bahwa edukasi finansial harus dimulai sedini mungkin. “Transisi generasi itu pasti terjadi, mau tidak mau. Jadi harus dipersiapkan dari awal,” ujarnya. “Kita tidak ingin hanya dikenal oleh orang tuanya saja, tapi juga dipercaya oleh anak-anak mereka kelak.”

Above Setiap generasi memiliki cara pandang yang berbeda dalam menilai uang, risiko, dan investasi (Foto: Unsplash/Unseen Studio)
Global Reach, Local Insight
Salah satu keunggulan Standard Chartered adalah jaringannya yang luas dan beroperasi di lebih dari 50 negara. “Banyak nasabah kami yang memiliki aset, bisnis, atau anak yang menempuh studi di luar negeri. Melalui jaringan lintas negara ini, kami dapat membantu mereka memenuhi kkebutuhan finansial mereka secara lebih efisien,” jelasnya.
Jaringan ini juga memberi Standard Chartered akses pada market insights dari berbagai pusat ekonomi dunia, dari London hingga Dubai, yang membantu nasabah Indonesia mengambil keputusan investasi dengan perspektif global.
Menatap lima hingga sepuluh tahun ke depan, Parag yakin teknologi akan menjadi katalis besar dalam industri wealth management. “Digitalisasi bukan pilihan, tapi keharusan,” ujarnya. Standard Chartered sudah melangkah lebih jauh dengan meluncurkan layanan seperti Online Mutual Fund dan Online Retail Bond, yang memungkinkan nasabah bertransaksi, membandingkan produk, dan memantau portofolio secara real-time.

Above "Digitalisasi bukan pilihan, tapi keharusan." (Foto: Unsplash/Maranda Van der Griff)
Namun, Parag menegaskan satu hal penting: teknologi tidak bisa menggantikan empati. “Mesin bisa punya data lengkap, tapi tidak memiliki empati. Personal touch tetap tidak tergantikan,” katanya mantap. “Hubungan dengan nasabah adalah hubungan kepercayaan, dan itu tidak bisa diotomatisasi.”
Maka pantaslah jika tahun ini, Standard Chartered meraih predikat Highly Commended – Best Wealth Manager dari The Asset Triple A Private Capital Awards 2025. Penghargaan ini memperlihatkan komitmen Standard Chartered untuk menghadirkan pengelolaan kekayaan yang terpersonalisasi dan berorientasi pada kebutuhan nasabah yang terus tumbuh. Bagi Parag, penghargaan tersebut bukan soal prestise. “Buat kami, itu pengingat bahwa kepercayaan nasabah harus dijaga. Semakin dipercaya, tanggung jawab kami semakin besar.”
Hubungan dengan nasabah adalah hubungan kepercayaan, dan itu tidak bisa diotomatisasi.
Legacy Dimulai Hari Ini
“Legacy planning itu harus dimulai sedini mungkin,” ujarnya di akhir percakapan. “Kalau terus bilang ‘besok saja’, selalu akan ada hal lain yang terasa lebih mendesak. Padahal, membangun warisan bukan untuk hari ini, tapi untuk generasi berikutnya.”
Ia menambahkan, keluarga yang ingin membangun warisan jangka panjang perlu menggandeng mitra dengan keahlian global dan pemahaman lokal. “Dunia semakin kompleks. Dibutuhkan panduan yang bisa membantu menavigasi perubahan, dari isu keberlanjutan hingga dinamika pasar global,” tuturnya.
Bagi Parag, pada akhirnya, warisan sejati tidak hanya diukur dari nilai aset, tetapi dari kemampuan kita menanamkan arah dan nilai yang jelas bagi generasi selanjutnya. “Kekayaan yang bertahan adalah yang punya tujuan,” ungkapnya menutup percakapan.




