Di tengah maraknya kecerdasan buatan yang kerap dipandang sebagai ancaman bagi profesi kreatif, desainer event asal Bali Emilia Tjongkono justru melihatnya sebagai rekan kerja yang membantu memperluas kemungkinan. Melalui Designmill Co, ia menunjukkan bagaimana teknologi dapat memperkuat kreativitas tanpa menghilangkan sentuhan manusia yang menjadi inti sebuah pengalaman
Ada satu hal yang selalu diyakini Emilia Tjongkono ketika merancang sebuah acara: orang mungkin akan melupakan detail atau susunan acara, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana sebuah pengalaman membuat mereka merasakan sesuatu.
Pandangan itu menjadi fondasi perjalanan kreatif Emilia selama hampir satu dekade terakhir. Berawal dari kecintaannya pada estetika visual, penataan ruang, dan dekorasi, ia membangun Designmill Co menjadi salah satu studio desain event yang paling dikenal di Bali. Dari perayaan pernikahan destinasi hingga pengalaman brand dan acara korporat berskala besar, setiap proyek dirancang dengan pendekatan yang berangkat dari cerita manusia.
Kini, ketika industri kreatif ramai membicarakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Emilia memilih untuk melihat teknologi dari sudut pandang yang berbeda. Alih-alih menganggapnya sebagai pengganti kreativitas, ia memanfaatkannya sebagai alat yang membantu proses eksplorasi ide menjadi lebih cepat dan terukur.

Above Ratusan pernikahan di Bali telah menjadi bagian dari portofolio Designmill Co. yang dibangun Emilia Tjongkono

Above Setiap proyek dirancang untuk merefleksikan karakter dan kisah unik dari setiap pasangan
“Teknologi dan AI memungkinkan kami mempercepat riset, pengembangan konsep, eksplorasi visual, hingga presentasi kreatif. Dengan begitu, tim memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada hal yang benar-benar penting: menciptakan pengalaman yang autentik dan bermakna bagi setiap klien,” ujar wanita lulusan Bachelor of Visual Communication di Australia dan Harvard Business ini mantap.

Above Emilia mulai belajar merangkai bunga secara otodidak dan menawarkan jasanya ke teman-temannya hingga akhirnya ia membentuk Designmill Co.
Di Designmill Co, teknologi digunakan dalam berbagai tahap proses kreatif, mulai dari membaca tren, menyusun moodboard, mengembangkan visual awal, hingga membantu koordinasi proyek. Namun bagi Emilia, keputusan kreatif tetap berpusat pada manusia. Teknologi hanya mempercepat perjalanan menuju ide yang lebih matang.
Filosofi itu juga terlihat dari perkembangan bisnisnya. Jika pada awalnya Designmill Co dikenal melalui desain pernikahan destinasi di Bali, kini studio tersebut telah memperluas cakupan layanan ke berbagai bidang. Mulai dari peluncuran produk, aktivasi brand, gala dinner, konferensi, program incentive, hingga proyek MICE yang melibatkan audiens dari berbagai negara.
Perluasan tersebut bukan sekadar strategi bisnis, melainkan respons terhadap kebutuhan pasar yang terus berkembang. Banyak brand kini membutuhkan partner kreatif yang mampu menerjemahkan tujuan bisnis menjadi pengalaman visual yang relevan dan mudah diingat.
Sepanjang perjalanannya, Emilia dan tim telah menangani ratusan proyek bagi klien domestik maupun internasional. Salah satu pengalaman yang memperkuat reputasi studio ini adalah keterlibatan dalam berbagai acara yang berkaitan dengan penyelenggaraan KTT G20 di Bali. Pengalaman tersebut semakin mengukuhkan kemampuannya dalam mengelola desain dan pengalaman visual pada berbagai skala acara.

Above Keterlibatan dalam berbagai forum internasional seperti KTT G20 di Bali menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan Designmill Co

Above Dari perayaan yang intim hingga forum global, Emilia Tjongkono percaya bahwa setiap ruang memiliki cerita yang layak untuk dihidupkan
Di balik berbagai pencapaian tersebut, Emilia juga mendorong praktik yang lebih bertanggung jawab dalam industri event. Ia menganjurkan penggunaan material yang dapat digunakan kembali, perencanaan produksi yang lebih cermat, serta kolaborasi dengan pengrajin dan pemasok lokal. Baginya, desain yang baik tidak hanya harus menarik secara visual, tetapi juga mempertimbangkan dampak jangka panjangnya.
Melihat ke depan, Emilia percaya masa depan industri event akan ditentukan oleh keseimbangan antara kreativitas, teknologi, dan empati. Teknologi akan terus berkembang, tetapi kemampuan memahami manusia tetap menjadi nilai yang tidak tergantikan.
Saat ini, orang tidak lagi hanya mencari dekorasi yang indah. Mereka menginginkan pengalaman yang mampu bercerita, menciptakan koneksi emosional, dan meninggalkan kesan yang bertahan lama
"Saat ini, orang tidak lagi hanya mencari dekorasi yang indah. Mereka menginginkan pengalaman yang mampu bercerita, menciptakan koneksi emosional, dan meninggalkan kesan yang bertahan lama. Teknologi membantu kami bekerja lebih cerdas dan efisien, tetapi kreativitas, empati, serta kemampuan memahami manusia akan selalu menjadi inti dari sebuah desain yang baik," ujar Emilia.




