Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Cover Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya

Dalam percakapan yang personal, Kris Dayanti membahas musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana—I love you—masih menjadi pusat semesta hidupnya

Di sela jadwal pemotretan yang padat bersama Tatler Indonesia, Kris Dayanti—atau akrab disapa Mimi oleh orang-orang terdekatnya—masih sempat memeriksa ponselnya. Sebuah panggilan masuk, diselingi tawa kecil dan perbincangan yang ringan. Bahkan di tengah set yang serba terkurasi, ada sesuatu yang tetap terasa sangat domestik tentang dirinya: seorang perempuan yang tetap memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Mungkin justru di situlah letak relevansi Krisdayanti hari ini.

Di industri hiburan Indonesia, sedikit figur yang berhasil menjaga resonansi lintas generasi seperti dirinya. Lebih dari tiga dekade sejak kemunculannya sebagai penyanyi muda berbakat, Kris Dayanti kini berada di fase yang jauh lebih kompleks, bukan lagi sekadar diva dengan katalog lagu romantis ikonis, tetapi juga seorang ibu, kakak, nenek, atlet wushu, produser independen, dan figur publik yang pernah duduk di parlemen.

Tatler Asia
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Above Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya

Kini, di tahun 2026, ia kembali dengan extended play terbarunya, sebuah proyek yang terasa personal sekaligus strategis: Love, Kris Dayanti. “Sudah lama saya tidak membuat extended play,” ujarnya kepada Tatler Indonesia. “Biasanya kan formatnya album penuh. Setelah konser Semesta bersama Erwin Gutawa Orchestra pada 2023, akhirnya tahun ini baru terealisasi.”

Tatler Asia
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Above Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Tatler Asia
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Above Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya

Yang menarik, sebagian materi dalam EP ini sesungguhnya bukan karya baru. Tiga lagu berbahasa Inggris—“Breathless”, “On The Way Up”, dan “Never Gonna Let You Go”—telah direkam sejak 2019 di Los Angeles, tepat sebelum pandemi mengubah ritme industri musik global. “Waktu itu saya sedang menjalani tugas di parlemen. Fokus saya bergeser total,” katanya. “Rasanya tidak tepat kalau saat itu langsung merilis proyek seperti ini.”

Alih-alih mengendap sebagai arsip, lagu-lagu tersebut kini lahir kembali melalui proses remastering dan mixing ulang dengan teknologi Dolby Atmos, memberikan dimensi audio yang bahkan jauh lebih imersif.

Tatler Asia
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Above Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya

Bahasa baru untuk generasi baru

Jika publik mengenal Kris Dayanti lewat balada megah seperti Mencintaimu atau Cobalah untuk Setia, maka Love, Krisdayanti menawarkan sesuatu yang berbeda. Ada nuansa pop kontemporer, produksi yang lebih streamlined, dan pendekatan visual yang jauh dari nuansa glamor khas diva Indonesia era 2000-an.

“Konsepnya memang lebih personal, seperti surat terbuka,” jelasnya. Judul EP ini sendiri lahir dari diskusi bersama sang adik dan tim kreatif yang membawa perspektif generasi lebih muda. Kris Dayanti mengakui bahwa ia banyak belajar dari cara milenial dan Gen Z memaknai kedekatan—lebih ringkas, lebih langsung, namun tidak kehilangan intensitas emosional.

Tatler Asia
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Above Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya

“Anak-anak muda sekarang mungkin tidak selalu mengekspresikan sesuatu dengan cara generasi saya dulu. Tapi mereka punya kedalaman berpikir yang berbeda.” Hal itu tercermin dalam video musiknya. Alih-alih menjadikan dirinya pusat visual seperti lazimnya seorang diva, Krisdayanti justru hanya muncul beberapa detik. “No flexing,” katanya sambil tertawa. “Saya ingin narasinya lebih relate.”

Pilihan ini bukan kebetulan. Di tengah lanskap distribusi musik yang kini sangat ditentukan oleh potongan konten pendek di TikTok dan algoritma digital, ia paham bahwa relevansi menuntut bahasa baru. Namun adaptasi, baginya, tidak berarti menurunkan standar. “Kita boleh mengikuti zaman, tapi kualitas tetap harus dijaga.”

Karena itu, produksi EP ini tetap melibatkan musisi live, orkestrasi organik, dan para kolaborator lama yang pernah membangun karya-karya ikonisnya. Untuk salah satu trek, ia bahkan kembali bekerja dengan personel orkestra yang dahulu terlibat dalam Mencintaimu. “Orangnya masih sama. Honorariumnya saja yang sekarang berbeda,” candanya.

Tatler Asia
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Above Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Tatler Asia
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Above Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya

Harga sebuah relevansi

Di era ketika lagu bisa direkam di kamar tidur dan viral dalam semalam, Kris Dayanti berbicara terbuka tentang realitas finansial di balik produksi musik berkualitas. “Membuat proyek seperti ini tidak murah,” katanya. Ia menyebut nilai produksi EP tersebut mencapai ratusan juta rupiah, belum termasuk biaya promosi dan distribusi.

Sebagai musisi independen melalui labelnya sendiri, Raya Music, tantangan terbesar bukan lagi sekadar menciptakan karya, melainkan memastikan karya itu menemukan pendengarnya. “Kita compete dengan generasi yang sangat native secara digital. Mereka punya cara promosi yang berbeda.”

Namun ia menolak memandang perubahan ini sebagai ancaman. “Bukan berarti musikalitas menurun. Selera hanya berkembang.” Yang ia cari adalah titik temu: bagaimana mempertahankan karakter Kris Dayanti sebagai seorang diva Indonesia tanpa terdengar terjebak nostalgia.

Tatler Asia
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Above Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya

Makna cinta yang semakin luas

Jika ada satu benang merah yang selalu hadir dalam perjalanan musikal Kris Dayanti, itu adalah cinta. Namun definisi cinta baginya hari ini jauh lebih luas daripada romantisme. “Sekarang saya melihat cinta dari banyak lapisan,” katanya. “Sebagai istri, ibu, nenek, sahabat, anak, adik.”

Pengalaman menjalani berbagai peran itu membuatnya memahami cinta sebagai praktik keseharian: mengabari saat tiba dengan selamat, mengangkat telepon dari orang tua, atau sekadar mengatakan I love you tanpa alasan besar.

“Tiga kata itu sederhana, tapi bisa mengubah suasana hati seseorang.” Baginya, ekspresi afeksi juga bagian dari kesehatan mental. Ia menyoroti bagaimana budaya perbandingan sosial yang diperkuat media digital sering membuat banyak orang merasa kurang.

“Kadang kita terlalu sibuk membandingkan diri sampai lupa menghargai yang sudah ada.” Di sinilah Love, Kris Dayanti menemukan maknanya: sebuah pengingat bahwa kasih sayang, kepada orang lain maupun diri sendiri, tetap relevan di tengah dunia yang semakin cepat.

Tatler Asia
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Above Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya

Disiplin seorang atlet

Di luar musik, transformasi paling menarik Kris Dayanti dalam beberapa tahun terakhir mungkin datang dari dunia yang sama sekali berbeda: wushu. Sejak 2021, ia berlatih secara serius dan telah mengikuti berbagai kompetisi di kategori veteran.

Bagi banyak orang, ini mungkin tampak seperti pencapaian sampingan. Namun bagi Kris Dayanti, wushu adalah latihan hidup. “Latihannya monoton. Gerakan yang sama, berulang-ulang, hanya untuk perform satu sampai dua menit.”

Ia bangun pukul lima pagi, berdoa, lalu berlatih. Rutinitas ini dijalaninya dengan konsistensi yang hampir asketis. “Orang hanya melihat hasilnya saat kompetisi. Mereka tidak melihat proses bangun subuh setiap hari.”

Wushu, katanya, mengajarkannya mindfulness dalam bentuk paling konkret. “Gerakannya harus presisi, tapi juga mengalir.” Ia tertarik pada aspek estetik seni bela diri tradisional Tiongkok ini—gerak yang kuat namun tetap indah.

Di balik motivasinya, ada alasan personal: pengalaman melihat ibundanya mengalami stroke di usia yang relatif muda. “Itu membuka mata saya. Kita harus bergerak.” Baginya, olahraga bukan lagi soal penampilan, melainkan investasi agar tetap mandiri di usia lanjut. “Salah satu doa saya setiap hari adalah dijauhkan dari kemalasan di masa tua.”

Tatler Asia
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Above Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya

Ambisi yang berubah bentuk

Setelah lebih dari 30 tahun berkarier, pertanyaan tentang ambisi menjadi menarik. Apakah ia masih mengejar validasi artistik? Atau kini lebih memilih ketenangan domestik? Jawabannya tidak hitam putih.

“Ambisi itu tetap ada,” katanya. “Tapi bentuknya berubah.”

Jika dulu ambisinya adalah menembus panggung lebih besar, kini ambisinya lebih subtil: menjaga kualitas hidup, konsistensi, dan legacy. Ia mengakui bahwa pencapaian paling kompleks bukan datang dari panggung atau medali, melainkan rumah tangga. “Peran sebagai istri dan ibu jauh lebih menantang daripada jadi artis atau atlet.”

Dengan keluarga besar yang terbentuk dari berbagai fase kehidupan, ia memahami bahwa menjaga keseimbangan emosi membutuhkan energi yang jauh lebih besar daripada tampil di atas panggung. “Menjaga perasaan semua orang, itu pekerjaan 24 jam.”

Ada kematangan dalam cara Kris Dayanti membicarakan relasi. Tidak romantis berlebihan, tidak pula sinis, tapi realistis. Ia tahu bahwa harmoni keluarga adalah sesuatu yang terus diupayakan, bukan sebuah kondisi yang permanen.

Tatler Asia
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Above Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya
Kris Dayanti bicara musik, keluarga, politik, olahraga, dan bagaimana tiga kata sederhana menjadi pusat semesta hidupnya

Indonesia dan optimisme yang dipilih

Sebagai figur yang juga terjun langsung ke dunia politik, Kris Dayanti juga memandang seni dalam konteks kebangsaan. Ia percaya musik memiliki peran strategis dalam memperkuat identitas Indonesia di tengah kompetisi budaya global. “Pasar kita besar. Potensi kita besar.”

Ia berbicara tentang gotong royong, kekayaan budaya, dan pentingnya optimisme kolektif. Meski mengakui berbagai tantangan struktural, ia memilih untuk melihat Indonesia sebagai tanah yang kaya kemungkinan. “Kita tidak boleh kehilangan keyakinan pada negara sendiri.”

Pandangan ini terasa konsisten dengan seluruh narasi hidupnya: bahwa disiplin, kerja keras, dan rasa syukur tetap menjadi fondasi.

Di akhir percakapan, saya bertanya: jika ia bisa menulis surat untuk dirinya yang lebih muda, apa yang akan ia katakan? Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Saya akan bilang: I love you.”

Bukan nasihat tentang karier, ketenaran, atau strategi hidup. Hanya tiga kata sederhana.

Mungkin karena pada akhirnya, setelah semua panggung, penghargaan, dinamika keluarga, disiplin atletik, dan transformasi personal, Kris Dayanti sampai pada satu kesimpulan paling mendasar: bahwa cinta—dalam bentuk paling sederhana—tetap menjadi energi yang menggerakkan segalanya.

Dan di usia ketika banyak ikon memilih bertahan pada kejayaan masa lalu, Kris Dayanti justru menunjukkan sesuatu yang lebih menarik: keberanian untuk terus berevolusi. Bukan dengan meninggalkan siapa dirinya, melainkan dengan menulis ulang definisinya.

Dengan Love, Kris Dayanti, ia tidak sedang mencoba menjadi relevan. Kris Dayanti sedang membuktikan bahwa relevansi sejati lahir dari kesediaan untuk terus bertumbuh.


BACA JUGA:

Wisdom of the Body: Maudy Ayunda tentang Melepas Kontrol dan Menemukan Kebebasan

Reza Rahadian: Perjalanan 20 tahun dan langkah baru sebagai sutradara

Andra Matin dan seni melihat yang sederhana

Credits

Asisten Editor: Judithya Pitana
Fotografi: Nicoline Patricia Malina
Arahan kreatif: Hans Hambali
Pengarah gaya: Hans Hambali
Riasan: Dean Sadudin
Rambut: Anda Arussa
Pakaian: Maison Met, Dibba Official, Rinaly Yunardi
Produksi: Rizky Aditya

Topics