Siap Berlibur di Luar Angkasa.
Sejak pertama kali manusia mendarat di bulan, eksplorasi sains terhadap luar angkasa tak pernah ada habisnya. Bahkan beberapa tahun lalu, kita dikejutkan dengan harapan kemungkinan planet Mars dapat dihidupi manusia. Terlebih setelah penemuan air di planet tersebut. Lambat laun, perkembangan ini tak hanya untuk kebutuhan sains, tetapi juga dieksplorasi untuk kebutuhan liburan. Berturut-turut beragam ide tentang luar angkasa yang semula dianggap liar dan aneh, terasa menjadi lebih wajar. Misalnya seperti penawaran paket perjalanan ke bulan seharga Rp133 juta yang ditawarkan oleh Moon Express. Bukan hal yang mustahil pula jika sebuah hotel dibangun di luar angkasa.
Ide brilian ini pertama kali tercetus dari CEO Hilton dan Presiden William Barron Hilton yang melihat potensi besar tersebut. Hilton mengungkapkan di sebuah konferensi American Astronautical Society pada 1967 silam, bahwa ia berharap bisa membangun hotel pertama di luar angkasa. Awalnya, ide ini terdengar seperti bualan semata. Namun, beberapa orang yang mendengar ucapan Hilton beranggapan ini seperti inovasi cemerlang, sebagai bagian dari pariwisata baru.
Baca lagi: Gapai tepian angkasa dengan trip balon udara seharga $133,000
Saat ini sudah ada beberapa perusahaan yang aktif dalam mengembangkan konsep hotel luar angkasa. Seperti Axiom Space - yang direncanakan terhubung dengan ISS dan dapat menampung hingga empat orang dalam satu kali misi, Orbital Assembly Corporation - dengan proyek The Voyager Station dan diharapkan menampung hingga 280 tamu. Selain itu, Elon Musk melalui SpaceX juga tertarik meluncurkan seri hotel luar angkasa bernama Crew Dragon, sementara Jeff Bezos melalui Blue Origin juga ikut tertarik mengembangkan ini.
Berikut informasi lebih dalam tentang hotel luar angkasa.
Bisnis menjanjikan di masa depan

Above Axiom Space Foto: Architectural Digest.

Above The Pioneer Station Foto: Architectural Digest.
Melihat tren di masa kini, membangun hotel di luar planet bumi adalah bisnis menjanjikan di masa depan. Mark Young, salah satu sejarawan hotel dan arkeolog di Universitas Houston, mengungkapkan bahwa banyak orang berminat untuk melakukan perjalanan luar angkasa.
Jika pembicaraan mengenai hotel luar angkasa terjadi 10 tahun lalu, maka hal itu terdengar mustahil. Namun, perkembangan teknologi membuat beberapa perusahaan di berbagai negara Eropa bersaing untuk membangun hotel luar angkasa. Bahkan, pengembangan hotel luar angkasa ini telah dimulai sejak awal 2010-an.
Selain menjanjikan dari segi bisnis, membangun hotel luar angkasa juga membutuhkan pendanaan yang besar dan NASA adalah salah satu lembaga yang fokus membangun ekosistem di luar planet Bumi.
Menjadi alternatif destinasi liburan menakjubkan

Above Pemandangan luar angkasa dari Space Hotel Foto: Big Think.

Above Interior Space Hotel tetap mengutamakan kemewahan dan kenyamanan Foto: Architectural Digest.
Dalam hitungan tahun, hotel luar angkasa bisa menjadi salah satu destinasi liburan menakjubkan buat kamu yang rela merogoh kocek lebih dalam. Untuk mewujudkan hal itu, Hilton melakukan diskusi terkait desain kenyamanan hotel di luar angkasa. Komponen material bumi dengan luar angkasa berbeda jauh. Oleh karena itu, ia berupaya mengkondisikan agar mereka mendapat kenyamanan dan leluasa di lingkungan nol gravitasi, salah satunya dengan membuat gravitasi buatan. Hilton tidak mau orang yang membayar mahal untuk menikmati pengalaman menginap di hotel luar angkasa sama seperti orang yang membayar untuk menginap di perkemahan.
Akankah ada masalah baru terkait pariwisata luar angkasa?

Above Pemandangan sunset di Samudera Pasifik dari luar angkasa Foto: NASA.
Tidak ada yang salah dengan inovasi, termasuk mengembangkan liburan ke luar angkasa. Tetapi, meningkatnya pariwisata luar angkasa membawa banyak masalah lain seperti keselamatan penumpang atau dampak iklim. Meski mengetahui masalah yang terjadi, tetap saja banyak perusahaan rintisan milik kaum miliarder yang membangun teknologi di luar angkasa seperti stasiun ruang angkasa, peluncuran roket, hingga hotel.
Berdasarkan penelitian 2022, para Ilmuwan dari UCL, MIT, dan Universitas Cambridge menemukan bahwa partikel yang dipancarkan roket dapat memperburuk keadaan iklim. Sebab itu, membangun hotel luar angkasa atau menjadikan Mars sebagai ‘rumah’ kedua memerlukan banyak penelitian lebih mendalam agar bisa terwujud tanpa memberikan efek buruk bagi Bumi.




