Cat lovers, these destinations are purr-fect for you. (Photo: Roberto Jr Saldana / Unsplash)
Cover Para pecinta kucing, destinasi-destinasi ini sangat cocok untuk Anda (Foto: Roberto Jr Saldana/Unsplash)
Cat lovers, these destinations are purr-fect for you. (Photo: Roberto Jr Saldana / Unsplash)

Destinasi-destinasi untuk pencinta kucing ini mengungkapkan sesuatu yang tak terduga: kota-kota tempat hewan bukan hanya menjadi objek wisata, tetapi juga bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa kota mengiklankan kehidupan malam, kuliner, atau belanja. Tetapi tempat lain? Mereka lebih suka mengungkapkan diri melalui kumis, jejak kaki, dan sejumlah besar penduduk lokal yang tampaknya memahami bahwa kucing bukanlah sekadar hewan peliharaan, melainkan pemangku kepentingan masyarakat. Di seluruh Asia, kucing telah menjadi maskot tidak resmi, simbol spiritual, pengendali hama, dan, terkadang—secara harfiah—duta pariwisata. Destinasi-destinasi ini tidak menampilkan kasih sayang terhadap kucing untuk Instagram; mereka tumbuh di sekitarnya. Yang muncul adalah peta perjalanan yang dibentuk bukan hanya oleh kafe kucing, tetapi oleh sejarah, geografi, dan komunitas yang telah lama belajar bagaimana hidup berdampingan dengan makhluk yang menolak kepemilikan.

Temukan tempat-tempat di mana budaya kucing terasa organik, tertanam, dan sangat menggambarkan bagaimana suatu tempat berfungsi. Para pecinta kucing, apakah kalian siap?

Jangan lewatkan: 8 Aplikasi yang tak disadari dibutuhkan oleh pemilik kucing

1. Tashirojima, Jepang

Hanya dengan naik feri singkat dari Prefektur Miyagi, Jepang, Tashirojima telah menjadi julukan singkat untuk "pulau kucing", meskipun kenyataannya lebih praktis dan tenang daripada sekadar khayalan. Secara historis, kucing dipelihara untuk melindungi perkebunan sutra dari tikus, dan seiring waktu, populasi manusia menyusut sementara kucing tetap ada.

Saat ini, penginapan dan kuil berbentuk kucing berdampingan dengan dermaga perikanan yang aktif dan penduduk lanjut usia yang menganggap kucing sebagai bagian dari infrastruktur sehari-hari daripada sekadar hal baru. Ritme pulau ini—lambat, pasang surut, dan tenang—cocok untuk hewan yang lebih menyukai pengamatan daripada kepatuhan. Pecinta kucing yang berkunjung akan segera menyadari bahwa di sini, kucing tidak dipelihara atau dibujuk; mereka hanya ada apa adanya.

Baca juga: Di sebuah pulau terpencil di Jepang, 'Missing Post Office' mengumpulkan pesan-pesan tentang kesedihan dan harapan

2. Desa Kucing Houtong, Taiwan

Houtong dulunya merupakan pusat pertambangan batu bara yang terhubung dengan jalur kereta api ke Taipei, dengan pasang surutnya seiring dengan permintaan industri. Ketika tambang ditutup, kucing-kucing muncul, diikuti oleh fotografer, sukarelawan, dan akhirnya upaya pelestarian skala penuh. Saat ini, desa tersebut menyeimbangkan infrastruktur untuk pengunjung—jembatan kucing, mural, museum kecil—dengan program perawatan tulus yang dijalankan oleh penduduk setempat. Kucing-kucing tersebut sehat, dipantau, dan secara nyata terintegrasi ke dalam kehidupan komunitas, bukan dipisahkan darinya. Ini adalah studi kasus tentang bagaimana pengelolaan hewan dapat menghidupkan kembali suatu tempat tanpa menghapus masa lalunya.

3. Kota Tokoname, Jepang

Terkenal karena warisan keramiknya, hubungan Tokoname dengan kucing memang halus namun tetap ada. Di sepanjang "Jalur Pejalan Kaki Keramik" bersejarahnya, pengunjung akan menjumpai patung-patung maneki-neko keramik yang terletak di samping tungku pembakaran dan lorong-lorong, banyak diantaranya dibuat oleh pengrajin lokal dan bukan suvenir produksi massal. Kucing-kucing asli muncul secara bertahap, bersantai di dekat bengkel atau menjelajahi lorong-lorong sempit dengan percaya diri layaknya penduduk lama. Di sini, kucing berfungsi sebagai simbol dan kehadiran. Mereka mencerminkan penghormatan kota terhadap keahlian, kesabaran, dan keberlanjutan. Pecinta kucing di sini dapat menikmati ketenangan dan suara dengkuran mereka.

Lihat selengkapnya: Uji, Nara, dan lainnya: 7 perjalanan singkat dekat Kota Osaka yang layak Anda kunjungi

4. Houtan dan 'Pulau Kucing Kota', Shanghai, Tiongkok

Shanghai bukanlah tempat yang biasanya diasosiasikan dengan hewan yang berkeliaran bebas, yang membuat "zona kucing" semi-formalnya menjadi sangat mencolok. Di area tepi laut yang dire개발 seperti Taman Houtan dan kawasan perumahan yang dijuluki "Pulau Kucing Kota", para pengurus lokal mengelola koloni kucing dengan cermat—jadwal pemberian makan, rotasi dokter hewan, dan tempat berlindung tersembunyi yang dibangun di tengah lanskap perkotaan. Kucing-kucing ini hidup berdampingan dengan para pecinta kucing, tetapi juga para pelari, pesepeda, dan pekerja kantoran tanpa menarik perhatian.

Baca juga: Jejak Wong Kar-wai di restoran pertama Prada di Asia

5. Candi-candi dan kawasan tepi sungai di Phnom Penh, Kamboja

Di Phnom Penh, kucing cenderung muncul di tempat-tempat transisi: halaman kuil, tepi sungai, bangunan kolonial tua yang perlahan beradaptasi dengan penggunaan modern. Mereka ditoleransi, kadang-kadang diberi makan, jarang dimanjakan. Koeksistensi yang sederhana ini mencerminkan ritme budaya yang lebih luas—hewan menempati ruang tanpa menuntut narasi. Bagi para pencinta kucing yang sedang bepergian, pengalaman ini lebih bersifat observasional daripada interaktif, menawarkan wawasan tentang bagaimana kota-kota di Asia Tenggara mengintegrasikan hewan tanpa kerangka kerja kelembagaan atau kemasan wisata.

6. Aoshima, Jepang

Aoshima, di Prefektur Ehime, menawarkan suasana pedesaan yang lebih mirip dengan Tashirojima, dengan jumlah kucing yang jauh lebih banyak daripada manusia. Awalnya dibawa untuk mengendalikan tikus, kucing-kucing tersebut kini berkeliaran bebas di sawah, jalan-jalan perumahan, dan jalan setapak di tepi dermaga. Tidak ada infrastruktur kucing formal di sini; memang tidak perlu. Hewan-hewan tersebut menyatu dengan irama desa, sudut-sudut yang mudah terlewatkan, dan pagi yang tenang. Para pelancong datang dengan kamera tetapi pergi dengan sesuatu yang kurang terduga: sekilas pandangan alami tentang kehidupan berdampingan.

7. Samut Songkhram, Thailand

Di provinsi Samut Songkhram, Thailand, inisiatif konservasi telah menarik perhatian pada kesejahteraan kucing, khususnya melalui pusat-pusat pelestarian lokal yang mendokumentasikan dan merawat kucing liar dan kucing komunitas. Thailand, secara umum, memiliki kecintaan budaya yang sudah lama terhadap kucing; kehadiran mereka di kuil, pasar, dan rumah adalah hal yang umum dan dinormalisasi. Tidak seperti pengalaman kafe kucing yang dikemas, upaya Samut Songkhram mencerminkan kolaborasi akar rumput antara pemerintah kota, para pembela hak hewan, dan penduduk. Kucing-kucing di sini bukanlah atraksi, tetapi bagian dari etika kasih sayang dan hidup berdampingan yang lebih luas.

8. Istanbul, Turki

Di sisi Asia Istanbul—khususnya di Kadıköy dan Üsküdar—kucing tidak hanya ditoleransi; mereka terintegrasi ke dalam infrastruktur sosial sehari-hari. Penduduk setempat secara rutin menyediakan makanan, air, dan tempat berlindung di ruang publik: di dekat kafe, kios pasar, taman, dan bahkan dermaga feri. Kucing-kucing di Istanbul bukanlah hewan peliharaan yang dipelihara di rumah, melainkan kucing komunitas dengan status yang jelas: pejalan kaki menghindari mereka dengan penuh pertimbangan, barista meletakkan mangkuk di depan pintu, dan para komuter menyapa kucing-kucing yang mereka kenal dalam perjalanan ke tempat kerja.

Ini bukanlah keramahan yang dibuat-buat, melainkan kontrak sosial tersirat: pemahaman bahwa hewan-hewan ini, seperti arus Bosporus, merupakan bagian dari kota yang ditinggali. Ini adalah model yang kontras dengan budaya hewan peliharaan Barat justru karena tanggung jawab di sini bersifat komunal dan tidak diatur.

9. Kuching, Malaysia

Jika Asia memiliki ibu kota budaya kucing sehari-hari, Kuching adalah kandidat yang kuat. Namanya secara harfiah berarti "kucing", dan kecintaan itu terlihat di mana-mana: patung kucing perunggu yang menghiasi bundaran, motif kucing di sepanjang tepi laut, dan Museum Kucing khusus yang memperlakukan obsesi lokal dengan keseriusan antropologis daripada sekadar kekitsch-an.

Yang membedakan Kuching dari "pulau kucing" yang hanya sekadar hiburan adalah skala dan kenormalannya. Kucing-kucing bergerak bebas di pasar, kafe, dan jalan-jalan perumahan, didukung oleh para pengasuh informal di komunitas dan upaya sterilisasi yang terorganisir, bukan karena kelebihan populasi akibat ulah wisatawan. Mereka santai, mudah bergaul, dan sebagian besar terintegrasi ke dalam kehidupan kota sehari-hari—bukan maskot, melainkan tetangga. Bagi para pelancong, pesonanya terletak pada kesederhanaan itu: sebuah kota di mana kucing bukanlah sekadar tontonan atau hal yang diabaikan, tetapi dengan tenang dan percaya diri merasa nyaman di rumah.

Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris oleh Sasha Mariposa dan diterbitkan pada 20 Februari 2026. Read the original story here. 

 

Topics

Eve Tedja
Travel & Dining Editor, Tatler Indonesia
Tatler Asia

Since embarking on her career as a food journalist in 2012, she has penned hundreds of articles delving into culinary trends, chef profiles, and gastronomic destinations across Asia. Born and raised in Bali, Eve is dividing her time between Bali and Jakarta.