Sebuah gelombang baru hadir dalam industri teater musikal Indonesia. Hal ini justru tampak menjanjikan bagi para kaum muda Nusantara.

Sejak lama, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka, negeri ini telah dipenuhi oleh keberkahan atas seniman-seniman berbakat yang memberi andil lebih dalam perkembangan seni Nusantara. Mereka menuturkan kisah lewat musik dan juga gerak tari yang menjadikan masyarakat kepulauan pada masa itu berbudaya. Mulai dari Wayang Kulit hingga Sendratari Ramayana di Pulau Jawa, tari Kecak di Bali, hingga deret lantun lagu dan tarian di Pulau Sumatera, semua berkembang dari waktu ke waktu bahkan sampai masa penjajahan berlalu. Mereka berkembang sejalan dengan sejarah dan menjadikannya seni global yang masih bisa disaksikan di teater-teater dalam negeri sampai hari ini. Kian progresif dan eksperimental. Tak heran jika pertujukan seni di Indonesia kini semakin menarik karena tak henti-hentinya para seniman mengulik hal baru untuk ditampilkan agar tak membosankan dan selalu tampak modern meski berbasis seni tradisional. Yes, traditional arts with a twist!


Baca lagi: “Sudamala: Dari Epilog Calonarang”

Tatler Asia
Above Industri teater musikal kian diminati anak muda. Foto: Dok Jakarta Movin

Saat ini, gelombang baru pun hadir dalam industri yang dimaksud. Generasi yang tentu lebih muda dari pendahulunya tengah coba mengubah arah dan menjadikan pentas seni dalam negeri lebih terbarukan dan punya poros serta horizon baru yang dirasa lebih menjanjikan di masa depan. Mengadaptasi gaya Broadway ala Amerika dan West End ala Inggris, teater lokal pun nyatanya mengalami peningkatan signifikan baik dalam hal jumlah penonton maupun pengakuan internasional. Mulai dari pertunjukan teater sekolah hingga skala professional, seluruh seniman dari range usia yang berbeda dinilai berhasil dalam mencetak kesuksesan mereka dalam industri yang dapat dieksplorasi lagi kemudian hari.


Mungkin kamu familiar (atau bahkan pernah menonton) pertunjukan Musikal Laskar Pelangi pada tahun 2010 dan 2011 yang merupakan salah satu pentas bersejarah yang dinilai berhasil mendorong transformasi skena teater musikal di Indonesia. Diangkat dari novel dan film karya Andrea Hirata yang sudah lebih dulu sukses besar, Musikal Laskar Pelangi ini meningkatkan begitu banyak daya tarik publik sehingga pada akhirnya, pentas ini dilakukan selama satu bulan penuh dan jadi salah satu produksi musikal terlama yang pernah ada di Indonesia.


Baca lagi: Perjalanan Paduan Suara Armonia

Tatler Asia
Above Merasakan pengalaman nonton teater musikal seperti di Broadway. Foto: Dok Jakarta Movin

Melihat hal ini, kesuksesan Musikal Laskar Pelangi pada akhirnya menginspirasi dari Nurul “Nuya” Susantono dan Farras Safira yang pada saat itu masih berusia 21 tahun (Nurul) dan 19 tahun (Farras) untuk membuat komunitas teater musikal yang berfokus di anak muda pada tahun 2013, bernama Jakarta Movement of Inspiration atau juga yang dikenal dengan sebutan Jakarta Movin. Berangkat dari semangat yang menggebu-gebu dalam memberdayakan anak muda, Jakarta Movin hadir layaknya napas segar bagi industri teater di Indonesia yang pada saat itu masih didominasi oleh generasi lama.


Setelah sukses membuat produksi skala kecil, teman semasa SMA ini akhirnya coba melakukan brainstorm untuk memberanikan diri melakukan eksekusi pada gelaran yang lebih besar lagi. Akhirnya pada tahun 2017, mereka membuat show besar-besaran pertama mereka yang diadaptasi dari film Indonesia klasik, Petualangan Sherina. Meski menerima banyak permintaan dan ekpektasi sangat tinggi dari publik, mereka tetap melakukan audisi pada generasi muda dan talenta baru melalui online audition untuk kategori non-profesional yang tentu akan mereka latih dan edukasi sebelum naik ke atas panggung.


Baca lagi: 6 Film Karya Sutradara Perempuan di Tahun 2022

Tatler Asia
Above Teater musikal Petualangan Sherina yang sukses besar. Foto: Dok Jakarta Movin

Pertunjukan pertama Petualangan Sherina pun sukses besar! Tiket terjual habis dalam waktu singkat dan pembelinya pun tak hanya para penikmat teater tapi juga masyarakat umum yang tak disangka-sangka punya excitement yang sama. Terakhir, bahkan produksi terbaru mereka yaitu Cek Toko Sebelah juga membuahkan hasil yang sama. Energi yang terbangun begitu serupa dengan yang apa yang dihasilkan dalam Petualangan Sherina. “Adaptasi film Indonesia sampai saat ini memang masih jarang dieksekusi oleh rumah produksi lain. Oleh sebab itu, kami selalu punya celah bagus untuk bisa ‘bermain’ di situ”, ungkap Nuya.


Dengan membuat adaptasi film yang sudah banyak penggemarnya, Jakarta Movin bermaksud mengundang publik yang masih belum terbiasa dengan dunia teater musikal untuk bisa bergembira dan berpengalaman menonton play di sebuah panggung besar layaknya di Broadway atau West End. Dengan begitu, harapannya adalah agar semakin banyak orang Indonesia mencintai teater bahkan sampai menjadi theatregoers atau berkeinginan menjadi aktor. “Jujur, kami adalah penikmat budaya pop. Oleh karena itu, kami selalu berusaha untuk memahami apa yang ingin ditonton oleh orang-orang seperti kami agar nantinya bisa menembus pasar yang lebih luas”. Tambah Farras kemudian.


Di samping itu, melalui jalur yang berbeda, Teater Musikal Nusantara yang dikenal dengan nama TEMAN Musicals, telah berhasil pula dalam mengguncang panggung teater Nasional yang diisi oleh 100% talenta lokal dari RENT Jonathan Larson pada bulan November lalu. Didirikan oleh Chriskevin Adefrid, Ivan Tangkulung, dan Venytha Yoshiantini, TEMAN didirikan untuk mengimplementasikan standar internasional dalam teater Indonesia dan membuktikan bahwa talenta lokal juga dapat menghasilkan pertunjukan setingkat Broadway. Hingga saat ini, TEMAN telah membuat tiga adaptasi pertunjukan Broadway yang sukses sejak didirikan pada tahun 2018.


Baca lagi: The Big Name behind The Big 4: Timo Tjahjanto

Tatler Asia
Above Adaptasi teater musikal "Hairspray". Foto: Dok. TEMAN

Dari sini, nampaknya sudah bisa kita lihat bahwa teater musikal Indonesia telah berhasil mengalami evolusi yang signifikan dalam beberapa tahun belakangan. Namun perlu diakui, kita juga belum bisa terlalu berbangga karena memang perkembangannya masih berada pada tahap pertumbuhan yang sangat awal sehingga usianya pun masih teramat muda. Menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan dalam beberapa tahun ke depan tentu akan jadi PR menantang yang tak bisa dilakukan hanya oleh satu orang saja. “Kerja keras ini sifatnya sangat komunal. Satu kali saja seorang theatre newbie menonton hasil produksi yang jelek dalam kali pertamanya hadir di pertunjukan teater musikal, maka hal itu akan membawanya pada persepsi buruk pada indsutri secara keseluruhan. Dampaknya cepat dan tak diinginkan.” jelas Chris melanjuti perbincangan. That’s why, menambahkan sinergi yang tepat pada tiap pemain dalam industri ini sangatlah esenssial untuk menjaga kestabilan sistem.


Akhirnya, Chris, Nuya, dan Farras adalah tiga persona muda yang coba memimpin dan mengarahkan industri teater musikal di Indonesia agar punya masa depan yang lebih cerah dan bisa keluar dari dominasi para pelaku sebelumnya. Lewat kreativitas dan determinasi mereka, kini semakin banyak bermunculan platform yang mendukung sejumlah aktor dan aktris muda untuk berkembang, bersinar, dan hidup dari apa yang mereka suka dan lakukan (baca: teater). Perjuangan tentu takkan berhenti di sini. Apa yang kita lihat sekarang hanyalah sebuah kilas pandang mengenai hal lebih besar yang akan menghampiri di kemudian hari. Ya, tentu saja dalam konteks masa depan teater musikal Indonesia.


Baca artikel selengkapnya dalam Tatler Indonesia edisi Maret 2023.


Baca lagi:

Know the Power of Women Through These Documentaries

Art Fairs You May Not Want to Miss

7 Sorotan dari Lelang Seni Pertama Sotheby di Singapura

Topics