Kisah teater yang mendefinisikan Bali melalui warisan budaya

tmb.jpeg

Ketika berbicara tentang Bali, maka akan banyak orang yang langsung mengingat tentang pantai dan pemandangan di sana. Bali selalu menjadi tempat yang mengingatkan kita akan budayanya yang kaya dan cara masyarakatnya dalam melestarikan budaya selama berabad-abad.

Melalui produksi yang ke-59, Yayasan Titimangsa mempersembahkan “Sudamala: Dari Epilog Calonarang”, yang mengeksplorasi beragamnya budaya dan cerita rakyat tradisional dari Pulau Dewata. Diproduksi oleh aktor dan aktris berbakat dan terkemuka, yaitu Happy Salma dan Nicholas Saputra. Produksi ini memiliki detail yang sangat baik pada naskah, kostum, topeng, dan musik. 

pic1.jpg

Semua itu dikerjakan maksimal demi dapat 'menteleportasikan' pengunjung langsung ke Bali, melalui pertunjukan yang menakjubkan. Produksi telah berlangsung pada tanggal 10–11 September di Gedung Arsip Nasional RI. Para produser juga membagikan detail, makna, dan cerita menarik dari produksi “Sudamala: Dari Epilog Calonarang” melalui wawancara eksklusif dengan Tatler Indonesia yang dapat kamu saksikan di YouTube.

pic2.jpeg

“Untuk membawa tradisi dari Bali dan berbagi pengalaman dengan penonton di Jakarta tidak mudah. Kami ingin membawa seni pertunjukan tradisional melalui pandangan dan bahasa yang universal,” kata Happy Salma. Seperti Happy, Nico juga menemukan bahwa Sudamala Calonarang kaya akan sejarah dan fleksibel untuk beradaptasi. “Semuanya berawal ketika saya melihat penampilan panggung yang diproduseri oleh Happy. Saya kemudian punya ide gila untuk membawa pertunjukan budaya ke Jakarta. Alam semesta tampak selaras, kami kemudian bertemu Cok Bayu, dan dia menunjukkan kepada saya pertunjukan Calonarang pada tahun 1931 dan berpikir bahwa ini adalah cerita yang fleksibel untuk diadaptasi dan dapat dibeli di atas panggung ke Jakarta, ”kata aktor itu.

pic4.jpeg

“Sudamala: Dari Epilog Calonarang” menceritakan kisah Walu Nateng Dirah, yaitu seorang wanita dengan kekuatan luar biasa yang menguasai ilmu hitam hingga membuat semua orang tidak nyaman dengan kehadirannya-termasuk Raja yang memerintah, Airlangga. Ketakutan yang ia tanamkan juga menjadi satu-satunya alasan putri cantiknya, Ratna Manggali tidak bisa menjalin hubungan serius dengan pria mana pun.

Walu merasa kecewa ketika putrinya dikhianati dalam pernikahannya oleh suaminya sendiri, yaitu Mpu Bahula. Bahula mencuri peninggalan kuno Walu dan memberikannya kepada Mpu Baradha, yang menciptakan perang besar di antara keduanya. Walu kemudian memutuskan untuk menyebarkan wabah.

Tidak hanya menampilkan alur cerita yang seru dan nilai-nilai tradisional yang berusaha disampaikan, “Sudamala: Dari Epilog Calonarang” menjadi penampilan panggung pertama yang membawa 90 seniman dari Bali ke Jakarta dan menjadi pertunjukan Titimangsa pertama yang pernah dibawakan ke Jakarta.

Menampilkan gerakan tari dan pertunjukan panggung yang apik dengan gaya neo-klasik, Sudamala mengangkat nilai-nilai tradisional Bali, seperti pemurnian diri dan alam, yang menjadi fokus utama pada cerita Calonarang. Tidak hanya menampilkan budaya dan tradisi Bali tetapi produksi ini merupakan bentuk interpretasi dari kolaborasi dengan seniman di luar Bali untuk memberikan perspektif dari orang-orang yang tidak tinggal di pulau Dewata itu.